Dalam Bulatan Kenangan

donatku

Jika burung-burung bisa bercerita.
Han memandangi piring di depannya. Ada sepuluh donat di sana. Ranti yang membelinya. Sepuluh donat seharga dua ribuan.
“Yang ini lebih empuk dari yang kemarin.”

Yang ini lebih empuk dari yang kemarin, yang itu lebih gurih dari yang kemarin dulu, dan buatan tukang kue sana lebih enak dari tukang kue sini.
Burung-burung kenari jantan berkicau. Tapi si betina nampaknya tidak tertarik pada kicauan si jantan. Mungkin sama dengan tidak tertariknya Han melihat tumpukan donat itu.

“Aku suka, kok.”
Tangan Ranti memasukkan donat itu ke dalam mulutnya. Donat ditaburi coklat dan kacang.
Han menggeleng. Kopi di meja sudah menjadi dingin.
Pagi ini mendadak dingin sekali. Ia jadi ingin mengambil jaket tebal, lalu tenggelam dalam pelukan hangat seorang bermata jernih.

“Haaan…,” Ranti merajuk.
Han menepuk perutnya. Mendadak ia merasa perutnya menjadi penuh.
Mungkin nasib donat di piring itu akan sama seperti donat yang lain. Ranti akan berteriak memanggil anak tetangga. Atau Ranti memberikannya pada kambing, juga ayam di tanah kosong sebelah rumah.

Pagi ini dingin sekali.
Han memandangi ke luar jendela. Masih banyak kabut. Mulai mendung.
Ia tersenyum sendiri.
Pada pagi yang diselimuti kabut tebal, ia akan mendengar suara dari dapur. Entah itu suara cobek yang saling beradu. Atau suara sesuatu yang dimasukkan ke dalam minyak goreng.

“Ibu bisa buat seperti ini?” tanyanya pelan. Menunjukkan sebuah gambar yang ia dapat di sekolah.
Ibu memandangi.
“Di warung sekolah dijual. Tapi yang ini lebih enak.”
Poster itu Han dapat dari temannya, yang katanya baru membeli donat itu di kota. Donat empuk. Di atasnya ada banyak coklat, bukan cuma coklat tabur.
Ada coklat dan juga kacang. Ada donat tanpa lubang yang ketika Han gigit, terasa buah yang belum pernah Han rasa. Teman Han bilang, itu rasa blueberry.
“Ibu bisa?”
Ibu mengangguk.

Han percaya Ibu pasti bisa. Ibu selalu bisa.
Maka pada suatu pagi yang riuh, Han terbangun.
“Ibu sudah dapat bahannya. Semalam titip sama tetangga sebelah. Semuanya beli di kota. Tapi Ibu utang dulu.”
Han melihat bahan-bahan itu. Bibir Ibu tersenyum.
Ibu sering bercerita ketika muda dulu, suka sekali membuat kue. Tapi setelah menikah, Ibu tidak boleh banyak-banyak membuat kue. Ibu bilang karena Bapak akan sakit kalau banyak makan kue. Tapi Han tahu, bukan itu. Bapak akan marah kalau uang yang Bapak beri cepat habis.

“Ibu bikin cara yang gampang, ya. Kamu juga bisa.”
Han mengangguk. Mengambil satu wadah.
Ada terigu, mentega, garam, gula, susu, ragi instant diaduk perlahan.
Lalu Ibu memasukkan dua butir telur dan diaduk lagi. Setelah itu Ibu masukkan mentega dan diaduk lagi.
“Ibu tidak punya timbangan.”
Han mengangguk. Ibu tidak perlu timbangan. Ibu selalu bisa mengukur semuanya dengan tepat.
“Ambilkan sedikit air.”
Han mengambil sedikit air untuk membuat adonan yang ada di wadah, yang telah bercampur rata, menjadi lebih lembut.
Han melihat Ibu membanting adonan itu beberapa kali. Ada urat-urat di punggung tangan Ibu yang semakin jelas terlihat.
“Donat ini untuk teman-teman kamu nanti.”
Han mengangguk.
Ibu bilang, adonan itu akan mengembang beberapa kali lipat. Menjadi besar dan besar.

“Haaan…”
Suara Ranti.
“Donatnya masih kurang enak, kah?”
Kali ini Han menarik napas panjang.
Ketika adonan itu sudah mengembang, Ibu membaginya. Mengajak Han membuat bulatan. Menekan bulatan itu di sebuah tempat. Lalu menyerahkan tutup botol pada Han.
“Letakkan di tengah, biar jadi lubang.”
Han mengikuti.
Iya. Seperti itu bentuknya. Seperti yang dibeli temannya.

Ketika semua sudah terbentuk, Ibu memanaskan minyak di wajan. Lalu memasukkan donat satu persatu. Ketika warnanya sudah berubah kecoklatan baru diangkat.
Belum.
Han belum boleh mengambilnya. Belum bagus bentuknya. Begitu yang Ibu bilang.
Lalu Ibu menunjuk selai coklat di dalam wadah plastik. Ibu memanaskan wajan lebih kecil. Mencampur selai coklat dengan mentega.
Setelah tercampur dan masih hangat, Han boleh mencelupkan permukaan donat ke dalam coklat itu.
Ibu memarut keju. Ibu bilang parutan itu baru Ibu pinjam juga. Lalu donat yang sudah dilumuri coklat itu, ditaburi keju. Han memilih taburan coklat mesis. Han harus menahan ludahnya agar tidak ke luar. Rasanya Han ingin cepat-cepat memakannya.

“Ada empat puluh donat. Bagi untuk teman-teman kamu, ya. Cuma ini hadiah ulang tahun yang bisa Ibu beri.”
Han menunduk.
Memeluk Ibu.
“Hush. Sudah. Tidak boleh cengeng. Ibu bau keringat.”
Han tertawa.
Donat itu akan ia bawa, lalu akan ia katakan pada yang lain, bahwa Ibu hebat. Ibunya bisa masak makanan kota.
“Hmm, kamu tidak usah jajan, sampai utang bahan donat itu lunas, ya?” ujar Ibu.
Han mengangguk.

Kabut di luar masih tebal. Kabut itu seperti menariknya pada masa puluhan tahun yang lalu. Sampai seseorang mengejutkannya.
“Kamu….”
Ranti menepuk bahu Han.
“Donatnya mau cari tukang yang lain lagi?”
Han menggeleng.
“Aku sebenarnya tidak suka donat. Belikan aku getuk lindri saja,” ujarnya berjalan meninggalkan Ranti.

Tidak akan ada donat seperti donat buatan Ibu.
Mungkin ia hanya sedang merindu dan menikmati kenangan.
Kabut di luar semakin tebal. Kali ini gerimis mulai turun.