Elang untuk Bunda

DSCF2571

Bagian Pertama

Matanya tajam. Seperti elang. Begitu biasanya Bunda selalu mengatakan pada setiap bintang sinetron yang matanya menukik tajam seperti itu. Lalu biasanya Bunda akan berlama-lama memandang bintang sinetron itu dan mengikuti setiap jalan ceritanya meskipun Bunda selalu saja menggeleng setiap kali ditanya apa isi dari sinetron itu.
Matanya seperti elang. Meskipun sedang selalu menunduk tapi Naira mengingat tatapan itu.
“Om Sentot, Na,” begitu yang Bunda katakan pada Naira. Mengisyaratkan agar Naira masuk ke ruang dalam dan tidak banyak bertanya lagi.
Om Sentot namanya.
Bertamu agak lama dan bicara panjang pada Bunda. Dua gelas kopi yang dibawa Bibik tuntas dihabiskan. Ditambah satu gelas es jeruk.
“Mungkin Om Sentot akan datang lagi. Dia sedang ada masalah,” ujar Bunda pada Naira. “Jangan bilang Ayah kamu soal Om Sentot, ya?”
Naira mengerinyit.
“Please…”
Naira mengangguk. Apa susahnya tutup mulut sama Ayah? Toh Ayah tidak banyak tanya selama ini.
**
“Bunda….”
Malam ini Naira tidak memergoki Bunda menonton sinetron. Entah kenapa Bunda berlama-lama memandang album foto milik Bunda yang biasanya tersimpan di dalam lemari pakaian di bagian paling bawah.
Bunda seperti terkejut.
“Bunda lihat apa?”
Wajah Bunda kemerahan.
Foto yang Bunda lihat adalah foto Bunda ketika kuliah dulu. Satu foto Bunda sedang berdua di depan air terjun. Laki-laki berambut panjang dengan mata…
“Itu bukan foto Ayah?”
Bunda cepat menutup album foto itu. “Na…,” tangan Bunda menyentuh pundak Naira. Bunda menghembuskan napasnya dengan menggelengkan kepalanya seperti sedang ingin membuang sesuatu. “Kalau Ayahmu pulang nanti…”
Ayah tugas ke luar kota. Sudah tiga bulan. Maklum Ayah seorang militer. Naira malah dengar kalau Ayah berencana untuk menetap di kota yang kata Ayah masih berkabut ketika maghrib menjelang. Naira akan bisa melihat pelangi di puncak gunung yang dekat dengan rumah dinas Ayah.
“Memangnya…”
Bunda menepuk pipi Naira. “Om Sentot itu sedang susah, Na. Istrinya kena kanker. Om lagi dapat musibah. Dikeluarkan dari pekerjaannya. Makanya Bunda ingin menolongnya.”
“Maksud Bunda…”
“Rumah kosong dekat tempat tinggal kita kan banyak. Bunda mau cari informasi mana yang akan dikontrakkan.”
“Terus…”
“Nanti mungkin akan Bunda bayar satu atau dua bulan biar Om Sentot sedikit tenang.”
“Istrinya juga akan tinggal di situ?”
“Istrinya nanti menyusul. Istrinya masih di rumah orang tuanya. Na mau kan menyimpan rahasia ini?”
Naira mengangguk.
Wajah Bunda kelihatan cemas sekali. Tapi Naira tidak tahu apa artinya.

**
Rumah kosong yang memang sengaja tidak ditinggali pemiliknya tapi dibeli hanya untuk investasi itu ternyata tidak ada. Naira sudah mencarinya. Bunda bahkan beberapa kali mengetuk pintu rumah tetangga yang rumahnya kosong itu untuk cari informasi siapa pemiliknya.
“Kalau tidak ketemu juga mungkin…”
“Mungkin kenapa?”
Mata Bunda tertuju pada satu ruko. Tidak besar. Tertulis di papan yang ditempel di depannya kalimat dikontrakkan disertai dengan nomor telpon yang dapat dihubungi.
“Siapa tahu ini akan jadi rezeki Om Sentot,” Bunda mengambil handphonenya.
Ruko itu tingkat tiga. Kalau Om Sentot tinggal dengan istrinya berarti…
“Ruko itu terlalu besar..,” ujar Naira. “Apa Om Sentot mau buka usaha juga?”
