Mendidik Anak Bermental Tangguh

“Bu, Ibu tahu baju yang warna biru di mana?”
“Buuu, itu kenapa rotinya habis?”
“Bu…, kok sabunnya habis?”

Ketika anak memanggil saya seperti itu, tentu saja saya senang. Tapi sesungguhnya saya juga sedih. Komunikasi baik dan selalu ada diskusi. Bahkan untuk perbuatan atau kemarahan saya yang tidak mereka suka, selalu ada ruang terbuka untuk berdiskusi.

Anak-anak tumbuh dari balita hingga besar di bawah pengawasan saya.
Mereka dekat dengan saya, itu bagus. Tapi ada yang salah, dan imbasnya adalah kemandirian mereka.
Saya merasa mereka tidak semandiri saya dalam banyak hal. Karena itu pelan tapi pasti, saya berjuang untuk mundur. Demi membiarkan mereka melangkah maju.

Ada banyak hal yang membuat mereka tidak mandiri. Dominasi saya sebagai Ibu, mungkin yang membuat mereka seperti itu. Kadang-kadang saya kasihan meminta mereka ke warung. Akhirnya saya yang pergi ke warung. Kadang-kadang saya kasihan bila harus bersikap keras terhadap mereka. Padahal justru mereka ambil celah dari sana.

Ada banyak hal yang harus diubah. Dan saya mulai mengubahnya pelan tapi pasti.
Dulu ibu punya delapan anak dan setiap anak punya tugas masing-masing.
Sekarang saya punya dua anak, pekerjaan tentu tidak sebanyak saya dulu, maka itu artinya saya juga harus berjuang untuk membuat mereka mandiri dari hal paling kecil.
Anak-anak yang mandiri tahu bagaimana caranya hidup. Hidup tanpa bantuan orangtuanya. Hidup bertanggung jawab dengan kehidupan mereka masing-masing kelak ketika mereka dewasa.
Mandiri dan ketangguhan adalah satu rangkaian.
Anak yang dilatih mandiri akan tangguh menghadapi zaman.

“Gas Ibu habis,” ujar saya.
Anak-anak diam. Ibu antara kasihan dan tidak. Untung si Bapak bergerak memanggil sulung dan meminta sulung mengeluarkan motor untuk membantu saya mencarikan gas.
Galon air mineral belum diangkut? Saya kadang-kadang geregetan untuk menanti sulung saya melakukan hal itu. Tapi memikirkan bahwa kelak ia akan jadi lelaki lembek, membuat saya menahan diri. Maka sejak itu tugas mengangkat galon mineral adalah tugasnya.
Ada cucian piring bertumpuk. Saya kok suka geregetan tangan gatal, jika rumah tidak cepat bersih. Tapi keinginan melihat bungsu mandiri kelak, membuat saya memilih untuk memanggil bungsu, dan meminta ia mencuci piring.

Akhirnya pelan tapi pasti saya terbiasa.
Ada sampah bertumpuk, tidak boleh dibuang, kalau bukan sulung yang membuang. Karena itu tugasnya.
Ada jemuran yang sudah kering, saya harus memaksakan diri untuk tetap diam di tempat. Karena itu sudah menjadi kesepakatan jadi tugasnya bungsu.
Gembok pintu pagar dan mengurusi lampu di lantai atas adalah tugasnya sulung.
Bangun tidur harus bereskan tempat tidur mereka masing-masing. Kalau mereka tidur di tempat tidur saya, itu artinya mereka harus kembali membereskannya setelah mereka bangun.

Tas, pakaian harus diletakkan di tempatnya. Kalau tidak, akan saya taruh di dalam kamar mereka. Dan itu membuat mereka tidak suka, karena kamar mereka kecil dan tidak mau dipenuhi dengan tas mereka yang cukup besar.
Bungsu butuh cari sesuatu untuk kegiatan sekolahnya, saya persilakan dia jalan sendiri menuju toko yang menjual peralatan itu, yang tidak jauh dari rumah.
Keduanya butuh surat dari sekolah untuk ikut lomba-lomba yang saya tawarkan, saya persilakan mereka minta sendiri ke guru. Saya hanya menghubungi guru untuk memberitahu surat yang mereka butuhkan. Selebihnya biarkan anak yang mengurus sampai surat itu di tangan.

Semuanya harus dimulai dari hal kecil.
Dan hal kecil itu dimulai dari ketegaan saya sebagai ibu, dan dukungan dari suami agar seiring sejalan dalam hal mendidik anak-anak.

“Ibu aku mau buat kue. Bahannya apa aja. Aku bisa.”
“Bu… ini bajuku kancingnya copot, akhirnya aku pakai peniti.”

PR saya masih banyak.
Tapi paling tidak saya bersyukur, saya tidak terlambat menyadari pola asuh yang salah. Tentu saja perkembangan mereka selanjutnya akan saya selalu lingkari dengan doa, agar langkah mereka tidak melenceng dari jalur yang benar.