Aroma Tebu

aroma-tebu

Mereka akan pulang. Seperti setahun atau dua tahun yang lalu. Setelah itu suara mereka akan memenuhi ruang tamu luas dengan banyak kursi, yang sering kosong tanpa penghuni.
Lies mengusap wajahnya.
“Sudah pulang, Nduk?”
Mereka akan datang pada setiap tanggal yang dilingkari spidol merah. Lalu pada tangal dimana mereka tinggal, hanya warna merah yang menghiasi. Hingga akhirnya mereka kembali ke kota, menyisakan sepi untuk Lies.

Lies menekuri jajaran pohon tebu di hadapannya. Lampu di depan sudah menyala. Seluruh lantai sudah bersih. Beberapa pigura yang tergantung di dinding juga sudah bersih dari debu.
Sebuah pigura berisi foto pernikahan, ia pandangi lama. Mungkin jika bukan karena angin yang bertiup kencang membanting pintu, foto itu masih akan terus Lies pandangi.
Baju pengantin warna merah bata itu membuat kelopak mata Lies berkedip berkali-kali. Sepasang pengantin bahagia, itu yang selalu saja tertangkap di mata Lies ketika memandang foto itu.
Kalau bukan karena terdegar bunyi tongkat yang menyatu dengan lantai, mungkin Lies masih berdiri di depan pigura itu.
“Gantara besok datang…”
Lies mengangguk.
“Kamu masih bisa membuat getuk, kan?”
Lies mengangguk lagi. Berusaha keras melebarkan senyumnya. Ia masih bisa membuat getuk dari singkong yang sudah direbus.
Ia dan Gantara dulu pernah mencabut singkong bersama, lalu harus menunduk dalam-dalam karena empunya kebun singkong mengomeli. Singkong yang mereka cabut masih terlalu muda umurnya.
Gantara selalu suka getuk buatan tangan Lies. Ditumbuk dengan cinta, begitu cara Gantara merayunya.
“Lies…, kamu ndak apa-apa, toh?”
Lies menggeleng.
Tidak apa-apa. Setiap musim pasti berganti, dan seperti layaknya sebuah debu, ia tahu di mana dirinya harus ditempatkan.
**

Panggung berwarna ungu itu berdiri kokoh. Panggung yang cukup mewah. Pak Abdi juragan kerupuk akan mengadakan pesta pernikahan putri semata wayangnya. Akan ada panggung musik dangdut di sana.
Lies menghentikan sepedanya. Memandangi panggung itu.
Aroma melati bercampur dengan suara gending tiba-tiba membuat keningnya berkerut. Lalu tanpa sadar ia menggigit bibirnya.

Seorang artis penyanyi yang cantik dari ibu kota pernah diundang.
Kali ini kelopak mata Lies berkedip. Kedipannya hampir melelehkan air matanya ketika seseorang berhenti tepat di depannya.
“Buku-buku yang kamu pesan sudah datang.”
Lies memandang pada keranjang di depan sepeda motor Purwo.
“Nanti aku bawa langsung ke taman bacaaan apa ke rumahmu?”
“Ke taman bacaan..,” ujar Lies.
“Yo wis…, aku langsung ke sana, ya…”

Panggung itu akan hadir dua hari lagi. Nanti akan ada musik bergema, pedagang yang berlomba dan para orangtua juga anak-anak berkumpul untuk mencari hiburan bersama.
Sudah sore.
Mbok pasti sudah menunggunya di rumah.
**
“Mereka sudah datang?”
Tidak bisa ada rahasia dengan Mbok. Mbok selalu tahu apa yang Lies rasakan. Mbok tahu dan tidak banyak bertanya ketika Lies menangis. Lalu Mbok menyodorkan teh hangat sambil memijit-mijit punggungnya.
“Apa masih penting memikirkan yang sudah lalu, Nduk?”
Lies tersenyum kecut.
Memang tidak penting memikirkan sesuatu yang sudah berlalu. Tapi sesuatu itu hadir setiap saat untuknya, dan ia tidak bisa terlepas darinya.
“Mereka besok datang, nanti juga secepatnya pergi. Kamu akan tetap sendiri.”
Lies mengangguk. Ia ingat suatu masa di mana mimpinya melambung tinggi sampai ke awan. Mbok tidak pernah melarangnya bermimpi tinggi. Mbok cuma bilang kalau hati-hati dengan mimpinya dan tetap harus ingat tanah yang dipijaknya.

