Berubah Mulai dari Hal Terkecil

ajeng

Mulai dari yang kecil dulu. Intropeksi diri sendiri dulu. Itu sih yang selalu saya katakan pada orang rumah.
Makanya ada banyak tempelan, termasuk tempelan di kamar mandi. Salah satunya cara mandi wajib dengan urutannya.
Maklum sudah punya dua abege, jadi biar mereka paham tata caranya.

Suatu hari kami diskusi soal mimpi basah. Sulung bertanya. “Jadi mandi yang Ibu tempel di kamar mandi benar gak, sih? Kok aku beda?”
“Kan ada dua cara. Satu dari Maimunah satu dari Aisyah. Bisa pakai salah satu cara dari keduanya. Yang afdol dengan menggabungkannya. Yang Ibu tempel yang dari Maimunah.”
Sulung mengangguk.
“Yang penting setiap Jumat niatkan untuk mandi wajib, ya.”
“Iya, aku udah tahu.”
Bola mata adiknya membesar. “Mimpi basah itu apa?”
Lalu Sulung bercerita dan si adik tertawa.
Hal-hal sederhana dan kecil itu sering luput dari justru kita sepelekan.
Seperti hal sederhana lain, yang akhirnya membuat anak jadi cerewet juga.
“Ibu, minum harus duduk. Ibu tahu kalau minum duduk, air jadi akan tersaring.”
“Ibu, jangan pakai baju warna itu lagi. Masa ibu-ibu udah tua masih mau terus muda?”
“Ibu, itu kerudung Ibu kurang panjang. Tarik ke bawah kuncirannya biar enggak seperti punuk unta.”
Mulai dari hal paling kecil.
Masuk kamar mandi pakai kaki kiri ke luar dengan kaki kanan.
Masuk rumah ucapkan salam.
Ke luar WC ucapkan Ghufroonaka (Ya Allah ampuni saya). Kenapa minta ampun? Karena untuk hal yang kita anggap sepele, buang kotoran, tanpa campur tangan Allah kita tidak bisa apa-apa.

Jadi teringat yang dikatakan seorang ustadzah beberapa waktu yang lalu.
Mulai dari diri sendiri dan hal-hal kecil dahulu. Bisa jadi seorang hamba sudah hampir masuk ke neraka, tapi tiba-tiba dikejutkan oleh pahala dari amalannya. Ternyata pahala dari amalan yang dianggap kecil itu yang bertumpuk menjadi besar, dan bisa membawanya ke surga.
Pada saat mendengar itu saya malah berpikir sebaliknya.
Jangan-jangan, bisa jadi kita sudah siap masuk ke surga kelak, lalu tiba-tiba ada dosa yang menyeret kita akhirnya batal masuk surga.

Sesuatu yang mungkin kita anggap kecil seperti menyepelekan orang lain atau mungkin mencela. Kecil, tidak terasa, tapi imbasnya luar biasa. Apalagi jika dilakukan terus-menerus.
“Mulai dari diri sendiri dari hal kecil,” itu yang selalu saya ingatkan pada anak-anak.
Tularkan pada orang lain.
Biarkan orang menjadi senang dalam beragama. Merasa tentram. Setelah itu jadi haus untuk menambah ilmu.

Alhamdulillah sudah diterapkan di Liqo setiap Selasa.
Setelah qiraah Quran, kami setor hafalan Quran yang kami dapat selama satu minggu, lalu disambung tausiah.
Sebulan sekali jadwal seorang untuk maju, membacakan hafalannya di depan anggota lain. Hari ini giliran saya.
Setelah itu bisa sharing apa saja.
Kali ini kami belajar bikin adonan roti.
Saya diajar oleh tetangga saya ini. Mantan pegawai yang sekarang fokus membuat kue dan menerima pesanan. Saya lagi menghasut si ibu ini, agar mau bikin blog dan juga mengoptimalkan IG-nya.
Sudah siap-siap belajar nulis juga katanya.
“Pokoknya nanti saya ajarin nulis, ya, Mama Bilqis,” begitu katanya.
Kalau sudah begini, indah rasanya menjadi muslim.