Liburan Produktif untuk Anak

anak-2

“Liburan kita ke mana?” anak-anak bertanya.
Liburan kita ke mana? Ke beberapa tempat seperti biasanya? Ke luar uang untuk mengistirahatkan mata dan pikiran? Lalu pulang menguap begitu saja?

Saya berpikir ulang.
Liburan kali ini harus jadi liburan berbeda. Liburan bukan yang sekedar menghasilkan sesuatu dan menguap tanpa terasa. Saya ingin mereka merasakan liburan yang berbeda.

“Ikut program ke Kampung Inggris. Mau?” tanya saya.
Anak-anak yang sekolah dari pagi sampai sore, dikasih liburan dengan bentuk lain, pastinya akan menolak. Apalgi mereka tahu target ibunya. Yang terbayang adalah mereka harus belajar di sana. Bukan bersenang-senang. Iya bersenang-senang dalam artian otak dibuat bebas tanpa berpikir.
“Bu…, liburan, ya, liburan. Bersenang-senang,” itu yang diucapkan Sulung. Program itu memang semula saya tawarkan padanya.
Setelah negoisasi maka ia berkata lagi. “Aku sendiri, loh,” protes dia ketika saya menawarkan program itu untuk adiknya juga.

Okelah program ke Kampung Inggris di Pare, Kediri, untuk Sulung dan Bungsu pada kesempatan berikutnya.
Pembayaran sudah dilakukan. Tapi di tengah bulan, setelah pembayaran pertama disetor, Sulung bilang.
“Bu, tes pesantren aku tanggal yang 18, loh. Kampung Inggris berangkat tanggal 17.”
Sulung memang sudah mendaftar di pesantren. Pesantren dia yang pilih. Sebulan ia juga ikut pendalaman materi masuk pesantren dari sekolahnya.
Saya biarkan ia berproses. Belajar konsisten dengan pilihannya. Tapi yang pasti harus ditangani. Yang pasti pasti itu, program ke Kampung Inggris harus ada penggantinya. Maka saya tawarkan pada Bungsu.
“Apa aku bisa, Ibu?”
Saya mengangguk. Memberi rayuan dengan terus-menerus berkomunikasi. Bahwa dunianya akan berkembang, jika dia tidak menghabiskan liburkan di rumah saja. Bahwa ia nanti akan belajar bagaimana mengolah rasa, ketika jauh dari orangtua. Bahwa dia juga nanti akan merasakan, betapa nikmatnya tempe goreng bikinan ibunya ketika jauh dari Ibu.
Bungsu berangkat. Was-was campur senang.
Ke mana? Kampung Inggris di Pare, Kediri. Perjalanan 12 jam dari Bekasi dengan kereta api. Rombongan dari sekolahnya.
Hari pertama ketika ditelepon masih menjawab tidak enak. Tapi selalu saya bilang, bersyukur. Karena tidak semua anak bisa mendapatkan kesempatan ini. Tidak semua orang tua bisa membiarkan anak pergi jauh dari mereka. Bersyukur dan nikmati.
Maka hari selanjutnya, dia sudah terdengar ceria. Dan foto-foto dari guru pembimbingnya juga memperlihatkan hal itu.
Menjauh dari orangtua membuat ia menemukan satu titik hikmah. Bagaimana menjadi tegar dan bahagia.
Saya juga belajar menyadari, bahwa kelak mereka punya hidup sendiri. Tentu ini juga pelajaran agar kelak saya tidak merecoki hidup mereka, ketika mereka sudah dewasa dan berumahtangga.

anak-3

14 hari Bungsu akan menikmati liburan sambil belajar. Satu kamar kosong. Si Sulung bingung tidak ada sparing partner di rumah. Biasanya mereka berdua sering bantah-bantahan lalu akur lagi.
“Asyik, aku bebaaaas,” begitu kata Sulung.
Bebas dalam artinya tidak terikat pelajaran. Ia ingin bebas sepenuhnya. Nonton tipi sepuasnya, main bola sepuasnya, nongkrong sepuasnya. Seperti teman-teman bermainnya yang tidak direcoki oleh aturan ibunya untuk ini dan itu.
Bersyukur, begitu Bungsu berangkat saya dapat brosur pesantren kilat dari adik saya. Kebetulan anaknya yang di pesantren ingin ditingkatkan kecintaannya pada Al Quran.