Namanya Gantara. Teman bermain sejak kecil. Bapak dan ibunya pemilik tambak ikan bandeng terbesar di desa tempat mereka tinggal.
Mereka punya kebiasaan yang sama. Duduk di depan tambak sambil membaca buku. Gantara punya banyak buku dan selalu mengajak Lies membaca bersama sebuah buku baru.
“Cita-citamu harus tinggi,Lies.”
“Kalau sudah tinggi?”
“Jadi istriku.”
Lies tersipu. Dan ia terkejut ketika Mbok memanggil namanya.
“Lies…., mereka sudah datang?”
Lies menggeleng.
“Pur… sebentar lagi pergi…”
Lies diam, memandangi tumpukan buku yang ada di hadapannya.

Pur baik. Baik sekali. Lelaki dari desa lain yang pendiam. Ia menjadi penyuluh pertanian di desa. Lalu pada suatu hari, ketika mendatangi kebun Mbok, Pur melihat tumpukan buku di teras rumah Lies. Sejak saat itu, Pur rajin menawarkan buku-buku bacaaan untuk Lies.
Langit di luar mulai gelap. Lies menyalakan lampu. Nanti malam ia akan mulai mengisi harinya dengan membaca buku.
**
Mereka akhirnya datang.
Duduk di kursi tamu. Lalu bicara tentang sebuah perjalanan panjang, yang akan membuat Lies menahan isak lebih dalam lagi.
Tiga anak kecil berlarian menggelendot manja pada Lies.
“Carikan kami tebu yang paling manis, Bu De.”
Lies menundukkan wajahnya. Carikan tebu yang manis itu seperti pengulangan tahun-tahun lalu. Ia selalu bisa membedakan mana tebu yang manis yang akan ia potong batangnya, lalu mereka saling menggigit hingga batang-batang itu menjadi pahit rasanya.

Dari sudut matanya Lies melihat seseorang memandangi sambil tersenyum.
“Bu De lagi repot…” ujarnya.
Lies lalu akan membuatkan teh dan ditempatkan dalam sebuah poci. Teh yang pas adalah dengan merek seorang ibu berkebaya sedang menyapu lantai. Tidak ada teh yang lain.
Lalu ketika serpihan daun-daun teh yang hitam bercampur beberapa kuncup melati itu, Lies tuangkan dalam wadah, Lies seperti melihat gelapnya perjalanan yang sudah ia lalui.
Ada masa dimana ia ingin berhenti saja di sebuah titik ketika sebuah undangan terulur padanya. Dan sepasang mata elang menatapnya jernih tanpa rasa bersalah.
“Maafkan…”
Maaf adalah sebuah kata yang seringkali hadir di telinga Lies, hingga ia tidak bisa lagi membedakan mana maaf yang benar-benar hadir di hati.
“Maafkan…”

Hanya itu. Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada juga kata menyesal untuk harapan yang sudah mereka bangun bersama sebelumnya. Untuk harapan dan mimpi tinggi itu, Lies berjuang keras membiayai kuliahnya dari hasil berjualan juga membantu di rumah Gantara, mewarisi pekerjaan Mbok.
Lalu setelah itu, ia berkutat di dapur bersama para perempuan lain.
Perayaan besar itu membuatnya harus memasang senyum, lalu menghadirkan tegar yang dipaksakan.
Candaan di dapur adalah candaan yang membuatnya yakin kuah sayuran di hadapannya sudah bercampur air mata. Mereka bercanda saling mencubit dengan mata yang melirik tajam padanya.
Ia adalah gadis pemimpi seperti punuk merindukan bulan.
“Bu De…., aku minta tebu…”
Tarikan di lengan bajunya membuat Lies harus bangun dari mimpinya. Ia tersenyum lalu mengangguk.

Setumpuk baju-baju masih layak pakai tersimpan di sudut. Ia boleh memilih bagian mana yang cocok untuknya. Setelah itu berikan pada yang lain.
Tapi ia yakin tidak akan ada yang cocok untuknya. Baju-baju itu dipenuhi dengan pernak-pernik yang menyala. Atau terlalu seksi untuknya.
Itu baju seorang gadis cantik yang akhirnya dipilih Gantara. Gantara berbisik dan mengatakan bahwa Arumi harus dibantu agar tidak lagi menjadi penyanyi dangdut.
Mereka saling jatuh cinta.
Itu bukan bantuan, tapi memang sesuatu bernama cinta.
Sejak saat itu, Lies tahu. Ia punya mimpi yang terlalu tinggi.

**
Sepotong roti itu ada di atas buku. Roti aroma keju bercampur taburan coklat.
“Aku akan pergi, Dik…”
Suara anak-anak ramai bermain di ruang kecil. Mereka sedang berlomba membaca cepat.
“Ada tugas ke luar daerah. Mungkin bisa menetap di sana.”
Suaranya tidak merdu. Ia juga tidak pintar bicara seperti Gantara. Tapi matanya memandang Lies penuh harap.
“Lies….”
Kemarin Mbok bertanya tentang mimpinya. Sungguh mimpi Lies hanya satu. Menikah dengan Gantara itu saja. Tidak ada yang lain.