Bunda sepertinya tidak mendengar. Bunda sedang bicara. Bicara soal angka rupiah. Kedengarannya Bunda sedang menawar.
“Bisa dibayar setengah tahun dulu. Lumayan lah. Bunda pikir tabungan Bunda cukup untuk itu. Kalau kurang kamu bisa menambahinya, kan?”
Naira tidak mengerti. Jadi Bunda itu…
“Na..,” Bunda menghelus kepala Naira. “Kalau kita menolong orang yang kesusahan pasti akan ada gantinya.”
Naira ngerti. Umur Naira sudah enam belas jelang tujuh belas. Tapi pengertian Naira tidak sampai seperti itu.
“Na…, Bunda minta tolong…”
Ayah pasti kaget kalau mendengar itu. Atau Na cerita saja sama Ayah di telpon?
“Kasihan Om Sentot itu..,” pandangan mata Bunda menerawang.
Tapi Naira melihat sesuatu yang berbeda di mata Bunda. Jangan-jangan Bunda sedang jatuh cinta!
**
Bagian Dua

Uang tabungan itu Bunda bilang dulu untuk Naira masuk kuliah. Kata Bunda, selain ikut asuransi Bunda juga menabung untuk biaya mendadak kalau-kalau ada yang sakit atau mendapat musibah.
Na bilang ingin jadi dokter. Bunda bilang Bunda akan mengusahakannya dengan mengambil sebagian dari asuransi yang jatuh tempo nanti dan tabungan yang Bunda simpan sejak Naira di sekolah dasar.
Lalu kalau tabungan itu untuk menyewa sebuah ruko…
“Ayah…,” Naira menghubungi Ayah. Sudah malam. Mungkin Ayah sudah tidur.
“Kenapa, Na?”
Ayah tidak seramah seperti Ayah-ayah teman Na yang bukan militer. Kurang tahu kenapa. Bicara dengan Ayah seperti bicara dengan orang lain. Tidak bisa akrab. Bahkan kalau butuh uang pun Na harus menimbang-nimbang kalimat yang tepat untuk disampaikan pada Ayah.
Ayah keras. Ayahnya militer dan Ayah juga militer. Tapi Ayah tidak pernah main tangan. Ayah kalau marah hanya dengan pelototan mata dan suara yang keras sudah bikin Naira tidak berani macam-macam.
“Na…”
Naira harus bicara apa, ya?
“Di dekat tempat Ayah ada kampus yang pemandangan bagus. Dan ada fakultas kedokterannya juga, Na. Kalau kamu tidak bisa masuk negri kamu bisa masuk ke dokteran di sini. Ayah sudah perhitungkan biayanya. Uang tabungan kita pasti cukup. Coba kamu tanya Bunda kamu…”
Na diam.
Justru di situ masalahnya.
“Naira.., kenapa kamu diam?”
Naira bingung. Tidak bisa bicara di telpon.
“Minggu depan Ayah akan pulang. Ada surat-surat yang Ayah harus bereskan. Sepertinya Ayah pasti ditugaskan di sini sampai beberapa tahun. Dan mau tidak mau kamu serta Bunda kamu harus ikut ke sini.”
Duh…, Na harus bilang apa ini?
“Sudah, ya? Ada tamu di luar.”
Na menghembuskan napasnya. Kalau Ayah pulang…
**
“Bagaimana ini ya, Na? Bunda sudah janji sama Om Sentot. Bunda juga sudah bilang sama pemilik ruko itu untuk membayarnya lusa.”
Ruko itu seharga dua puluh juta setahun. Untuk setengah tahun akan menghabiskan dana 10 juga.
“Kenapa Bunda tidak cari kamar kost-kostan saja?”
“Kamu ini gimana sih, Na? Om Sentot itu dulu seorang manager. Masak mau tinggal di kost-kostan kayak anak kuliah yang tidak mampu.”
“Tapi Om Sentot memang tidak mampu kan, Bunda?”
“Na!”
Lho, kok Bunda bisa melotot seperti itu? Bunda marah?
Bunda langsung masuk kamar.
Bunda kok mendadak jadi aneh seperti itu?
**
“Seperti apa sih yang namanya Om Sentot itu?”
