Ajarilah Anak Tetanggamu Membaca dan Menulis

tonggo-6

Mengajarkan anak membaca dan menulis?
Itu kebiasaan yang sudah saya rencanakan, bahkan sejak saya belum menikah. Kelak jika saya punya anak, saya akan ajarkan kebiasaan membaca dan menulis.
Karena apa? Karena kegiatan membaca akan membuat mereka memiliki wawasan yang luas. Sedang kegiatan menulis akan membuat mereka menjadi manusia yang bisa mengolah beban yang ada di hati mereka. Mereka bisa menuntaskan semuanya jadi sebuah tulisan.

Anak-anak saya, kalau senang ke toko buku, itu wajar namanya. Kalau mereka bisa menulis itu biasa namanya. Karena dua kemampuan itu yang selalu ajarkan setiap harinya. Bahkan di saat mereka sibuk pun, saya minta mereka luangkan waktu seminggu sekali untuk membaca dan menulis.

Tapi kalau anak tetangga?
Jujur, saya kok merasa tidak respek ketika ada membanggakan anak-anaknya berhasil, tetapi keberhasilan itu tidak memberi dampak yang signifikan untuk tetangga.
Saya kok juga tidak terlalu respek pada orang yang merasa sukses, tapi tetangganya justru berada jauh dari kata sukses.

Tetangga itu saudara paling dekat.
Susah kita, senang kita, akan terlihat oleh tetangga kiri kanan kita. Musibah kita misalnya diuji sakit atau bencana, mungkin akan membuat kerabat kita membantu. Tapi orang yang pertama kali tahu dan mengulurkan tangan adalah tetangga. Jika kita biasa berbuat baik dengan tetangga, maka timbal balik pun akan datang pada kita. Jika kita biasa menutup aib mereka, maka ketika kita memiliki aib pun, mereka akan melakukan hal yang sama.

Ajarkan Apa yang Mampu Diajarkan

“Kejarlah cita-citamu setinggi langit, tapi jangan lupa pasir di tanah.”

Itu kata mutiara yang dulu ditulis oleh teman saya dalam sebuah buku. Kalimat entah dari mana, tapi membuat saya berpikir panjang.
Pasir di tanah, tempat berpijak, sesuatu yang ada di dekat kita. Tidak boleh dilupakan.
Semua mengejar banyak cita-cita. Keliling dunia. Menjadi sukses. Lalu berbuat untuk orang banyak. Ukuran mereka tinggi sekali, sampai-sampai lingkungan sekitar tidak dianggap alias tidak ada.
Saya kenal beberapa orang yang pindah dari satu tempat ke tempat lain. mencari lingkungan yang dianggapnya pas sesuai selera.
Sempat berpikir, kenapa ia tidak berjuang merubah lingkungan tempat tinggalnya.

Iya. Anggap saja lingkungan kita adalah amanah untuk kita. Sama seperti amanah anak.
Jika buruk bantu memperbaiki. Jangan lepaskan begitu saja.
Saya pernah merasakan tinggal di rumah susun yang tidak kenal penghuni di depan rumahnya, padahal hanya beda dua langkah saja. Yang segan untuk menegur karena masing-masing seolah memasang tanda di kening mereka, jangan tanya macam-macam. Saya pernah tinggal mengontrak di Jakarta yang sebelahnya orang Nigeria beristri perempuan Bandung. Ketika si istri mengobrol lama dengan saya, malamnya terjadi pertengkaran sengit. Suami seolah tidak suka si istri bicara banyak pada tetangga. Entah apa alasannya.

Saya pernah tinggal di kontrakkan yang lain dalam satu rumah dengan dua lantai. Saya menempati lantai pertama, sedang lantai kedua dihuni oleh beberapa penghuni yang tinggal di kamar-kamar kecil. Profesi mereka dari pedagang nasi goreng, sampai supir. Bahkan akhirnya saya tahu kalau ada yang berdagang tubuh alias PSK dan copet, lelaki tampan yang selalu siap bekerja di saat ada tabligh akbar atau keramaian lainnya.
Dulu sebagai pengontrak tidak kuat rasanya tangan mengubah.

Setelah memiliki anak, yang saya tahu anak saya tidak boleh pintar sendiri.
Yang saya tahu, buku saya tidak boleh saya lahap sendiri.
Yang saya tahu, jika anak-anak saya tahu ada teman lain yang suka membaca dan bisa menulis, maka mereka tidak merasa asing.
Sejak itu saya mulai bergerilya dari satu sekolah negeri ke sekolah negeri lainnya, untuk mengajarkan menulis.

Lingkungan yang baik tidak tercipta dengan sendirinya.
Kita yang sadar harusnya bergerak untuk menjalankan amanah itu.
Saya suka membaca, banyak buku di rumah, maka saya bertanggung jawab untuk itu pada lingkungan saya.
Yang bisa memasak, bertanggung jawab untuk hal itu.
Yang bisa membuat kerajinan juga sama.
Langkah kecil itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dan tentu saja, akan membuat kita tersenyum karenanya.

2 thoughts on “Ajarilah Anak Tetanggamu Membaca dan Menulis

Comments are closed.