“Kamu belum bisa melupakannya, Dik?”
Lies menunduk. Ia tidak bisa melupakan Gantara bukan karena jeratan cinta monyet. Bukan.
Tapi karena mereka sudah hampir menikah. Benar-benar hampir menikah dengan undangan yang sudah mereka pikirkan bersama. Mbok memeluknya kuat-kuat dan berdoa sama kuatnya.
Lalu perempuan itu datang begitu saja. Menginap di rumah Gantara atas undangan ibunya. Dan Gantara jatuh cinta.
Setelah itu semuanya seperti kilatan petir yang menyambar ranting kering. Terbakar tidak ada yang tersisa.
Mbok mengatakan itu kekuatan sihir. Tapi Lies paham apa yang orang lain katakan berbeda. Gadis itu memang cocok untuk Gantara. Lies mungkin yang harus tahu diri. Meski kuliahnya sudah selesai, tapi ia tetap anak si Mbok dan Gantara tetap anak pemilik tambak terbesar di desa.
Gadis yang dinikahinya, Lies tidak mengerti asal usulnya. Yang jelas, ia cantik dan terawat. Dan cantik terawat itu akan membutakan banyak mata lelaki, termasuk mata Gantara.

“Dik…, kalau kita menikah…”
Lies menunduk. Membayangkan sebuah masa di mana ia akan sendiri. Taman bacaan kerjasama dengan Pur mungkin tidak ramai lagi dengan dongeng dari Pur.
Lies menggleng. “Maaf..,” ujarnya pelan. Ia tahu Pur pasti mendengarnya.
**
Mereka akan pulang. Pulang secepatnya dan menyisakan Gantara di rumah. Lies tidak tahu kenapa mereka pulang secepat itu. Biasanya mereka akan tinggal sampai dua minggu lebih.
“Bawa getuk kesukaan Gantara ini. Jangan banyak bermimpi, Lies. Yang Mbok tahu mereka sudah bercerai. Usaha Gantara bangkrut, istrinya tidak kuat.”
Lies mengangguk saja. Ia sampai di depan rumah, masuk ke dalam dapur dengan serantang penuh getuk.
“Bu De……”
Tiga anak yang kesemuanya mewarisi kegagahan Gantara menghambur ke pelukan Lies. Lalu menarik tangan Lies ke kebun tebu di belakang rumah Gantara.
Dua pasang mata memandanginya. Seorang perempuan cantik dengan lesung di kedua pipinya. Rambut ikal kecoklatan. Perempuan itu menggeleng. Menyeret tas besarnya. Memandang Lies sambil tersenyum.
“Titip..,” ujar perempuan itu di sisi Lies. Kepalanya mengisyaratkan pada Gantara yang duduk di teras.
Lalu Lies melihat Arumi berjalan menjauh menggandeng kedua anaknya. Satu yang lain berteriak dan menangis tidak ingin ikut pergi. Gantara tidak bereaksi.Ia diam dan menekuri lantai rumahnya.
Lies menarik napas panjang.
“Kami tidak cocok…”
Itu kalimat yang akhirnya Lies dengar keluar dari mulut Gantara, ketika mengantar Lies sampai pintu gerbang.

**
Batang-batang tebu itu mulai ditebas menyisakan satu dua batang yang diminta dan ditunggui anak-anak untuk dijadikan rebutan.
Lies berdiri.
Rumah baca yang ia miliki dan Pur selalu bersedia menjadi penyumbang, sore ini sudah ramai dengan anak-anak.
Sebuah motor dan keranjang dipenuhi buku berada di luar pintu taman bacaan..
Pur sudah siap dengan kemejanya yang rapi. Matanya memandang pada Lies.

“Lies…”
Lies mengangguk. Mencoba tersenyum ketika anak-anak di taman bacaan memanggilnya.
“Aku sudah meminta pada si Mbok….”
“Kembali ke sini, Mas. Aku ada untuk menunggu.” Kalimat itu cepat Lies ucapkan. Sesuatu yang mengganjal di hati sebelumnya, terasa sudah terbebas.
Ia sudah berpikir, berbagi juga dengan Mbok dan hasilnya sekarang adalah kalimat yang telah keluar dari tenggorokannya.
Pur mengangguk sambil tersenyum.
Lies merasakan aroma tebu merasuk ke lubang hidungnya, menawarkan kehidupan baru untuknya.