Segenggam Dunia untuk Nenek

img-20160510-wa0005

“Senajan aku ki ora tau sekolah tapi kowe kudu sekolah sing dhuwur yo, Ngger, ben pinter dadi Presiden.”

***

Aku tahu arti sebuah kenangan. Kenangan yang melekat menjadi pelecut untuk prestasi lebih tinggi lagi. Kalimat Nenek itu terus melekat di benakku.
Jepang di musim dingin membuat aku harus sering-sering merapatkan jaket. Kabut dan hujan rintik-rintik sering menemaniku.

Aku di sini untuk presentasi paper penelitian di Osaka. Ada amanah juga yang harus aku jalani sebagai Session Chair dalam konferensi tersebut. Osaka 1st International Conference on Bussiness Economics Social Science and Humanities BESSH 2016. Sebuah paper dengan judul Peer Assisted Learning Program: How does It Contribute to Build Positive Learning Environment for Language Learners? akan aku jabarkan di depan para tamu undangan yang hadir.
Sebuah meeting room dengan banyak meja dan kursi. Akan ada banyak tamu dari berbagai negara. Ini pengalaman kesekian kalinya aku menjelajah negara lain dalam rangka presentasi ilmiah.
Tidak akan ada soto ayam kesukaanku dengan aroma khas bumbu rempah. Tidak ada wajah penuh senyum yang dihiasi keriput yang akan memandangi wajahku sambil bertanya, “Tambah lagi, ya, Le .…”
Aku menarik napas panjang.
Bayangan wajah almarhumah Nenek berkelebat di langit Osaka yang mulai gelap.

**

Panggil aku Iqwan atau Iwan saja. Anak pertama dari dua bersaudara yang sejak kecil dalam pengasuhan Nenek juga Kakek. Ayah harus ke Semarang untuk bekerja. Ibu dan satu adikku ikut ke sana. Lahirku di Ponorogo, 8 Mei 1994.
Pernah aku hanya punya mimpi untuk terus berada di samping Nenek. Merasakan aroma tubuh Nenek dan merasakan kehangatan pelukan Nenek. Pernah aku takut untuk bermimpi setinggi-tingginya. Sebab aku takut kehilangan. Aku takut perpisahan. Perpisahan dengan Bapak dan Ibu juga adikku selama lima tahun sudah cukup meninggalkan jejak ketakutan untuk diriku.

“Cita-citamu ingin jadi apa?” tanya Nenek.
Aku memandangi Nenek. “Nenek mau jadi apa?”
Nenek tertawa. Memandang satu gambar yang tergantung di dinding rumah. Gambar Kakbah. Lalu tangan Nenek menggenggam tanganku. Aku tahu apa yang Nenek inginkan. Aku mengerti Nenek ingin sekali bisa merasakan pergi haji bersama.
“Kita nanti pergi bersama, Nek …,” ujarku memeluknya.

***

Ketika namaku diumumkan, aku tahu wajah siapa yang berkelebat di benakku. Nenek dan wajah-wajah orang yang mencintaiku.
Best presenter dalam Global Youth Enterpreneurship Summit 2015.
Jantungku berdebar kencang. Global Youth Enterpreneurship Summit (GYES) yang diadakan oleh National University of Singapore Enterpreneur Society membuatku terbayang suatu masa. Sebuah masa ketika aku belajar berani untuk menghimpun mimpiku.

Mimpiku sederhana seperti anak-anak yang lain. Ponorogo yang tenang menghadirkan ketenangan juga di dalam pikiranku. Bermain di sawah, sungai, dan tanah lapang adalah keseharianku.
Semakin besar aku semakin tahu bahwa aku harus punya mimpi. Aku mulai membandingkan mimpiku dengan mimpi teman-teman yang lain. Mereka selalu berkata bahwa mimpi mereka adalah kuliah di kota pelajar Yogyakarta, di sebuah universitas terkenal. Aku ikut terpengaruh mereka dan menggenggam satu mimpi saja. Kuliah di kampus negeri yang cukup terkenal.
“Jangan lupa sholat,” pesan Bapak dan Ibu padaku.

Nenek juga memelukku. Mengelus-elus punggungku. Aku lihat matanya berkaca-kaca. Bertahun-tahun tinggal bersama, di bawah atap yang sama, membuat aku juga sedih dengan perpisahan ini.
Namun, aku harus memulai mimpiku. Aku dipenuhi semangat dan keyakinan bisa lolos tes perguruan tinggi yang aku inginkan. Rupanya Yang Kuasa berkehendak lain. Aku gagal. Rasanya ingin kembali ke pangkuan Nenek dan menyerah saat itu juga.
Paklik Kustomo bicara padaku. Tentang banyak hal. Termasuk banyak kesempatan di tempat lain.
Aku menggeleng, tidak semangat lagi. Ketika Paklik mengajakku melihat kampus Universitas Ahmad Dahlan semangat itu tetap tak tumbuh.

“Kamu mau kuliah di sini?”
Aku tidak bereaksi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku merasa tidak memiliki masa depan. Akhirnya aku serahkan semuanya pada Paklik. Beliau mengisi formulirku bahkan memilihkan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris untukku. Sejujurnya yang ada di benakku adalah jurusan Hubungan Internasional.
Pada suatu sore, aku dan Paklik duduk di teras depan rumahnya. Paklik bicara pelan setelah meneguk segelas kopi.

“Wan …, kalau kamu tidak bisa diterima di universitas yang terkenal, buatlah universitas yang menerimamu terkenal karena kamu.”
Kalimat itu membuat aku tersentak. Membuat universtas terkenal karena aku? Mataku memandangi jalan di depan rumah Paklik. Pikiranku justru bercabang memikirkan Nenek.
Hidupku memang mengalir. Aku kuliah, lalu ditakdirkan masuk ke komunitas debat. Kami biasa menyebutnya Debating Community. Di sana aku bertemu sosok Mas Berli. Dia orang yang pandai memberi motivasi. Pandai menjabarkan tahun-tahun ke depan yang bisa aku isi dengan prestasi dari kemampuan berdebat.
Aku pernah merasakan menjadi grandfinalist dalam National University Debating Championship kopertis wilayah 5 dan semifinalist di event yang sama di tingkat nasional.

***

Osaka di musim dingin membuat aku jadi kangen soto buatan Nenek. Negeri dingin lainnya pernah juga aku singgahi. Hongaria. Aku juga pernah ke Budapest.
Ada banyak kesedihan setiap kali mengenang almarhumah Nenek. Namun aku tahu, takdir sedih akan berdampingan dengan takdir senang.

Takdir senangku pernah jadi presenter untuk memberikan presentasi ilmiah di International conference on education teaching and learning di Linton University College Malaysia. Pada saat itu lembaga Global Research and Development Services mengadakan International Conference on Education Teaching and Learning.
Aku tahu jalanku masih panjang. Sepanjang kenanganku akan almarhumah Nenek.
Kabut di Osaka mulai turun. Aku tahu arah yang akan aku tuju.