Selembar Surat

selembar-surat

Batang-batang jati sudah membesar, sepertinya lebih besar dari selimut yang Win bawa, yang sekarang berada di bagian depan sepeda, yang dikayuh oleh Ken. Hawa gunung Kawi menyergap sempurna. Aroma dingin membuat Win ingin bergegas pergi.
“Dulu itu…”
Win tersenyum pada Ken.

Dulu itu sepenggal kisah pernah terukir. Ketika ia senang sekali menghentikan sepedanya. Berhenti pada satu belokan sebelum jembatan, lalu ia geletakkan sepedanya begitu saja. Biasanya setelah itu, tangannya akan meraih sesuatu dari tas yang dicangklongnya. Tas dari kain berwarna abu-abu, yang ia hias dengan pita hasil rajutan dari benang wol berbeda warna.
Kala itu kakinya masih bersepatu abu-abu tanpa hak. Dihiasi dengan kaos kaki berwarna abu-abu juga yang melindungi betis kecilnya dan kemudian ditutup dengan rok abu-abu sebatas betis.
Lalu Win akan berjongkok, karena harus melompati selokan kecil berair jernih, yang airnya mengalir cukup deras. Nanti ia akan berhenti pada satu pohon jati, dengan batang yang ditempeli nomor. Batang jati paling kecil. Seperti tubuhnya. Bernomor delapan nomor kesukaannya.
Win akan mengambil sekop kecil yang memang ia bawa di dalam tasnya. Terselip diantara buku-bukunya terbungkus kain cukup tebal, agar bagian sisinya yang tajam tidak melukainya, ketika ia tanpa sadar mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

Selembar surat berwarna merah jambu. Selembar surat yang ditulis pada kertas surat warna merah jambu, dengan amplop manis berwarna biru bergambar sepasang pengantin kartun yang saling bergandengan tangan, dan mata saling menatap.
Win ingat, ia sangat semangat mengorek tanah di ujung kakinya dengan sekop itu, lalu menyimpan surat yang dipegang di tangan kirinya ke dalam lubang yang ia buat. Lubang itu ia alasi dengan daun jati yang cukup lebar, yang ia lipat sesuai ukuran lubang. Lalu menimbunnya dengan cepat, dan menutupi kembali dengan daun jati kering sebelum akhirnya menimbunnya dengan tanah.
Wajah Win berseri-seri. Selembar surat yang ke sepuluh untuk Pak Guru Warno.
Win ingat bahkan setelah itu ia akan terus menoleh ke arah pohon jati, hingga pernah sebuah motor membunyikan klakson berkali-kali ke arahnya.

“Bernama kenangan…,” ujar Ken merengkuh bahu istrinya. Mengajaknya kembali mengayuh sepeda.
Bernama kenangan yang cukup dalam, yang membuat Win berat meninggalkan desa. Bernama kenangan pula yang membuatnya patah hati lalu pergi ke kota untuk menunjukkan bukti bahwa Pak Warno telah salah karena tidak memilihnya.
“Kenangan itu membawa kamu kembali…”
Win mengangguk.
Bernama kenangan pula, yang membuatnya ingin kembali lalu menularkan kesukaanya pada puisi dan seni lainnya. Ken mendukungnya utuh. Tanpa protes. Dengan keyakinan Win dulu dibutakan cinta oleh lelaki tua yang tidak lebih gagah darinya, begitu yang Ken pikirkan.
Rumah untuk itu sudah ada. Bertahun-tahun Win menabung dari hasil kerja kerasnya di sebuah perusahaan swasta, juga dari uang puisi-puisinya di banyak media, dan kemenangan di beberapa lomba. Ken menambahi dari uang hasil penjualan lukisannya.

Tahun kemarin sepetak tanah di samping rumah ibunya dulu berhasil ia beli. Ia “sulap” menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk anak-anak desa meski belum utuh sempurna.
Seorang guru Win datangkan. Rencana ke depan, Ken juga akan ikut pindah ke desa bersama Win. Ken bisa melukis di desa dan Win bisa menulis puisi juga di sana.
“Bernama kenangan…,” Ken bersiul. Kepalanya menoleh pada seorang gadis SMA bersepeda berkepang dua. “Mungkin seperti itu, Win?”
Win cemberut. “Dia lebih cantik,” ujarnya seperti menggerutu.
Ada selimut tebal oleh-oleh untuk Bu Linda darinya. Selimut itu memenuhi sepeda yang dinaiki Ken.
Untuk mencapai rumah Pak Warno mereka harus melewati sekolah tempat Win dulu bertemu Pak Warno. Sebuah berita disampaikan temannya, yang masih tinggal di desa. Pak Warno sakit keras.
“Namanya siapa?” Ken menggoda. “Warno. Lebih keren aku, kan?”

