Seiris Roti Manis Coklat Keju

kue-5

Pagi itu seperti biasanya dua remaja mengeluh. Ada bayangan kecewa di wajah keduanya, ketika pulang dari tukang sayur, di tas belanja Ibu tidak ada kue pesanan mereka.
Kue-kue di pagi hari akan menambah belanjaan Ibu bisa sampai 15 ribu.
Kue dan kue pengganjal perut. Nasi uduk atau yang lainnya.

“Harus selalu bersyukur,” ujar saya pada kedunya.
“Ibu mau buat apa?” tanya mereka.
Terigu, mentega, ragi, coklat, keju. Ibu bongkar semuanya.
Timbangan berwarna merah, yang Ibu beli hari itu juga, setelah mempelajari resep roti di sebuah web.

“Mudah, mudah dan mudah,” begitu yang dibilang teman pengajian. Anaknya empat. Katanya di rumah selalu ada persediaan terigu dan mentega. Katanya mengolah bahan sendiri adalah salah satu cara pengiritan yang paling efektif.

Bahan sederhana dengan banyak angka.
Duh, bersentuhan dengan angka membuat kepala pusing. Suami paham saya tidak teliti dengan angka. Berapa pun uang yang ia berikan, saya tidak akan bertanya banyak. Jika kurang saya berjuang untuk mencari tambahan. Jika lebih, saya berjuang untuk memasukkan ke tabungan anak-anak.

Taizhong itu kunci utama pembuat roti.
Bahannya hanya terigu yang dicampur air pelan tapi pasti, diaduk di atas kompor.
Untuk terigu 50- gram dibutuhkan air 250 ml.
Bahan itu akan dicampur ke dalam terigu ukuran 540 gram dicampur garam, gula, fermipan, susu bubuk yang dicairkan juga mentega cair.

Ada banyak jalan menuju Roma.
Ada banyak jalan menuju apa yang saya inginkan. Bukan sebuah toko roti. Tapi dua perut remaja dan satu perut suami yang akan terisi makanan yang saya asupkan doa di setiap racikannya, dengan bahan yang saya ketahui betul tingkat kehalalannya.

Semua bahan sudah dipersiapkan. Ditimbang. Ikuti aturan resep. Belajar mengakrabi angka.
Taizhong alias biang roti.
Awalnya Ibu mencoba memahami 50 gram terigu dengan 250 ml air.
Akhirnya Ibu pahami bahwa 50 gram terigu bisa ditakar dengan seggenggam terigu dan segelas air.
Kedua bahan dicampur di atas kompor.
Terigu dan sedikit air, diaduk di api kecil. Kecil saja. Tambahi air sedikit demi sedikit. Karena langsung segelas air, hanya akan membuat terigu menggumpal.
Terus aduk hingga menjadi seperti lem.
Encerkan 50 gram mentega.
Tapi suami suka dengan kue banyak mentega. Maka 50 gram akhirnya berubah menjadi separuh mentega isi 200 gram.

Sebuah wadah lain.
Terigu 540 gram ditambahi gula 86 gram. Angka-angka itu mengusik konsentrasi.
Terigu 500 gram terlalu banyak. Gunakan sepatuh lebih sedikit.
Tambahi gula tiga sendok atau sesuai selera. Tambahi sedikit garam. Aduk dengan sendok.
Campurkan taizong. Putar mikser menggunakan putaran berbentuk spiral. Bercampurlah semua bahan.
Gunakan ragi pengembang satu sendok teh saja.
Satu sachet vanila.
Satu sachet susu putih merek D.
Lupakan telur, lupakan. Tidak perlu menggunakannya.
Aduk terus.
Tambahi mentega cair.
Terus putar.
Hentikan dan perhatikan bahan di dalamnya. Sudahkan tercampur sempurna. Lalu gunakan tangan untuk membuatnya tercampur sempurna.
Ambil wadah yang sudah diolesi minyak sayur. Sedikit saja. Adonan itu sekali lagi diuleni dengan tangan.
Letakkan di wadah dengan minyak sayur. Diamkan minimal 30 menit.
Dia akan mengembang, membesar dan empuk.

Ah api harus dinyalakan.
Tidak perlu api besar. Siapkan oven. Panaskan.

Adonan yang sudah membesar itu, ambil beberapa bagian, lalu tipiskan.
Isi parutan keju dan taburan coklat.
Lalu gulung. Tempatkan dalam wadah yang kecil saja berbentuk bujur sangkar.
Biarkan pas dengan wadahnya.
Lalu olesi atasnya dengan kocokan telur. Jangan katakan tidak ada kuas. Sebab akal sehat bisa mengantar kita menggunakan sendok dioleskan sedikit demi sedikit.
Atas nama oven yang sudah menyala, biarkan adonan itu masuk ke dalamnya.
Jangan pergi. Karena lalai sering hinggap jika berjauhan.
Tunggu 15 menit.
Lihatlah perubahan bagian atasnya.
Pindahkan ke bagian tengah atau atas.
Setelah cukup bagian atasnya berwarna coklat, ambil.

Resapi harumnya, harum mentega dan terigu yang tercampur. Meski tidak seharum roti dengan aroma menyengat yang tidak pernah diketahui kehalalannya.
Iris pelan penuh perasaan.

Ah, pagi itu tidak seperti biasanya.
Sudah ada tiga pagi.
Bola mata mereka melebar sempurna.
“Ibuu, rotinya enak.”