Matanya seperti elang. Arini juga suka dengan lelaki yang matanya seperti elang.
“Na…”
“Kamu mau bantu?”
“Bantu apa?”
“Bantu menyelidiki Om Sentot?”
Arini menganggukkan kepalanya. Cita-citanya memang sejak dulu jadi detektif.
**
Ketika Naira pulang ke rumah di sore hari, Naira melihat ada 3 gelas cangkir kopi di atas meja.
Bunda jarang menerima tamu sebelumnya.
“Tamu yang waktu itu juga minum kopi banyak,” kata Bibik memandangi Naira.
“Trus Bunda?”
“Bundanya Non ada di taman belakang. Lagi melamun.”
**
Begitu Naira ke halaman belakang, Naira melihat Bunda sedang memegang ATM.
“Bunda…”
“Satu atau dua juga mungkin Bunda harus ambil, Na. Om Sentot butuh uang sekali. Kalau ruko itu menurut kamu terlalu besar tapi kalau kita kasih dp satu atau dua juta mungkin tidak akan begitu mempengaruhi uang tabungan kita.”
“Bunda…”
“Kasihan Om Sentot, Na…”
“Bunda kenapa begitu menyayangi Om Sentot?”
Bunda kelihatan kaget dengan kalimat Naira. Lalu menggelengkan kepalanya.
“Na bukan anak kecil kan, Bunda?”
Bunda mengibaskan tangannya di udara. “Kamu belum cukup umur untuk tahu apa-apa, Na.”
**
Tapi Na sudah cukup umur. Na sudah besar. Na pernah merasakan jatuh cinta. Patah hati juga.
Bunda pasti sudah jatuh cinta. Bunda pasti sudah diperdaya.
Malam itu Na menelpon Ayah.
“Kenapa, Na?” tanya Ayah. Terbatuk.
“Ayah tidak pernah menelpon Bunda?”
Ayah tertawa. Entah kenapa kedengaran di telinga Na tawa itu aneh sekali.
“Ayah tidak kangen Bunda?”
“Kamu ini, Na,” ujar Ayah pada Na. “Kalau Bundamu ditelpon terus nanti bikin Ayah tidak bisa konsentrasi di sini.”
“Ayah tidak takut?”
“Takut apa? Ayah percaya sama Bunda kamu. Sangat percaya, Na.”
Na menarik napas panjang.
Kalau saja Na punya keberanian untuk bicara panjang lebar soal Om Sentot itu.
**

Bagian Tiga

Dua juta. DP untuk membayar uang muka ruko lantai tiga itu. Sisanya dua bulan lagi harus dibayar. Bunda mengambil dua juta di tabungan plus satu juta setengah yang kata Bunda untuk jaga-jaga kalau-kalau Om Sentot butuh sesuatu.
Bukan itu saja. Bunda juga memindahkan beberapa barang di rumah ke ruko itu. Termasuk kasur busa di depan televisi yang biasa Na pakai untuk tiduran kalau sedang menonton televisi.
“Nanti Bunda ganti asal kamu jangan lapor Ayah kamu.”
“Tapi kalau Ayah nanti tanya soal uang itu…”
“Bilang saja uang itu untuk investasi. Ayah kamu sudah setuju kok Bunda belajar usaha. Biar tidak kebanyakan bengong di rumah. Lagipula kamu sudah besar.”
Ini bukan Bunda yang Naira kenal. Ini bukan Bunda yang selama ini bisa menggeleng tegas dan tidak menerima kalau Na bohong sedikit saja.
“Bunda…”
“Kamu sudah besar, Na. Bunda masih cukup muda untuk berkarir lagi, kan? Bosan, Na…”
Naira memegang tangan Bunda erat sekali. Entah kenapa Na merasa akan kehilangan Bunda.
**
Arini menggelengkan kepalanya waktu Naira datangi ke rumah.
“Aku kena semprot Mama, Na. Kata Mama, aku masih terlalu kecil untuk ikut campur urusan rumah tangga orang lain.”
Sore itu gerimis. Tapi Na memaksakan diri untuk mendatangi rumah Arini di perumahan yang tak jauh dari perumahan tempat Na tinggal.
Mamanya Arini itu teman kuliah Mama dulu. Kadang-kadang Mama masih suka menelpon Mamanya Arini.