Lelaki itu bernama Pak Warno dengan uban yang sudah menghiasi kepalanya. Lelaki itu yang suka mengajari Win dan teman-teman sekelas lainnya berpuisi. Puisi-puisinya pada awalnya tidak Win mengerti.
“Apa itu namanya cinta?”
Win ingat, ketika kalimat itu terucap olehnya, wajah Pak Warno menjadi tegang. Pak Warno pasti mendengar suaranya. Tapi Pak Warno pasti juga tidak ingin menjawab pertanyaannya.
Win suka sekali melihat rambut Pak Warno yang berbeda warna. Apalagi ketika sinar matahari menerobos masuk lewat jendela kaca yang besar.

Pak Warno, lelaki yang gagah di mata Win. Pasti di mata yang lain juga seperti itu.
Win tahu di meja kerja Pak Warno selalu ada getuk berwarna-warni kiriman dari Trinil biduan dangdut. Getuk itu sewarna dengan kostum penyanyi dangdut yang norak di mata Win. Getuk itu juga ada yang berwarna hitam mirip dengan bulu mata palsu Trinil yang diberi mascara tebal, hingga membuat matanya menjadi menakutkan, dan sering Win leletkan lidah di belakangnya. Suaranya nyaring bahkan ketika sudah jauh dari sekolah.

Di meja kerja Pak Warno juga akan ada kue bolu kukus dari tepung singkong, yang akan Lia beri padanya. Lia, janda pemilik toko kue di pasar yang laris manis. Yang bolunya selalu saja diminati banyak orang. Hanya saja, Pak Warno kelihatan tidak suka dengan Mbak Lia.
Juga ada singkong rebus dari Bu Janti sambil berdoa agar Pak Warno diberikan jodoh. Win tahu jodoh yang dimaksud itu adalah anak Bu Warno yang belum menikah juga meski sudah berumur.
“Siapa nama istrinya?” Ken memecah lamunan Win.
Kabut mulai turun. Ia merapatkan jaketnya. Kakinya mengayuh sepeda lebih kuat lagi. Mungkin ia harus balapan dengan Ken.
“Bu Linda…,” teriak Win menggeleng seperti malu mengenang masa lalunya.
“Jadi kita langsung ke rumahnya?”
Win mengangguk. Mereka harus cepat sampai ke rumah Bu Linda.
**
Mata tua perempuan itu memandangi jalan kecil yang membelah desa. Kabut sudah mulai turun. Seluruh jendela di ruangan tempat suaminya dirawat sudah ditutup rapat. Hanya angin sore menelusup lewat celah lubang angin yang cukup lebar.
“Mas sudah dengar?”
Warno menganggukkan kepalanya. Terbatuk. Selimut sudah menutupi tubuhnya. Jaket tebal sudah dipakai.
“Win datang dengan suaminya. Mas ingat dengannya?”
Warno mendengarkan. Ingatannya semakin menua. Tapi gadis kecil itu tidak pernah hilang dari ingatannya.
**
Mereka gagal bertemu. Rumah itu kosong sedang senja sudah ingin beranjak pergi.
Ken mengajaknya kuat-kuat mengayuh sepeda. Mereka harus pulang setelah berhenti di warung bakso, dan Ken menghabiskan dua mangkuk bakso plus separuh yang diminta dari Win.
Win merapatkan jaketnya. Hawa gunung Kawi di desa Jugo tempat ia dulu dibesarkan, mulai tidak bisa lagi diakrabinya. Delapan tahun yang lalu ia tinggalkan. Semenjak Ibu pergi untuk selamanya nyaris ia hanya datang hanya melongok, tidak ingin singgah lebih lama.

