Pada Senja yang Rapuh

2017-2

Pada sebuah senja di depan jendela, Ren mengerjapkan kedua kelopak matanya. Jalan setapak berujung pada kelokan yang tidak lagi tertangkap mata, membuat ia harus menarik napas berkali-kali.
“Kapan ia akan datang?”
Ren tersenyum. Menangkap suara yang datang bersamaan dengan suara lain. Kursi tua yang terlihat baru saja digeser.
“Kapan?”
Ia akan datang pada setiap senja pada awalnya. Lalu pelan tapi pasti, ia tak lagi tampak.
“Sudah ada satu plastik terigu.”
Ren menoleh. Ada si Mbok tampak terpekur memandangi lantai tanah. Lantai tanah yang Mbok bilang tidak perlu diganti, sebab Mbok tidak ingin terpeleset di lantai keramik.
Ia akan datang. Seharusnya lelaki itu datang. Lalu menyerahkan sebungkus kopi. Mbok biasanya akan bersemangat menyeduhkan untuknya. Dan Ren akan sibuk mengolah adonan terigu di dapur.

2017-3

“Roti yang berbeda,” katanya pada Ren pada suatu senja, setelah sebuah mobil bak terbuka menurunkan kulkas ukuran kecil untuk Ren. Mbok tertawa menyambutnya. Lalu bicara tentang banyak kue yang akan Mbok simpan di dalamnya. Dan pada hari pertama kulkas itu diisi, Mbok mengisinya dengan banyak macam barang yang seharusnya ada di lemari makan. Dari mulai gula sampai teh.

Roti yang berbeda.
Yang Ren tahu adonan roti yang ia dapatkan di tempatnya dulu. Terigu, gula, mentega dan ragi, juga susu. Hanya itu.
Tapi lelaki dengan bibir mengembang penuh senyum itu menyodorkan yang lain pada Ren. Katanya Ren harus tahu rasanya. Katanya kalau Ren bisa, maka akan ia buatkan sebuah toko kue di kota.
Ren merasakannya. Roti renyah dengan berbentu seperti keong. Mbok berteriak asin, ketika gigi tuanya menggigit irisan keju.
“Croissant namanya.”
Ren tahu, ini berbeda. Lidahnya seperti menari-nari ketika merasakan renyahnya roti memasuki rongga mulutnya.
“Zee tahu cara membuatnya.”
Zee tahu cara membuatnya. Kening Ren berkerut. Zee. Nama itu kembali dihadirkan. Zee tahu resepnya. Zee, seorang gadis yang punya toko roti di kota.
Kadang-kadang Ren menyesali panggilan keluarganya untuk kembali di rumah. Menjaga si Mbok yang sudah mulai pikun. Lalu sebagai bungsu yang patuh, ia harus pulang. Harus pulang sampai Ken melamar untuk jadi istrinya.

Ada adonan pasta mentega.
Maka Ken berikan setumpuk resep. Satu resep tulisan tangan. Itu tulisan tangan Zee. Croissant Zee paling laris. Ren bisa melihat wajah Ken penuh dengan senyum.
Pasta mentega buat dengan butter bukan margarine. Di desa tidak ada butter, Ken membawakannya. Sebuah kaleng kecil berharga lebih dari limapuluh ribu.
Ren harus mencampurnya dengan sedikit terigu. Sebelumnya harus memasukkan ke dalam kulkas, karena ketika kaleng dibuka, butter akan mudah mencair di tangan Ren.

Butter namanya. Ren mencium aroma susu. Menggoda selera.
“Kamu pasti bisa.”
Ren pasti bisa. Ren ingin bisa. Lalu melihat wajah Ken tersenyum sambil berkata, kamu hebat.
Butter dicampur dengan terigu, tambahkan sedikit margarine agar tidak terlalu cair.
Satu kaleng kecil butter gunakan separuh saja, tambahkan separuh lagi dari margarine. Campur dengan sesendok atau dua sendok makan terigu. Aduk rata dan bentuk menjadi persegi panjang. Bungkus plastik simpan di kulkas.

“Aku sudah ndak sabar,” begitu kata si Mbok.
Ada adonan lain.
Ren harus mencampur dua kuning telur dengan seperempat terigu. sedikit garam, sedikit gula, juga 180 ml air. Ken membelikan gelas ukuran itu, katanya seperti yang Zee pakai.
Aduk adonan kedua dengan tangan. Hingga tercampur. Lalu masukkan ke dalam plastik, tutup rapat, dan diamkan di kulkas semalaman. Iya semalaman lebih enak. Tapi Mbok tidak sabar. Ken bilang 30 menit tidak apa-apa.

Ren hanya perlu menyiapkan wadah lebar untuk menggilas adonan kedua. Ren tahu Mbok punya tempat minum dari plastik. Maka Ren menggunakan untuk menggilasnya. Wadah rata ditaburi terigu, lalu letakkan adonan kedua di atasnya. Giling hingga rata. Lalu ambil adonan pasta mentega di tengahnya. Lipat hingga adonan pasta tertutup rapat. Gilas lagi menjadi rata.
“Kapan?”
Ren memasukkan kembali adonan itu ke dalam kulkas setelah melipatnya.
“Sabar,” ujarnya menenangkan si Mbok, lalu menyodorkan pisang goreng pada si Mbok.
“Aku mau yang asin.”
Ren tahu asin yang Mbok maui sekarang bukan garam. Tapi keju.

Ada banyak senja.
Dan senja ini Ren mengeluarkan adonan dari dalam kulkas untuk menggilasnya kembali menjadi rata. Adonan pasta mentega ke luar dari lipatan, Ren harus berjuang membuat lipatan agar adonan pasta itu benar tertutup dan tidak bocor ke luar.
Tangannya licin.

Ada oven di atas kompor yang sudah menyala.
Adonan yang sudah digiling menjadi rata itu, Ren bagi menjadi beberapa bagian.
Gilas bagian kecil itu hingga rata. Lalu masukkan isi pisang, keju juga coklat. Ren membentuk sesuai dengan apa yang ia inginkan dengan bermacam angan berkelebat di benaknya.

“Yang asin.”
Ren terus menggilas.
Adonan yang digilas rata dipotong berbentuk segitiga. Diisi dengan irisan keju. Lalu digulung pelan tapi pasti.
Adonan lain berbentuk wajah dengan air mata.
Lainnya ia gulung sesuka hati.

Oven sudah memanas.
Adonan sudah semua dibentuk. Ren memasukkan ke dalam oven.

kue-nur

Pada senja yang menurunkan tetes hujan, adonan roti sudah Ren siapkan. Juga secangkir kopi. Tidak terlalu pahit. Campurkan sedikit susu. Itu selera Ken.
Mbok menikmatinya.
Ren juga.

“Kapan dia datang?”
Ren memandangi jalan setapak berkelok di kebun bambu. Kemarin tukang pos datang ke tempatnya. Sebuah undangan merah jambu diserahkan padanya.
Ada nama Ken dan Zee di sana dengan foto bersama. Mereka akan menikah.
Alangkah pintarnya Ken menyimpan rahasia. Atau Ren terlalu bodoh untuk memahami?
Tidak ada kalimat lain.
Tapi undangan itu langsung Ren masukkan ke dalam kompor yang menyala.

“Enak. Kapan Ken datang?”
Pada senja yang rapuh, Ren berjanji ini roti terakhir yang ia buat. Setelah itu ia tidak mau lagi tenggelam di dalam kenangan.

2 thoughts on “Pada Senja yang Rapuh

Comments are closed.