Sebab Al Quran Bukan Tongkat Sulap, Nak

Magician wand

Al Quran. Ada getaran tersendiri setiap kali membukanya. Berbaris di kamar saya. Masing-masing kami punya dua. Untuk saya, satu untuk saya gunakan mengaji rutin mengejar target satu juz (Qiraah) setiap hari. Biasanya untuk ini, saya berjuang melakukannya setelah salat tahajud atau setelah salat Subuh. Satu untuk saya baca dengan memahami artinya (tilawah). Saya juga berjuang untuk melakukannya setiap hari. Satunya, saya gunakan telepon genggam dengan Al Quran versi android yang qorinya bisa bersuara hingga saya bisa memilih yang paling sreg di telinga. Yang itu khusus untuk menghafal dan mengulang hafalan Al Quran saya.
Anak-anak di rumah punya tiga. Satu untuk dibawa ke sekolah, satu untuk dibaca di rumah, dan satu dibawa ketika mereka berpergian.
Suami juga punya, hanya satu. Satunya menggunakan aplikasi HP untuk hafalan.

Ada getaran sendiri dan ikatan yang membuat Al Quran jadi begitu penting. Penting untuk saya karena semuanya saya pelajari secara perlahan tapi pasti. Dengan proses panjang.
Panjaaang. Dari mulai merasa bisa, karena sudah mengaji sejak kecil di madrasah. Lalu merasa bisa hanya dengan panduan membaca dan melihat yang tersaji di youtube dan radio.
Sampai akhirnya tersadar, bahwa ternyata saya belum bisa apa-apa.

“Ibu baca Al Quran pagi-pagi buat apa?” tanya Bungsu.
Saya mengangguk. “Ini benteng. Cara membuat waktu bisa Ibu kendalikan.”

Ada kewajiban di rumah untuk setiap hari membaca Al Quran. Ah, terkadang saya juga suka mengancam dengan dunia gelap di alam kubur, yang akan bisa diterangi dengan amal dan Al Quran yang kita baca.
Anak-anak bersekolah di sekolah semi pesantren, yang di rumah hanya numpang tidur. Karena guru juga terus mengontrol bahkan hingga akun ke sosial media.
Saya terjaga.
Tapi saya juga menyadari bahwa terkadang anak-anak butuh sesuatu bukan sekedar doktrin. Doktrin bahwa harus begini karena…, harus begitu karena….
Duh, anak saya adalah produk saya. Saya dulu tidak bisa langsung terima ketika orangtua berkata. Saya minta penjelasan agar saya lebih paham.

Al Quran Ajaib

“Ibu tahu. Teman-temanku yang sepuluh besar itu, hobinya pada main game.”
Deg, saya mencoba mencerna perkataannya.
“Yang penting hafalin Al Quran saja.”
Oooh, saya setuju itu. Dulu ketika saya bolos ngaji satu hari saja, lalu besoknya ulangan. Maka nilai ulangan saya sudah pasti jelek. Bukan karena pola pikir atau saya membentuk opini seperti itu. Tapi karena memang selalu itu terjadi.
Anak-anak juga tahu ketika mereka sakit, maka yang pertama saya lakukan adalah berzikir di dekat mereka, memberikan air putih yang saya bacakan doa untuk mereka. Lalu saya pijat-pijat tubuh mereka sambil saya bacakan asmaul husna. Alhamdulillah cara seperti itu membuat kami tidak menjadi langganan dokter. Cara itu saya dapatkan dari Bapak.

“Hafalan saja, Bu…”
Iya. Hafalan. Saya sering ajarkan pada anak-anak. Tentang sebuah pesantren yang hanya mengajarkan kecintaan pada Al Quran bukan kurikulum pelajaran sekolah. Tapi murid-muridnya bisa mendapat nilai tinggi ketika tes ikut ujian persamaan. Padahal hanya belajar tiga bulan.
Saya coba amati Sulung. IQ nya di atas rata-rata. Ia mudah menguasai sesuatu, dan cenderung mudah bosan. Sama seperti saya, suka kotak-katik. Mudah menguasai dengan cepat. Tapi mudah bosan. Hanya dunia menulis yang membuat saya tidak pernah bosan. Sulung juga seperti itu, hanya dunia bola yang membuatnya tidak pernah bosan.
Nilai pelajarannya?
Sulung selalu berada pada posisi anak-anak berprestasi dari SD sampai sekarang. Ketika pada rapor bayangan nilainya menurun, guru-gurunya saling bertanya, apa yang terjadi dengannya?