Malam sudah dipenuhi cahaya. Tiba-tiba Win rindu menulis pada kertas surat yang berada dalam sebuah buku. Seperti dulu.
Ken sudah tidur dengan selimut menyelimuti tubuhnya. Sudah Win katakan berkali-kali bahwa Ken harus membawa selimut lebih tebal lagi Tapi Ken selalu menolak lalu berpikiran bahwa ia yakin akan kuat dengan hawa dingin.
Win tersenyum sendiri.
Delapan tahun sudah berlalu tapi bayangan Pak Warno masih lekat di ingatannya. Pak Warno lelaki yang membuat Win ingin menulis. Menulis segala rasa cinta, menulis segala rasa sakit hati.
Di depan jendela kamarnya, di bawah temaran lampu Win mulai menulis.
Win ingat pada setiap bulan purnama yang cahayanya terlihat dari jendela kayu yang ia buka lebar-lebar ia berharap cahaya. Cahaya cinta yang bisa ia ambil lalu energinya ia sebarkan pada selembar kertas yang terhampar di hadapannya.

Sebuah puisi Win tulis di buku pelajaran Bahasa Indonesia yang dikumpulkan. Tugas dari Pak Warno. Lalu Pak Warno membacanya dan anak-anak di kelas yang mendengar bersuit-suit sehingga pipi Win memerah karenanya.
Sebatang pohon jati menanti.
Sepucuk hati aku titipkan pada akar-akar jati.
Purnama di langit Win pandangi.
Pada surat kedua puluh yang ia tulis pada Pak Guru Warno, Ibu datang padanya dan memintanya berhenti.
Terdengar suara Ken mengorok.
Win tahu, sudah saatnya Win tutup buku dan menemani Ken.
**
Jika itu Win, maka kenangan lama akan terseret kembali.
Bu Linda memandangi suaminya.
Gadis kecil bernama Win itu luar biasa hebatnya. Mampu mengungkapkan apa yang tidak pernah bisa ia ungkapkan. Gadis kecil itu suka sekali menulis puisi lalu puisi yang belum jadi itu diberikan pada dirinya untuk dikoreksi.

“Kamu jatuh cinta?” begitu dulu ia biasa bertanya.
Lalu Win menunduk. Tulisannya belum sempurna. Puisinya belum indah.
Gadis kecil itu dulu selalu memberikan terlebih dulu surat-surat itu pada dirinya lalu ia akan menyempurnakannya. Setelah sempurna, baru Win akan meletakkannya pada lubang dekat pohon jati di dekat jembatan setiap kali ia akan berangkat sekolah.
Win pasti terinspirasi dari cerita cinta yang Mas Warno sering ceritakan di kelas tentang surat-surat cinta di bawah pohon jati.
“Matamu bundar seperti bola….,” Ia tersenyum kala itu ketika membacanya. “Matamu indah dan teduh…,” ia bicara pada Win untuk membetulkan kalimat yang Win tulis.
“Mungkin samudra hatimu penuh kotoran…”
Kala itu ia terkikik. “Mungkin ada jentik di hatimu yang membuat sinyal di hatiku tak sampai kepadamu…”
Bu Linda menarik napas panjang.
Ia juga sudah mendengar banyak cerita tentang Win. Win yang menghilang seusai pernikahan dirinya dengan Mas Warno.

Dua tahun yang lalu, ia mendapat kabar tentang Win. Puisi-puisi indahnya hadir di banyak surat kabar. Nama Win juga ia lihat dalam sebuah majalah. Seorang penyair yang membuka sekolah untuk anak-anak tidak mampu. Dan kemarin, ia sempat melihat papan nama besar di tempat dulu Win tinggal bertuliskan “Sekolah Win”.
**
Ken memaksa. Tapi Win suka dipaksa karena itu selalu cara Ken untuk membuatnya merasa jatuh cinta dan meninggalkan masa lalu. Pagi tadi seusai nasi pecel di warung pojok tempat langganan Win dulu, Ken mengajaknya bersepeda lagi. Menuju hutan jati. Hutan jati yang batang-batangnya sudah membesar.
Win menantang Ken untuk memboncengnya dan Ken setuju.
Win tidak lupa dimana ia pernah berhenti. Lalu mengambil sekop dari dalam tasnya dan melubangi satu tanah di dekat satu batang jati untuk meletakkan surat yang ia tulis sepenuh hati bagi Pak Warno. Pohon jati nomor delapan.