“Ya sudah…”
“Ya sudah kenapa?”
“Ya sudah aku gak bisa nolong kamu. Maaf ya, Na. Maaf sekali.”
Naira mengangguk. “Mama kamu kenal sama Om Sentot?”
Arini mengangguk. Kemudian menggeleng. “Kurang tahu, Na. Pokoknya waktu aku kasih tahu soal Om mata elang, Mama langsung geleng kepala. Kalau aku sampai nekad, liburan sekolah nanti batal acara jalan-jalan yang Mama janjikan.”
Na diam.
Om Sentot.
Apa Na harus bicara langsung dengannya.
**
Waktu Na sampai di rumah, ketika masuk ke ruang tamu, Na melihat Mama menyodorkan uang pada Om Sentot.
Bibik yang bilang di halaman kalau di ruang tamu ada tamu Om yang suka menghabiskan bergelas-gelas kopi.
“Bunda…”
Bunda seperti salah tingkah.
“Jadi ini yang namanya Naira?” Om itu bicara.
Matanya tajam. Seperti mata elang.
“Cantiknya sama seperti Bunda kamu.”
Na melihat wajah Bunda memerah.
“Kalau besar nanti…”
Na tidak mau mendengar. Na harus bicara.
**
“Om…,” ketika Bunda sudah berada di dalam kamar dan Om itu pamit pulang, Na mengikuti.
“Ada apa Naira?”
Na bukan anak kecil lagi. Mata Om itu seperti mata Om om yang suka menggoda teman-teman Naira.
“Bunda bukan untuk dipermainkan, kan?”
“Maksud kamu?” tangannya terulur mengucek rambut Naira.
Naira menepiskannya. “Bunda masih punya Ayah. Kalau Om sampai macam-macam sama Bunda, Na bisa lapor sama Ayah.”
Om itu tertawa.
“Om…”
“Bundamu bukan anak kecil seperti kamu, Na. Bunda kamu tahu siapa cinta sejatinya….Ayo, sudah mau hujan…”
Apa kata Om tadi?
**
Bagian Empat

“Anaknya empat, Na. Istrinya kasihan sekali.”
Pagi itu Arini mengejar Na ketika langkah Na baru saja memasuki pintu gerbang sekolah.
“Anaknya empat, Na,” nafas Arini kelihatan terengah-engah.
“Maksud kamu…”
“Om Sentot. Kemarin itu tanpa sengaja Mama cerita. Mama bilang dulunya sih waktu kuliah Om Sentot itu pernah dekat sama Bunda kamu. Dia itu kan play boy. Mama juga dulu sempat naksir kok. Tapi terus unda kamu nikah lebih dulu terus…”
“Kamu tahu rumahnya?”
“Kata Mama sih…”
“Atau Mama kamu kenal sama istrinya?”
“Mama bilang…”
“Please…”
“Rumahnya….”
**
Rumahnya tak begitu jauh dari rumah Na. Tidak begitu juga dekat. Ada di luar lingkungan perumahan. Di sebuah perkampungan.
“Istrinya itu pintar bikin kue. Mama suka pesan kue di sana,” bisik Arini sepanjang perjalanan mereka menuju rumah itu. “Istrinya cantik kok. Kata Mama dulu juga banyak yang naksir. Pintar. Om Sentotnya memang suka begitu.”
Naira membayangkan. Apakah secantik Bunda. Apakah…
“Anaknya empat, Na. Masih kecil. Jadi waktu itu Bunda kamu lagi main ke tempatku. Terus ada Om Sentot yang mengantarkan kue ke rumah. Sejak itu…”
Naira tidak ingin membayangkan.
“Ayah kamu kalau tahu bagaimana?”
Naira juga tidak berani membayangkan.
**
Istrinya cantik. Rapi pakaiannya. Naira tadinya berpikir kalau istrinya yang pintar bikin kue itu akan menyambutnya dengan daster kumal seperti yang suka dipakai banyak Ibu-ibu tetangga Na.
“Arini mau pesan apa lagi ke sini?” tanya tante itu pada Arini.
Arini kelihatan bingung. “Na mau kenal sama Tante,” kata Arini akhirnya.
