Dalam Semangkuk Seblak

kue-aku-3

“Duh, Ibu beli seblak, dong,” Sulung mulai meminta.
Semangkul seblak artinya sepuluh ribu rupiah.
Ada empat orang di keluarga kecil ini. Artinya akan ada empat mangkuk seblak.

“Bu. Jangan pelit-pelit kenapa,” Sulung mulai merayu.
Hiks, ini bukan masalah pelit. Ini masalah efisiensi biaya.
Ibu mencoba mengingat. Dalam semangkuk seblak ada sosis, kerupuk, mie dan yang lainnya.
“Mending buat sendiri, Mbak. Murah,” begitu kata adik ipar mengompori.
“Kencur ini untuk seblak,” begitu kata seorang Ibu di tukang sayur, ketika saya bertanya kenapa ia membeli banyak kencur.
“Seblak dari Bandung pakai kerupuk yang disiram air panas,” ujar seorang tetangga dari Bandung.

Seblak namanya.
Kata ipar bumbunya hanya cabe, bawang merah, bawang putih dakn kencur.
Kata resep di internet bumbunya cabe, bawang merah, bawang putih, tomat dan air asam. Ibu coba yang ini. Hasilnya seblak terasa asam.
“Jangan pakai asam,” ujar suami.

Kerupuk beli seperapat saja. Gunakan separuh. Siram dengan air mendidih sampai empuk.
Bakso potong kecil-kecil. Sosis juga.
Ulek cabai, bawang merah dan bawang putih dan tomat juga beberapa ruas kencur.
Semuanya sesuai selera.
Saya gunakan dua buah cabai, tiga bawang merah dan dua bawang putih, satu tomat kecil dan 4 ruas kencur. Lalu tumis.
Masukkan bakso, sosis yang sudah dipotong kecil.
Beri air segelas. Masukkan kerupuk yang sudah diseduh air panas, mie, dan garam.
Boleh masukkan sayuran lain. Seperti sawi putih dan yang lain.

Setelah itu hidangkan dengan taburan daun bawang.