“Kapan aku menerima surat cinta darimu yang harus aku ambil dari dalam tanah?” Ken menggoda ketika mereka sudah sampai di depan hutan jati.
Banyak hutan jati tumbuh di desa. Ada hutan jati seluas satu hektar lalu dipisahkan oleh beberapa rumah, akan bertemu dengan hutan jati lagi yang lebih luas lagi.
“Kenapa tersenyum sendiri?” tanya Ken yang berjongkok di antara batang-batang jati. Tangannya mencongkel-congkel tanah di dekat kakinya. “Siapa tahu ada surat yang tertinggal,” ujarnya seperti menggoda.
Win memandangi Ken. Tidak akan mungkin ada surat yang tertinggal sebab semuanya sudah diambil oleh Pak Warno, lalu dijadikan seserahan pernikahan pada Bu Linda.
Win ingat, setelah tahu surat itu diambil, ia jadi sering mematut dirinya di depan cermin. Rambutnya ia buat digulung seperti gulungan kepunyaan Bu Linda. Wajahnya ia baluri dengan bedak dari bengkoang yang ia parut, lalu ia jemur agar hanya tersisa patinya saja. Agar kulit wajahnya seputih kulit wajah Bu Linda.
“Kenapa mesti Pak Warno?”
Win menggeleng lalu menahan tawanya ketika Ken mendapati sesuatu dari dalam tas. Bukan, bukan selembar surat tapi sebuah plastik berwarna hitam.
Bayangan Ken seolah berganti dengan bayangan lelaki yang sudah berumur. Duduk berjongkok mengambil surat-surat yang Win pendam. Surat berisi puisi yang sebagian besar dibetulkan oleh Bu Linda. Surat dipenuhi rindu dan rindu itu tidak tertangkap sempurna oleh Pak Warno, yang sudah menduda tiga kali karena ditinggal mati istrinya.
“Aku tahu itu namanya pelampiasan cinta…,” Ken membersihkan tangannya lalu menepuk pipi Win.
Win mengangguk. Bisa jadi itu pelampiasan cinta karena tidak pernah ia kenal sosok ayahnya semenjak bayi dan Ibu menutup mulut setiap kali ditanya.
“Ke gunung aku ikut….” Ken mulai bernyanyi.
Dan tangan Win langsung melayang mencubit pinggang Ken.
**
“Apa Win masih ingat?”
Bu Linda memandangi suaminya. Belakangan ini asma suaminya kambuh terlalu cepat. Berbagai macam terapi sudah dilakukan.
“Surat-surat itu…”
Bu Linda tersenyum sendiri. Mungkin Win tidak akan pernah lupa. Setumpuk surat yang dibungkus kain berwarna biru, yang ikut dijadikan seserahan mas kawin untuknya. Puisi-puisi milik Win yang dipoles olehnya. Puisi untuk Mas Warno yang tidak begitu dipahami bahasanya oleh Mas Warno karena terlalu kekanakan begitu katanya.
Belum lama Bu Linda akhirnya bicara jujur.
Tentang surat tanpa nama yang dipendam di salah satu pohon jati. Itu surat Win. Tanda cinta tapi tak berani diungkapkan.
“Kita berikan Win saja. Itu miliknya. Mungkin berguna untuk Win berikan pada suaminya.”
Warno memandangi Linda istrinya. Ia menganggukkan kepalanya.
**
Win tahu Ken memandangnya.
Mungkin memandang tumpukan surat itu. Mungkin juga memandangi pada saat Win tadi bicara dengan Pak Warno tanpa Bu Linda.
Setumpuk surat puisi dari Win yang tadi diserahkan Pak Warno padanya, sambil meminta maaf karena tidak pernah paham surat itu Win buat khusus untuknya.
Win menarik napas panjang.
“Seringlah main ke sini…,” ujar Bu Linda tadi ketika melepasnya pergi.
“Bapak juga mau mengajar menulis puisi di sekolahmu. Boleh?” tanya Pak Warno.
Sekarang, ia biarkan Ken mengayuh sepedanya mengikuti alur jalan desa yang berkelok dan sedikit curam. Di hutan jati Ken berhenti.
“Mau apa?” tanya Win.
Ken memandangi Win. “Sudah selesai cintanya dan tidak perlu ada kenangan, kan? Apalagi kenangan pahit?”
Win mengangguk. Membiarkan Ken turun dari sepeda menuju satu batang pohon jati. Ken mencongkel-congkel tanah di bawah pohon itu dengan sekop kecil yang Win juga tidak menyangka dibawa oleh Ken. Lalu mengubur surat-surat itu.
Selesai sudah. Tidak ada yang tersisa. Tidak rasa rindu juga sakit hati.
“Aku semakin cinta…,” ujar Ken merangkul bahu Win. “Kamu…
Win tidak perlu menjawab. Ken sudah paham isi hatinya. Sepanjang perjalanan pulang tangan Win memeluk pinggang Ken erat-erat.