Na bingung. Harus bilang apa? Masak sih Na harus bilang kalau ia datang ke sini hanya karena ingin menyelidiki.
“Tante bisa bikin brownies?” tanya Na akhirnya. Bunda suka sekali kue itu.
Tante itu mengangguk. “Ayo masuk. Duduk di teras dulu. Tante catat kue pesanannya dan alamat rumah kamu. Biar nanti diantar kalau sudah jadi. Untuk kapan…”
Tante itu masuk ke dalam rumah. Mungkin mengambil catatan.
Betul. Tidak lama kemudian Tante itu datang dengan membawa kertas catatan. “Brownies untuk siapa?”
“Bunda,” ujar Na.
“Bunda kamu mau ulang tahun juga?”
“Bundanya Na itu teman kuliah Mama, Tante,” Arini yang bicara.
Mata Tante itu bulat. Bulu matanya lentik. Ih, Tante itu cantik sekali. Kenapa Om Sentot masih saja menggoda Bunda?
“Siapa Bunda kamu?”
“Pelangi,” desis Na.
Tante itu mengangguk. “Tante pernah dengar nama itu. Oh ya, kamu tulis alamat dan nomor telpon kamu serta apa yang kamu pesan, ya? Anak Tante yang kecil lagi di kamar mandi. Tante sebentar lihat dia sedang apa, ya?”
Na mengangguk.
Mata Tante itu tiba-tiba memerah.
Jangan-jangan karena Na tadi menyebutkan nama Mamanya?
**
“Jangan bilang-bilang sama Mama kamu kalau tadi kamu antar aku ke sini , ya?” ujar Naira pada Arini ketika mereka sudah ke luar rumah.
Arini mengangguk. “Mama juga pasti marah kalau tahu aku antar kamu ke rumah Tante Sinta.”
“Makasih,” ujar Naira sebelum ia berpisah.
**
“Tadi ada tamu lagi, Non,” lapor Bibik waktu Naira datang. “Ibu lagi melamun di ruang tamu.”
Bunda memang sedang melamun. Begitu masuknya ke dalam dunia lamunan sampai Bunda tidak mendengar langkah kaki Na. Na sampai harus menepuk bahu Bunda.
“Na…”
“Bunda tahu..,” Naira duduk di hadapan Bunda. “Ada orang yang bisa bikin kue enak sekali. Brownies.”
“Oh ya?”
Na mengangguk. “Na tadi pesan. Coba pesan ke sana. Mau Na sih kalau nanti ulang tahun, brownies itu mau Na bawa ke sekolah. Kalau menurut Bunda brownies itu enak lho.”
“Om Sentot juga bisa bikin brownies enak sekali, Na.”
“Tapi ini, Bunda…”
“Dulu Bunda pernah…,” Bunda tiba-tiba diam. Lalu menggeleng. Memandang pada Naira. “Mungkin lain kali Bunda harus belajar membuat brownies biar kamu tidak perlu pesan.”
“Tadinya aku kira yang bikin brownies itu Ibu-ibu pakai daster. Habis, anaknya empat, Bunda. Biasanya begitu, kan? Cuma Bunda saja yang di rumah selalu rapih.” Na mencoba memuji.
“Trus…”
“Kapan-kapan Na ajak ke sana ya, Bunda,” Naira berdiri dari duduknya.
Kapan-kapan, Na akan bikin mata Bunda terbuka lebar sehingga tidak terbius oleh Om Sentot lagi.
Bagian Lima

Brownies itu sudah jadi. Naira memesan satu brownies saja. Spesial dengan tambahan cream.
Tante itu sendiri yang mengantarnya. Bibik yang mengetuk pintu kamar dan bilang ada yang menunggu di luar.
“Tante…”
Brownies itu dibungkus dengan kardus warna merah hati.
“Tante sengaja bikin yang sangat spesial untuk kamu.”
“Aku kan…”
“Sambil membuat adonan kue ini, Tante mendengarkan lagu sedih. Entah, seperti terbawa perasaan. Brownies ini brownies pertama yang Tante buat dengan perasaan sedih.”
“Aku ambil dompet dulu..”
Tante Sinta menggeleng. Menepuk pipi Naira. “Ini hadiah untuk anak manis seperti kamu. Tante yakin kamu datang dan memesan untuk suatu hal. Dan hal itu cuma kamu yang tahu. Tante hanya bisa menebaknya. Tante permisi dulu.”
