Proses itu Mahal Harganya

kue-aku

Tidak ada yang murah, begitu yang selalu saya katakan pada anak-anak.
Tidak ada yang bisa langsung jadi, tapi semua harus patuh menjalani proses. Itu saya katakan pada Sulung saya, yang agak kaget ketika liburan ini saya alokasikan dana untuk ia ikut pesantren kilat.

Ada banyak proses.
Saya berproses panjang sebagai Ibu. Dari mulai Ibu yang tidak bisa masak, jadi bisa sedikit masak belakangan ini. Alhamdulillah.
Dari mulai orientasi pada karir, sekarang fokus pada karir dalam rumah tangga.
Dari mulai jadi istri yang merasa harus sejajar, artinya kalau istri bisa menghasilkan uang sama seperti suami, artinya lakukan apa yang dibisa tidak perlu dilayani, sampai akhirnya jadi istri yang punya kesadaran penuh untuk melayani suami dan tetap memiliki penghasilan.
Dari mulai tidak ada minuman untuk suami di pagi hari, sampai ada dan siap membuatkan apa yang suami inginkan.

Ada banyak proses.
Orangtua berproses anak harus mengerti, pasangan harus rajin mengingatkan.
Anak berproses, orangtua harus sabar mengikutinya. Jangan langsung memberi cap negatif.

Sulung saya sudah mulai agak susah diperintah orangtua.
Ada tugas-tugas rutin yang jadi tanggung jawabnya memang. Seperti gembok pintu pagar, itu jadi tugasnya dia. Otomatis dia akan mengerjakannya. Tapi tugas yang lain, saya harus buka suara untuk selalu mengingatkan.
Harus selalu mengingatkan?
Iya, saya anggap proses mengingatkan terus-menerus itu adalah rangkaian doa yang diulang. Kelak pada satu titik, ia akan otomatis bisa melakukannya.

“Kalau temanku manggil terus kamu langsung cepat menemui dia, lakukan pada orangtua juga. Sama seperti orangtua juga langsung berjuang untuk memenuhi kebutuhan anak termasuk bayaran sekolah.”
“Kalau orangtua melakukan hal yang baik, turuti. Karena orientasi orangtua kamu dan orangtua lain bisa jadi berbeda. Bersyukur.”

Diskusi, diskusi dan diskusi.
Lakukan komunikasi pada saat di mana perut mereka kenyang dan pikiran mereka santai.
Jangan ketika mereka sedang kelaparan karena Ibu malas masak dan ketika sedang sibuk mengerjakan PR.

Sulung memang berencana masuk ke pesantren. Dia yang minta, dia yang memilih pesantrennya. Tugas saya hanya mendaftar sambil terus bicara dengannya. “Tolong Ibu sebagai orangtua. Jadilah anak yang paham agama, jadi Ibu tidak malu kalau ditanya Allah kelak.”
Tapi seringnya lingkungan menarik begitu keras.
Libur artinya libur.
Tahun baru artinya rencana begadang bersama teman yang lain.

Maka bicara dan bicara lagi saya lakukan.
Akan zaman yang semakin bergejolak dan waktu yang terbuang sia-sia.
“Ibu akan berdoa dalam tahajud,” ujar saya padanya. “Agar Allah lembutkan hatimu.”

Proses itu mahal harganya.
Sadar diri bahwa ketika ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi, kita harus mau berproses lebih banyak lagi.
Saya juga terus berproses.
Jadi Ibu yang baik dan semakin baik lagi.
Termasuk rajin masuk dapur untuk mememnuhi perut anak-anak dan pasangan.