Mengajari Anak Berdoa tanpa Perantara

bersama-ibu

“Ibu tidak bisa apa-apa. Kalian yang harus berjuang dengan berdoa.” Kalimat itu biasa saya katakan pada anak-anak, jika mereka berharap total pada saya.
Tidak.
Orangtua bukanlah makhluk sempurna. Bisa diandalkan tapi tidak bisa memenuhi semuanya. Pada saat itu anak harus paham, bahwa orangtua tetaplah manusia biasa. Yang harus mereka andalkan adalah yang menciptakan mereka.

“Berdoa minta apa, Bu?”
Berdoa minta apa saja, itu yang selalu saya katakan pada anak-anak. Iya, minta apa saja dengan penuh keyakinan, bahwa permintaan akan dikabulkan. Karena Allah lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Karena ada waktu di mana doa mudah diijabah. Karena doa yang diucapkan pada hati yang dipenuhi harap dan cinta, akan mudah terkabul.
Itulah kenapa doa Nabi Muhammad untuk Umar selama enam tahun, dikabulkan. Umar yang dianggap tidak mungkin berpindah keyakinan, berubah menjadi panglima yang setia mendampingi.
Itulah kenapa doa orangtua pada anaknya mudah untuk dikabulkan, karena orangtua punya banyak cinta untuk anaknya. Begitupun sebaliknya.

Ada waktu doa mudah untuk dikabulkan.
Pada saat sujud terakhir, antara hujan dan iqomah, juga pada saat hujan turun.
Ada cara agar doa dikabulkan. Seperti nasehat Rasul pada pamannya Sa’ad yang doanya selalu Allah kabulkan. Jaga apa yang kita makan. Haruslah makanan kita adalah makanan yang dihasilkan dengan cara yang baik, dan tidak menzalimi orang lain.

Jadi ingat zaman dulu, ketika masa abege. Saya pernah berdoa. Berdoa minta apa saja.
Minta agar Bapak tidak marah jika saya pulang dengan ulangan yang buruk. Doa agar guru ngaji saya terlambat, biar saya bisa main dulu, dan doa agar seseorang yang saya taksir juga punya perasaan yang sama.

Ada banyak doa yang dikabulkan dan ada banyak yang juga tidak.
Doa yang selalu saya ucapkan berulang-ulang dengan perasaan terzalimi terasa sampai sekarang.
Dulu tubuh saya gemuk, dan entah kenapa kok selalu ada mulut iseng yang mengatai macam-macam, padahal saya tidak melakukan hal yang saja. Maka saya berdoa. “Ya Allah, tolong buat saya kurus dan tidak pernah gendut lagi.”
Alhasil sampai sekarang, tubuh saya sulit untuk menjadi gemuk. Banyak makan sedikit, pasti perut saya akan protes dan saya akan mudah bab berkali-kali.

Tidak Perlu Perantara

Ada orang yang disucikan yang selalu dimintai doa. Ada ziarah kubur, yang harusnya membuat kita sadar bahwa hidup di dunia tidak selamanya, tapi malah dipakai untuk meminta doa dan keberkahan pada yang sudah meninggal. Ada dukun-dukun yang dimintai doa yang datang padanya.

Saya hanya belajar dari yang Bapak ajarkan.
Berdoa hanya pada Allah, tidak perlu pakai perantara. Bersihkan dulu sebersih-bersihnya.
Maka saya berdoa apa saja hingga kini.
Saya berdoa agar utang-utang kami lunas tidak menyisakan jejak, ketika suami ditipu dan usaha bangkrut menyisakan utang dan sulit makan sehari-hari.
Saya berdoa minta uang pada Allah. Tentunya saya terus bekerja. Ternyata rezeki mengalir dari mana saja. Tawaran jadi editor bahkan kemenangan di berbagai lomba menulis, membuat hutang itu lunas tak tersisa.

“Ibu…, aku mau bangun tahajud dan berdoa.”
Saya mengangguk. “Memang harus kamu yang berdoa. Sebab doa anak yang sholeh akan tembus ke langit.”
Maka di rumah, anak-anak sudah terbiasa.
Ketika ingin nilai ulangan bagus, selain belajar mereka juga bangun tengah malam untuk tahajud. Bahkan ditambah dengan puasa sunnah.
Ketika mendapat masalah, saya lihat mereka berlama-lama di atas sajadahnya.
“Jangan pernah mendoakan orang lain dengan doa yang buruk. Doakan yang terbaik untuk mereka.”
Anak-anak paham.

Saya sendiri bahagia.
Doa mereka tembus ke langit, diterima atau tidak, dikabulkan sekarang atau nanti, adalah proses untuk mereka belajar berharap dan bergantung hanya pada Allah.
Kelak mereka akan berada pada satu zaman yang sulit, yang harus melangkah sendiri karena sebuah keyakinan, tapi mereka tetap tangguh. Karena mereka yakin, ada Allah yang selalu bersama mereka.

2 thoughts on “Mengajari Anak Berdoa tanpa Perantara

  1. “Doa mereka tembus ke langit, diterima atau tidak, dikabulkan sekarang atau nanti, adalah proses untuk mereka belajar berharap dan bergantung hanya pada Allah”.

    sungguh indah kalimat ini. yup, semuanya adalah proses menuju kebaikan.

Comments are closed.