Anak itu Hak Allah

Mbak Liza 2

Tak pernah terpikir olehku, bahwa doa yang kerap kulantunkan begitu gencar akhir-akhir ini akan dijawab Allah Swt dengan cepat. Dalam doaku, aku memohon agar Allah Yang Maha Kaya memberikan keluasan rezeki pada kami sekeluarga dengan rezeki yang halal, berkah dan banyak.

Akan tetapi Allah Swt sungguh tak terduga. Tak lama berselang, aku mulai merasakan datangnya rezeki yang tak terduga itu. Rezeki yang membuatku merasa panik, sekaligus cemas. Karena rezeki kali ini datang dalam wujud tanda-tanda kehamilan. Sebuah rezeki tak terduga dan, sungguh, tak kuharapkan, pada mulanya.
Sulit bagiku untuk menerima kenyataan ini, bahwa diusiaku yang tak lagi muda, aku harus menjalani kehamilan lagi. Ya, aku hamil lagi. Di saat putri sulungku sedang mencecap bangku kuliah, dan adik-adiknya butuh biaya besar untuk melanjutkan sekolah. Sementara satu-satunya sumber penghasilan rutin hanya mengandalkan suamiku yang berprofesi sebagai tenaga pengajar di sekolah swasta.

Seperti kehamilan yang sebelumnya, kali ini pun aku mengalami morning sickness yang melelahkan. Nyaris tak ada aktivitas yang bisa kulakukan selain tidur dan tidur. Aku tidak bisa memasak dan membersihkan rumah seperti biasa. Aku tidak bisa membaca, menulis dan melakukan berbagai kegiatan yang menyenangkan lainnya.
Aku bahkan tidak bisa memeluk anak-anakku yang masih memerlukan pelukan. Kondisi fisik yang lemah karena kurangnya asupan makanan, juga sensitivitas hidung yang berlebihan membuatku menjadi sosok paling tak berguna dan menyebalkan sepanjang trisemester pertama kehamilanku.

Kehamilan ini juga membuatku menarik diri dari pergaulan. Baik interaksi di dunia nyata maupun di dunia maya. Aku enggan menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan yang kerap terkesan menuduh dan memojokkan. Alih-alih memberi suport yang lebih kubutuhkan, kebanyakan orang terpicu hanya untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan nyinyir yang membuatku tertekan.

Sungguh tak mudah menjalani kehamilan kali ini. Dengan kondisi seperti ini, suport dari teman-teman dekat terasa bagaikan oase bagiku. Mereka tidak hanya menguatkan, namun juga menumbuhkan keyakinan bagiku.
“Anak itu hak Allah,” ujar seorang teman.
Aku terdiam sejenak. Di tengah pergulatan batin antara penolakan dan penerimaan serta rasa cemas akan masa depan anak-anakku, aku seolah ingatkan kembali. Bahwa aku hanyalah seorang hamba yang harus menerima takdir yang ditetapkan atas hidupku. Teringat juga, betapa banyak calon ibu lain yang mendamba anak dan mengusahakan hingga menghabiskan dana yang tak sedikit.
Anak adalah hak Allah. Dzat yang memberikan kehidupan dan rezeki. Atas dasar apa aku merasa berhak menolak kehadiran anak yang tengah kukandung? Bukankah rezekinya sudah ditanggung oleh Dzat Yang Maha Kaya?

*

“Wah, sudah besar ya, Bu?” Dokter kandungan yang cantik itu pun tersenyum lembut seraya menggerakkan jemarinya mengatur posisi tampilan terbaik di layar monitor. Nanar mataku menatap gambaran janin yang tampak sudah terbentuk dengan baik.
“Sehatkah ia, Dok? Dibanding kakak-kakaknya, sepertinya kali ini agak lemah.”
“Sehat, baik. Agak lemah karena faktor usia ibu dan sudah kehamilan ke-7. Kita dengar detak jantungnya ya…”
Dokter memutar sebuah tombol. Seketika itu pula aku mendengar detak jantung yang terasa begitu merdu di telingaku. Keharuan sontak melingkupi hatiku. Maafkan, ibumu, Nak, bisikku pelan. Ibu akan belajar mencintaimu, sebagai anugerah ke tujuh. Karena kau pun berhak dicintai seperti yang lainnya.