Naira tidak tahu harus bicara apa?
Apa Tante mengerti apa yang dilakukan suaminya dan Bunda? Apa Tante itu merasa?
**
“Bunda…,” Naira langsung menuju kamar Bunda.
Pintu kamar Bunda terbuka. Bunda sedang berdiri di depan jendela dengan tirai yang terbuka menghadap halaman depan.
Pasti Bunda tahu kedatangan Tante Sinta. Pasti Bunda tahu.
“Bunda…”
“Na ingin tahu apa sebenarnya?” tanya Bunda tapi tidak memandang pada Naira.
“Memang ada apa sebenarnya?”
Bunda menghampiri Naira. Menepuk pipinya. “Banyak sekali yang kamu tidak tahu sebenarnya.”
“Seperti apa?”
Bunda diam.
“Bunda…”
“Perasaan Bunda….”
“Bunda jatuh cinta dengan Om Sentot. Om Sentot sudah punya anak istri. Istrinya bahkan harus menghidupi empat anaknya dengan menerima pesanan kue. Apa Bunda tega?”
“Na, bukan itu masalahnya…”
“Bunda jatuh cinta, kan?”
Bunda diam. “Kamu tidak akan bisa mengerti, Na,” ujar Bunda melangkah meninggalkan Naira. Mungkin Naira memang tidak akan bisa mengerti.
**
Tapi Na akan menuntaskan rasa penasarannya.
“Om Sentot yang mana?” Tante Jasmine yang bertanya ketika Naira mendatangi rumahnya. Adik Bunda itu sedang asyik di depan laptopnya.
“Yang punya mata seperti elang…”
Kening Tante Jasmine berkerut. “Yang mana sih, Na?”
“Katanya teman kuliah Bunda. Istrinya itu teman kuliah Bunda juga.”
“Masak sih?”
“Tante tidak tahu?”
Tante Jasmine kembali sibuk mengetik pada laptopnya. “Tante tahu lho semua teman lelaki Bunda kamu. Yang terakhir dipilih ya Ayah kamu itu. Atas persetujuan Kakek sama Nenek kamu.”
“Yang Om Sentot?”
“Om Senton yang mana sih, Na?”
“Orangnya tinggi, putih, ganteng. Matanya tajam seperti elang. Seperti mata bintang sinetron kesukaan Bunda.”
Tante Jasmine mengibaskan tangannya di udara. “Tante tidak tahu tuh, Na.”
“Masak, sih?”
“Masak juga sih kamu tidak percaya sama Tante kamu?”
Naira diam.
Masak sih Tante tidak tahu?
Atau mungkin Naira harus kembali bertanya pada Mamanya Arini?
**
“Maaf ya, Naira. Tante dulu memang berteman dekat dengan Bunda kamu. Tapi masalah pribadi yang terjadi setelah menikah, Tante tidak mau ikut campur,” ujar Mamanya Arini ketika Naira datangi di sore harinya.
“Masalahnya Tante…”
Mamanya Arini menggeleng. “Bundamu bukan anak kecil lagi, Na.”
“Kalau orang dewasa tidak boleh salah, Tante?”
“Maksud kamu?”
“Kalau Bunda salah sebagai orang dewasa apa tidak boleh diberi tahu?”
Mamanya Arini diam.
Cukup lama.
“Kalau Om Sentot sudah membuat Bunda jadi lupa sama Ayah, apa tidak boleh diberi tahu?”
Hening.
Mamanya Arini beberapa kali kedengaran menarik napas panjang.
“Tante…”
“Mereka dulu dekat. Itu saja yang Tante tahu. Lalu setelah Bunda kamu menikah dengan Ayah kamu, Om Sentot juga menikah. Dengan Tante Sinta. Setelah itu Tante tidak tahu lagi.”
“Tante tidak bohong?”
Mamanya Arini menggeleng. “Sampai Tante dengar dari Arini kalau kamu ingin tahu banyak soal Om Sentot.”
Mamanya Arini kedengaran serius.
Naira menganggukkan kepalanya.