“Bu…, ada bola nanti malam,” katanya.
Iya cuma bola yang membuatnya bergairah. Ia akan merayu meski tidak pernah saya kabulkan untuk membeli tiket pertandingan bola. Duh, saya takut kalau-kalau salat-nya jadi terbengkalai, karena itu saya selalu menolak permintaannya untuk menonton bola. Ayahnya takut karena pernah berada pada satu pertandingan sepak bola dan terjadi kericuhan.
Maka televisi yang sengaja saya taruh di kamar atas, yang tidak dihuni hanya tempat saya menaruh setrikaan, seringnya menjadi tempatnya untuk menyendiri menonton bola. Kadang turun sambil berteriak. “Ibu…., goool. Ayo, Ayah, nonton bareng aku. Lihat, tuh. Arema kalah.”
Kadang-kadang dia merayu. “Buu, itu bepe kesukaan Ibu. Ada bepe main.”
Saya memang suka dengan Bambang Pamungkas. Alasannya dia tidak mudah emosi alias tenang. Setenang Ruud Gullit pemain bola kesukaan saya dulu, yang juga pernah membuat saya rela begadang.”
Kadang-kadang dia mengusir. “Ibuuu, jangan ke sini. Aku heran sama Ibu, kalau aku lagi nonton bola ada Ibu, pasti tim kesayanganku kalah. Kalau gak ada Ibu bisa menang.”

Biasanya dia juga merayu ke saya. “Bu, aku mau tahajud nanti malam.”
“Tahajud biar bisa nonton bola?” saya biasanya sudah bisa menebak.
“Ibu dulu begitu?”
Saya toh harus belajar jujur, bahwa saya juga pernah muda dan pernah melakukan hal yang sama. Sehingga anak akan tahu kalau ibunya tidak sempurna. Dan mereka merasa punya orang yang bisa dipercaya karena sama-sama pernah melakukan hal yang sama (Teori komunikasi bilang ini adalah field of experienced).
Saya mengangguk. “Tapi sekarang sayang. Sayang kalau tahajud Ibu diganti cuma sama nonton bola.”
“Terang aja, Ibu kan udah tua.”

Bukan Tongkat Sulap

Sulung sekarang kelas 9. Sebentar lagi dia tes masuk pesantren. Setiap pulang sekolah dia akan mencari video qori kesukaannya. Sungguh, saya juga tahu nama-nama qori dari Sulung. Saya juga jadi tahu lagu yang dinyanyikan qori. Dulu saya pernah belajar selama tiga tahun menjadi qiraah dari seorang qori yang menang di Medinah. Tapi ternyata saya menyadari kelemahan saya. Suara saya tidak merdu. Untunglah tidak merdu, mungkin kalau suara saya merdu, saya disibukkan dengan memamerkan suara saya di sana-sini.

Saya lebih banyak di rumah. Jarang bersentuhan dengan televisi. Seringnya bersentuhan dengan komputer. Tapi ketika anak-anak pulang, komputer juga sudah saya tutup. Karena saya ingin fokus dengan mereka. Kalaupun ada murid-murid yang datang ke rumah, itu juga pada saat Jumat dan Sabtu sore, di saat anak-anak juga luang. Dan mereka paham itu juga menerima, termasuk tidak akan meminta kue yang saya sediakan untuk anak-anak yang datang. Termasuk jika ada satu kue tersisa, mereka akan relakan untuk yang datang.
Artinya apa? Artinya saya tahu apa yang mereka lakukan.

Semalam saya lihat aktivitas Sulung. Besok UAS. Dia menyetel Al Kahfi qori kesukaannya Hasballah.
Sudah, dia sudah membaca Al Quran. Hari Minggu kemarin dia tidur lagi setelah salat Subuh. Tapi sesudah maghrib dia kembali tiduran di atas tempat tidur saya.
Saya tahu ada yang salah. Mukjizat Al Quran rasanya sudah dianggap seperti tongkat sulap olehnya. Bahwa dia tidak perlu belajar tapi dengarkan saja Al Quran.

“Kamu tahu…,” ujar saya di sebelahnya. “Kenapa santri-santri yang hafal Quran nilainya tinggi?”
Dia masih diam.
“Karena Al Quran menguasai otaknya. Bukan sedikit dari otaknya.”
Dia masih diam.
“Kamu tahu, kenapa Ibu terus belajar, ngaji di sana ngaji di sini? Karena Ibu merasa bodoh. Kalau Ibu merasa pintar, maka setan akan masuk dari banyak pintu. Setan akan merasa berhasil kalau membuat orang yang suka belajar, jadi berhenti belajar.”
Badannya mulai bergerak. Mungkin tidak nyaman.
“Kamu tahu, kenapa ayat pertama itu Iqra?”
Tahu, Bu. Bacalah, bacalah. Makanya Ibu suka bacakan? Iya, aku tahu Ibu memang pintar.”

