Tips Menjadi Penulis yang Kreatif

aku-1-copy

“Ibu gambar lagi? Ampun, deh.”
Itu kalimat yang meluncur dari mulut anak-anak. Menggambar, kebiasaan lama yang dulu saya suka, dan saya tinggalkan. Ada banyak gambar. Hanya memakai pensil saja. Sudah saya hibahkan ke tukang loak, karena merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan gambar karya suami.

Tapi belakangan ini, saya butuh sesuatu yang lain selain menulis.
Anak-anak tetangga yang belajar di rumah, perlu sesuatu yang lain. Yang membuat mereka bergairah untuk belajar dan mencintai kehalusan seni.
Jika menulis membuat mereka kesulitan, maka keahlian lain yang saya miliki tentu bisa membuat mereka betah berlama-lama tanpa menyangka kalau mereka sedang belajar.

Maka membuat roti hal yang dulu saya anti, justru menjadi sesuatu yang saya suka saat ini. Melipat, menggulung, membuat aneka macam bentuk ternyata menjadi sensasi berbeda. Apalagi ilmu itu bisa saya terapkan dalam menulis. Saya bisa menulis cerita tentang roti. Dan tentunya akan lebih hidup, karena berdasarkan pengalaman nyata.

aku-3

Penulis harus tahu apa yang ditulisnya. Harus riset. Itu yang selalu saya katakan berulang kali, kepada murid-murid menulis saya. Jangan berpikir bahwa hanya dengan berkhayal, maka kita akan bisa terus menulis. Sekali dua kali mungkin bisa. Tapi selebihnya tulisan tidak akan ada peningkatan.

Bersyukur saya punya Ibu yang pandai menjahit. Dan sekolah dulu mewajibkan siswanya pelajaran tata busana. Jadi saya tahu pola-pola dasar. Dan itu membuat saya tahu, ketika membuat tulisan tentang penjahit atau alat jahit.
Bersyukur saya punya Bapak yang serba bisa. Bapak pernah jadi guru di sekolah, Bapak jadi imam di masjid, Bapak pintar membuat kerajinan, Bapak bisa mengetik sepuluh jari dengan cepat, Bapak menguasai bercocok tanam, bahkan Bapak tahu bagaimana mengobati putra-putrinya ketika sakit. Bukan asal obat. Tapi kucuran ilmu dari teman-teman kerjanya yang rata-rata dokter, membuat Bapak paham ilmu kedokteran.
Dan kucuran ilmu dari Bapak itu membuat saya bersyukur, karena paling tidak saya tahu sedikit lebih banyak, tanpa perlu masuk ke sekolah ini dan itu.

Okelah itu karena saya memang beruntung. Terus bagaimana dengan penulis yang kurang beruntung, alias tidak memiliki orangtua kreatif dan lingkungan yang mendukung?

Penulis itu harus berjuang menjadi kreatif sendiri.
Mulailah dengan mencoba hal-hal kecil.

1, Mewarnai gambar contohnya. Sekarang banyak gambar-gambar di interntet yang belum diwarnai. Tingkat kerumitannya juga macam-macam. Pilih satu gambar dan warnai. Nikmati. Dari situ bisa kita menulis sebuah cerita tentang mewarnai gambar.

2. Bercocok tanam. Jangan anggap sepele bercocok tanam. Karena melihat pohon tumbuh, rontok atau mati, itu sensasi sendiri dan jadi pengalaman sendiri, yang tentu saja bisa ditulis.

3. Belajar menjahit atau merajut. Memasukkan benang ke dalam lubang jarum, dan mengetahui ukuran jarum dan benang saja, juga merupakan ilmu baru yang bisa ditulis.

4. Memelihara binatang juga sama. Akan memancing kreativitas. Tingkah laku binatang peliharaan, tingkat kedekatan kita dengan binatang, bisa menjadi rangkaian cerita yang akan menyentuh pembacanya.

5. Menggambar. Iya menggambar apa saja. Mulai dari hal kecil. Mulai dari meniru dulu. Lama kelamaan, akan muncul ide baru di benak kita. Kalau tangan sudah terlatih, maka gambar itu sendiri sudah jadi rangkaian cerita.

6. Memasak tentu saja. Aroma bumbu masak, cara pengolahan, cara penyajian, akan membuat kita kehujanan banyak ilmu. Dan itu bisa dijadikan tulisan yang bermanfaat untuk orang lain.

Masih banyak tips lainnya.
Cobalah mulai dari sekarang, dan jangan ditunda.