“Kamu anak baik. Bunda kamu pasti suatu saat akan menjelaskan. Sayangnya Tante tidak mengerti. Karena Bunda kamu jarang menceritakan perasaannya pada Tante.”
Bunda memang begitu.
**

Bagian Enam

Sudah berapa lamakah?
Naira memandangi kalender di dalam kamarnya. Mencoba menghitung sudah berapa lama Bunda dekat dengan Om Sentot. Sudah berapa lama Ayah tidak menelpon ke rumah.
Ruko itu tidak jadi disewa. Kata Bunda uang muka yang Bunda berikan sudah dikembalikan dan dipotong sepuluh persen. Tapi Naira tidak mau menyelidiki semakin dalam karena takut Bunda tersinggung.
Tapi sore ini Bunda mengajak Naira bicara.
Di halaman belakang.
“Masih cantikkah Bunda, Na?”
Usia Bunda belum lagi empat puluh tahun. Bunda menikah waktu skripsi. Na sendiri belum genap tujuh belas tahun.
“Na…”
Bunda masih cantik. Masih segar. Tidak ada kantung mata di wajah Bunda. Apalagi keriput. Bunda rajin sekali merawat tubuhnya. Meski sering ditinggal tugas Ayah ke luar kota.
“Memangnya kenapa, Bunda?”
Bunda menarik napas panjang.
“Ayah pasti akan selalu bilang kalau Bunda cantik.”
Bunda tersenyum.
“Om Sentot itu tidak pernah datang lagi, kan?” tanya Naira. Bibik sudah seminggu ini tidak pernah cerita soal Om Sentot dan soal kopi yang harus Bibik buatkan.
“Kamu ini…”
Naira juga tidak pernah melihat Bunda memelototi bintang sinetron yang matanya seperti elang.
“Tapi suatu saat kamu harus tahu, Na.”
“Tahu apa?” tanya Naira penasaran.
“Mungkin bukan Bunda yang harus cerita. Mungkin Ayahmu…”
Kenapa harus Ayah?
Na melihat pada kalender lagi.
Kenapa Ayah lama tidak menelponnya?
**
“Sibukkah Ayah?” tanya Naira pada Ayah ketika Na menelpon dan Ayah yang mengangkat telponnya.
“Biasa, Na…”
“Kenapa Ayah tidak pernah datang?”
Hening.
“Kemarin Ayah coba-coba ambil formulir kuliah kamu di sini, Na. Jurusan kedokteran yang kamu mau, kan?”
“Ayah…”
“Minggu depan Ayah akan datang, Na. Ayah harus banyak bicara sama kamu.”
“Sama Bunda?”
Hening.
“Ingatkan Ayah ya, Na?”
Naira mengangguk. Ingatkan Ayah? Untuk apa? Apa Ayah sudah lupa kemana Ayah harus pulang?
**
Bunda menanggapinya diam saja.
“Ayah mau pulang. Bunda tidak suka?”
Bunda entah sedang menulis apa. Seperti buku harian. Na tidak mau menggangunya.
“Na..,” ujar Bunda begitu tahu Na akan melangkah ke luar kamar. “Kalau Ayahmu datang, Bunda akan beri tahu sesuatu.”
“Rahasia?”
Bunda mengangguk.
**
Malamnya kamar Naira diketuk. Suara Bunda di luar pintu. Mata Bunda bengkak. Mungkin habis menangis.
“Om Sentot masuk rumah sakit, Na…,” ujar Bunda pada Naira. Memeluk Naira. “Motornya tertabrak mobil di jalan raya.”
Naira tidak tahu harus bilang apa.
“Temani Bunda malam ini ke rumah sakit.”
Naira tidak mungkin menolak. Bunda kelihatannya sangat sedih sekali.
**
Di rumah sakit Naira bertemu dengan Tante Sinta. Tante Sinta sedang duduk di kursi kosong di depan ruang UGD.
Naira menghampiri. Bunda memilih duduk di bangku lain.
“Na datang bersama Bunda,” ujar Naira menyalami Tante Sinta.
Tante Sinta mengangguk. “Tante tadi menghubungi Mamanya Arini. Mungkin Mamanya Arini yang menelpon Bunda kamu. Cantik sekali Bunda kamu. Di masa kuliah dulu Tante pernah melihatnya beberapa kali.”
Naira menunduk.
