Alhamdulillah, Saya Bukan Ibu yang Pintar

lukisan-kami

Suatu pagi saya tercenung. Setelah membaca postingan politik yang ditulis oleh seorang perempuan. Seorang Ibu juga. Kebetulan setelah itu saya berada di dapur. Menikmati membanting adonan roti untuk suami dan Sulung yang harus berangkat pagi.
Penulisnya pasti perempuan pintar. Isi otaknya seperti apa yang ditulisnya. Saya terkagum-kagum dengan kepintarannya. Tapi sayangnya saya tidak boleh berlama-lama kagum. Tidak boleh berlama-lama kepingin menjadi seperti dirinya. Tidak boleh berlama-lama membayangkan andai saya sepintar seperti dirinya.
Ada kompor, panci, wajan dan sejenisnya di dalam dapur saya. Kompor sedang menyala, adonan roti mulai tercium wanginya. Dua orang tercinta sedang bersiap. Bayangan saya harus dihentikan sampai satu titik, perempuan itu pintar dan hebat. Saya apalah artinya dibandingkan para perempuan hebat itu.

Banyak perempuan hebat dan pintar. Banyak yang ingin dianggap hebat dan pintar juga. Dianggap menguasai sesuatu lebih dibanding yang lain.
Masalah politik membuat banyak yang merasa jadi ahli politik.
Masalah agama, langsung membuat mereka menjadi ahli agama.
Mereka hebat. Mereka pintar, itu saja yang ada di pikiran saya. Untuk selanjutnya kembali saya menyadari, bahwa ruang pintar seperti itu tidak saya miliki.
Mungkin dulu rasa itu pernah saya kejar. Ingin dianggap pintar.

Saya ingat dulu kuliah di fakultas ilmu sosial ilmu politik. Pada zaman politik sedang membara, maka teman-teman menjadi pendemo dan jadi pakar politik. Saya terseret membuat media politik bersama teman-teman satu fakultas, jadi reporter politik, mewawancarai nara sumber seputaran Jawa Tengah, terutama Solo, Jogja dan Semarang adalah makanan rutin ketika majalah akan terbit.
Ada banyak bahasa politik yang harus saya pelajari, harus saya sering-sering ucapkan jika ingin bergaul di kalangan teman-teman yang ahli politik. Biar sejajar.
Terpengaruh keadaan juga setiap hari bergaul dengan teman-teman yang ada di pergerakan. Sampai-sampai pernah dibohongin diminta memakai t-shirt dan dipanggil dekan, karena ternyata tulisan di t- shirt itu dianggap menyerang sesuatu terutama pemerintah. Dan saya tidak tahu akan hal itu. Dipanggil untuk diinterogasi. Sambil memarahi teman-teman yang tidak memberitahu, kenapa pada hari itu saya diminta memakai t-shirt tersebut sedang mereka menyembunyikannya?

Ada banyak ahli politik yang saya wawancarai. Bahkan pelaku politik pernah juga saya wawancarai. Ingat satu tokoh tinggi di Solo saya wawancarai bersama seorang teman. Saya perempuan satu-satunya, sedang tokoh itu dikelilingi oleh ajudan beberapa laki-laki di sekelilingnya.
Pada saat itu saya merasa keren, saya merasa pintar juga.
Sedikit ikut demo sana-sini. Tidak ikut teriak yel yel, karena saya lebih suka mendengar dan menyimak untuk kemudian mengambil kesimpulan.
Ohooo, banyak orang pintar. Suara saya tidak akan ada apa-apanya dibanding orang-orang itu. Tapi saya masih merasa hebat juga.

Banyak orang pintar dengan bahasa tinggi. Banyak yang kagum dan ingin belajar seperti itu. Tapi sayangnya bahasa tinggi itu justru membuat saya mundur dari hal-hal seperti itu. Ketika di suatu tempat di desa kecil pada saat Kuliah Kerja Nyata selama tiga bulan, yang berbahasa tinggi justru tidak bisa membaur dengan penduduk desa. Yang punya bahasa tinggi fokus memikirkan hal tinggi, tapi lupa di desa itu sedang kekeringan dan mahasiswa harus turun naik gunung mengajar ini itu dari satu sekolah ke sekolah lain plus menimba sumur untuk mandi.
Yang menemani bidan keliling desa turun naik gunung hanya yang itu itu saja.

Kapasitas dan Potensi Kita

Mungkin memang saya ditakdirkan tidak pintar. Justru karena tidak pintar itu saya jadi berjuang untuk terus belajar.
Mungkin memang saya ditakdirkan pusing mendengar kalimat yang terlalu tinggi. Justru karena itu saya jadi mencintai pola pikir saya yang tidak macam-macam.
Saya memiliki kapasitas dan kemampuan saya sendiri yang berbeda dengan orang lain. Kapasitas dan potensi yang ternyata membuat saya nyaman. Dan dalam proses nyaman itu justru potensi semakin berkembang.
Kapasitas saya tidak untuk berkerut kening memikirkan bahasa tinggi dan pemikiran yang tinggi. Kapasitas saya ada pada hal yang disepelekan oleh banyak orang pintar. Memahami orang lain, belajar banyak empati lalu menyebarkannya.

“Itu orang pintar, Bu…,” anak saya menunjuk seseorang perempuan di televisi. “Yah, Ibu kalah,” ujarnya.
Saya mengangguk.
“Alhamdulillah, Ibu tidak seperti itu. Kalau seperti itu, pasti sampai sekarang kalian tidak pernah merasakan roti buatan Ibu,” jawab saya membela diri.

Banyak orang pintar.
Dan saya menikmati proses menjadi seorang ibu dan perempuan yang biasa-biasa saja. Untuk tidak berhenti belajar tentu saja.