Dia mulai tidak nyaman. Ada jawaban itu artinya mulai terbuka pintu komunikasi.
“Al Quran menguasai seluruh kepala. Itu artinya tidak ada yang lain yang menguasai. Kalaupun ada maka porsinya itu kecil. Kalau kamu? Bola menguasai.”
“Ibu tahu. Karena bola temanku jadi banyak. Teman, Bu. Yang bikin aku bisa tukar pikiran, yang bikin aku bisa ke mana-mana.”
“Ibu ngerti,” saya mengangguk. “Ibu enggak melarang kamu berteman. Tapi tolong lakukan bakti pada orangtua. Dengan cara apa? Sebagai pelajar, jadilah pelajar yang baik. Saatnya belajar, belajarlah. Tidak mungkin berhasil kalau tanpa belajar, hanya setel Al Quran terus menganggap Al Quran seperti tongkat ajaib. Enggak akan bisa.”
Hening.
Pas kebetulan suami sedang menyetel radio dengan ceramah tentang bakti anak. Sulung mendengarkan. Ini bukan kesengajaan. Radio itu menyala sepanjang suami di depan komputernya. Dan pas selesai saya menasehati, seorang ustadz memberikan materi tentang hal itu.
Si anak berdiri.
Ke kamar atas.
“Jangan dikecilin tivinya, ya. Belajar, ya, belajar.”
“Kok Ibu tahu, sih? Iiih, kenapa Ibu selalu tahu?” ujarnya naik ke kamar atas.

Ah, paling tidak saya si anak sudah paham apa yang saya inginkan dan saya bisa meluruskan pemahamannya tentang Al Quran.
Paginya, setelah saya libur bikin roti untuk pagi ini. Karena saya mulai bosan seminggu penuh membuat roti sendiri. Maka saya belikan roti isi untuknya. Ada dua susu coklat saya buatkan untuk keduanya.
Ibu rasanya harus mulai lagi.
Kami duduk melingkar. Saya, suami dan anak-anak.
“Jadi…, Al Quran bukan jimat. Sebab ada yang tidak mau menghafal, minta orang yang dianggap pintar nulis ayat Quran. Ditaruh di dompet, di kalung, dijadikan jimat.”
“Iya, aku tahu itu.” Kata Bungsu. “Kok bisa gitu, ya, Bu?”
“Karena banyak yang punya Quran tapi tidak mau mempelajari. Ada juga yang sudah bisa tapi tidak mau ngajak orang lain untuk bisa.”
Bungsu manggut-manggut.
Saya memandang Sulung. Sudah santai pikirannya. Semalam minta dibangunkan tahajud, ternyata saya dibuat khilaf dan baru terbangun juga pas Subuh.
“Boleh berteman dengan siapa saja,” ujar saya. Saya lihat dia mengambil dua potongan roti isi coklat. “Ibu tidak larang. Tapi ingat, teman kamu dan kamu punya kemampuan beda dan mimpi berbeda. Ada teman yang dibiarkan sama ibunya fokus di bola saja. Karena ibunya sendiri cerita, bingung enggak tahu mau gimana? Mau ngarahin seperti apa? Si anak tidak mau belajar, tidak mau apa-apa. Anaknya mau ke bola karena enak enggak usah mikir.”
Hening. Mungkin bosan.
“Kamu punya potensi. Kamu punya orangtua yang bisa mengarahkan. Muslim itu harus pintar biar tidak dipintari orang lain.”
Dia berdiri. “Aku tahu.” Masuk kamar saya dan mengulang pelajarannya lagi.

Ooh pembicaraan panjang lebar. Tapi saya puas.
Ada ruang diskusi terbuka. Ada ruang pengaruh yang masih bisa saya kuasai, hingga otaknya terbuka dan wawasannya bisa bertambah.
“Ingat menjadi terbaik dan jujur,” ujar saya ketika dia mencium tangan saya dan pergi dengan adiknya diantar oleh ayahnya.

Al Quran. Alangkah indahnya jika kita mencintainya dengan cara tidak hanya memandanginya. Tidak hanya puas dengan belajar sendiri tapi mencari guru. Karena ada ayat-ayat yang turun dalam kondisi tertentu yang harus dibantu penerjemahannya oleh ahlinya yang memang belajar untuk itu.