Belajar Empati Lewat Cerita Anak

img-20160628-wa0000

Empati?
Apa itu empati?
Dulu saya tahunya, sih, hanya simpati. Kalau ada orang jatuh, kasihan. Sudah begitu saja. Kalau ada orang kehilangan, kasihan. Sudah berlalu saja. Kalau ada orang kelihatan menangis di depan kita, sudah biarkan saja.
Itu simpati namanya. Tumbuh rasa kasihan. Tapi tidak bergerak dari rasa itu.

Empati jelas berbeda dengan simpati.
Empati lebih masuk ke dalam hati. Empati itu memosisikan diri kita sama seperti orang lain. Ketika kita melihat ada orang yang jatuh dan berdarah, kita merasakan rasa sakit yang sama. Dan rasa itu membuat kita bergerak untuk akhirnya mendekati orang tersebut, untuk memberi pertolongan.
Ketika ada orang menangis, kita merasakan sakit yang sama. Dan akhirnya rasa itu membuat kita duduk di dekatnya, dengan keinginan untuk menghibur dirinya.

Ada banyak pelajaran empati.
Empati akan mengasah banyak hal, termasuk bagaimana cara berkomunikasi yang baik.
Untuk anak-anak, proses pengajaran yang paling efektif adalah dengan teladan. Orangtua langsung memberi contoh. Tentunya diperlukan orangtua yang sadar akan hal itu.

Jika orangtua tidak paham apa yang harus dilakukan?
Bacakan buku cerita dan pilih buku yang bisa mengajarkan anak untuk sedikit demi sedikit paham akan hal itu.
Ada banyak buku tentang itu, salah satunya adalah buku ini.

Ada 15 cerita dalam buku Permen (Pendidikan Empati dan Motivasi untuk Anak). Ke 15 cerita itu adalah cerita keseharian yang dialami oleh anak-anak.
Mulai dari cerita anak yang diajarkan empati pada ibunya yang berjualan. Dan jualannya itu tidak laku. Sampai pada satu titik, justru ketika si Ibu yakin rezeki adanya di tangan Allah dan anak sudah putus asa, justru pada saat itu seseorang memanggil untuk memborong kue-kue tersebut (halaman 11).

Ada juga cerita tentang Rena dalam “Sepatu dari Meri” (halaman 37). Rena kebingungan mendapatkan sepatu bagus dari Meri, tapi sepatu itu ternyata ukuran nomornya berbeda kiri dan kanan.

Ada juga tentang Bee yang bingung dalam “Ide Boros Ayah”. Kenapa si Ayah suka sekali jajan. Setiap tukang jajanan lewat pasti dipanggil Ayah untuk dibeli (halaman 48.

Lalu apa yang membuat cerita di dalamnya bisa mengasah empati?
Ada pelajaran untuk tidak langsung menuduh dalam 15 cerita yang ada. Semua harus berproses belajar, meski dalam belajar itu pada akhirnya akan muncul rasa tidak sabar.
Tidak boleh menuduh, tapi coba dekati orang yang dicurigai itu. Siapa tahu dia tidak bermaksud seperti itu.

Contoh dalam kisah “Sepatu dari Meri.” Rena tahu kalau sepatu itu besar sebelah, tadi dia tidak mau bertanya langsung pada Meri, karena tidak enak hati. Jadi Rena menyimpan saja sepatu itu. Meski ada rasa sedikit kecewa di dalam hatinya.
Tapi akhirnya justru Meri bicara. Kalau sepatu itu sepatu kesayangannya. Dan sepatu itu Meri beli dan tidak dipakai, karena Meri salah mengambil sepatu dengan nomor yang berbeda.

Dalam ilmu komunikasi ada standar baku.
Bahwa salah satu tanda komunikasi berhasil adalah, ketika pesan yang disampaikan oleh komunikator (pelempar pesan) diterima dengan baik oleh komunikan (si penerima pesan).
Pesan-pesan sederhana untuk mengajarkan cara berempati yang baik di dalam buku ini, ditulis juga dengan sederhana. Dengan harapan adik-adik yang membacanya akan menjadi mudah terbentuk empatinya, meskipun mereka membaca buku itu sendiri tanpa didampingi orangtua.