Menolak, iya menolak pada awalnya. Tapi saya intens berkomunikasi dengannya. Tentang waktu muda yang bisa habis tersia-sia. Tentang proyeksi hidup setelah kematian, Tentang wawasannya sebagai anak muda yang harus diluaskan, agar tidak seperti katak dalam tempurung.
Ia harus kenal banyak orang, menghadapi banyak orang, beradaptasi dengan orang banyak, melihat bahwa dunia luar itu luas, dan ia harus berada di keluasan dunia itu tanpa kehilangan jati diri.

“Ibu tahu, ini liburan?”
Saya mengangguk.
Hari biasa telepon genggam ada di tangan saya. Cuma Sabtu Minggu mereka boleh pegang. Peraturan dari sekolah juga seperti itu. Tapi aduhai, menyerahkan telepon genggam di tangan dua remaja, itu sama artinya dengan membiarkan mereka melakukan kegiatan yang tidak manfaat. Tapi membuat mereka jadi kurang update juga saya tidak mau. Mau saya mereka kenal internet juga dunia maya dan sela seluk beluknya, untuk mereka jadikan celah belajar. Mereka bisa membuat sesuatu yang kreatif, bukan hanya tenggelam membaca status menikmati video-video saja.

“Kalian harus tahu indahnya dunia tanpa internet,” ujar saya.
Mereka tahu Ibu sulit dibantah.
Mereka tahu meski tanpa emosi, Ibu akan mengajak diskusi yang hasil akhirnya mereka akan tunduk.
Lalu giliran Sulung berangkat. Cemberut, malas-malasan, memperlambat waktu, itu biasa. Toh dia paham ibunya pantang tergerak hatinya untuk hal-hal seperti itu.
“Ibu, teman lain senang-senang,” keluhnya tentang teman-teman bermainnya.
Kami naik kereta yang penuh sesak. Dari angkutan umum menuju kereta, transit untuk pindah kereta yang penuh sesak lagi, lalu berlanjut naik ojek.
Sepanjang jalan, saya ada kesempatan untuk memasukkan pesan padanya.
“Ini yang Ibu lakukan untuk menuntut ilmu. Sebab ilmu tidak datang dengan mudah. Ilmu itu harus dikejar.”
Maka saya antarkan dia ke suatu tempat, di mana berkumpul teman-teman sebanyanya yang menghafal Al Quran.

anak-1

Melihat dia bergegas ke masjid. Melihat dia memegang Al Quran memang biasa. Tapi melihat dia yang baru datang, lalu saya tinggalkan di masjid dengan Al Quran di tangannya yang sedang dihafal, rasanya ada yang terasa nyes di hati.
Apalagi ketika mulai hafalan jam lima dan jam sembilan malam ia setoran ayat baru. Satu halaman ia dapat menghafal di hari pertama. Ustadz pembimbing selalu meng up date informasi perkembangan peserta dan foto-foto untuk penawar rindu orangtua.
Akan ada sepuluh hari waktu untuknya. Akan ada banyak yang bisa ia raih, termasuk bagaimana menambah wawasan dan mengelola emosi juga mentalnya.

Tapi paling tidak saya bahagia.
Liburan yang saya berikan kali ini pada anak-anak, adalah liburan yang berbeda.
Mereka akan datang setelah liburan, dengan cerita yang berbeda dengan teman yang lainnya.
Dan sebagai Ibu, saya akan jadi tempayan untuk menerima ilmu baru dari mereka.

2 thoughts on “Liburan Produktif untuk Anak

Comments are closed.