Tante Sinta juga tetap kelihatan cantik meskipun rambutnya dikucir seadanya.
“Om sedang Tante suruh mengirimkan brownies pesanan. Mungkin sedang melamun. Mungkin kurang hati-hati…”
Bunda di bangku lain menunduk.
“Ayahmu tahu kalau Bunda kamu ke sini?”
Tante Sinta pasti ingin tahu.
“Ayah sedang tugas ke luar kota. Minggu depan datang. Bunda minta antar ke sini karena ingin mendengar khabarnya langsung.”
Tante Sinta mengangguk. “Biar Tante yang jaga di sini. Ajak Bunda kamu pulang. Bilang sama Bunda kamu kalau Om Sentot masih punya istri yang bisa menjaganya dengan baik.”
Meski diucapkan dengan nada yang manis sekali, tapi Na tahu artinya. Naira berdiri dari duduknya dan menghampiri Bunda.
“Kita pulang saja, Bunda,” ujar Naira pada Bunda.
**
Bagian Tujuh

Bunda sakit. Panas. Naira sendiri tidak mengerti. Sejak pulang dari rumah sakit badan Bunda menjadi panas.
Naira menghubungi Ayah dan Ayah bilang akan datang.
Bunda tidak mau dibawa ke dokter. Minum obatpun Bunda tidak mau.
Sampai akhirnya Naira memanggil Tante Jasmine ke rumah.
“Na..,” Tante Jasmine bicara setelah ke luar dari kamar Bunda. “Kamu tahu kan kalau Bunda sama Tante tidak begitu dekat. Segala rahasia Bunda yang tahu hanya almarhumah Nenek kamu.”
“Trus?”
Tante Jasmine geleng-geleng kepala. “Jadi sakitnya gara-gara apa?”
“Om Sentot di rumah sakit…”
Tante Jasmine menggelengkan kepalanya lagi. “Tante tidak ngerti, Na. Om itu siapa…”
“Matanya seperti elang.”
“Elang apa?”
“Fotonya ada…”
“Kalau Bunda kamu masih panas juga, telpon Tante. Malam ini Tante akan menginap di sini. Tante pergi sebentar, ya?”
Naira mengangguk.
**
“Yang Tante tahu, cinta Bundamu begitu besar pada Om Sentot, Naira. Tapi sudah Bunda katakan kalau Om Sentot baik-baik saja dan sudah ada istrinya yang merawatnya.”
Naira menganggukkan kepalanya pada Mamanya Arini.
“Selebihnya Tante tidak tahu apa-apa. Bundamu kalau punya rahasia disimpan sendiri.”
Bunda memang begitu.
“Istrinya Om Sentot sempat tanya soal Bunda sama Tante. Tapi Tante harus bilang apa? Tante tidak tahu apa-apa selain bahwa mereka pernah dekat. Itu saja. Lagipula kalau sudah sama-sama menikah dan punya anak, untuk apa mengurusi masa lalu, kan?”
Mamanya Arini benar.
Mungkin Naira harus menelpon Ayah dan minta kedatangannya dipercepat.
**
“Bunda sakit hanya demi Om Sentot?” tanya Naira di dalam kamar Bunda.
Bunda memandangi Naira.
“Bunda mengorbankan badan Bunda…”
Wajah Bunda pucat. Matanya memandangi Naira.
“Om yang bohong soal istrinya yang dibilangnya sakit kanker. Om yang…”
Bunda menggeleng.
“Na sudah menelpon Ayah untuk datang. Biar Na nanti cerita semuanya sama Ayah.”
Bunda diam.
Menunduk.
“Na tidak bisa berbohong terus sama Ayah…”
**
“Tidak bisa, Naira..,” malam sekali Ayah menelpon. Na pikir telpon penting ketika pada jam satu malam telpon genggamnya berbunyi. “Atasan Ayah meminta Ayah untuk tugas ke desa selama beberapa hari. Mungkin setelah itu Ayah akan bicarakan lagi soal pulangnya Ayah.”
“Ayah..,” Naira hampir menangis sebenarnya. “Apa sudah ada pengganti Bunda di sana?”
“Na! Ayah ini militer. Na tahu sejak dulu seperti apa tugas Ayah!”
Na diam.
“Kalau Ayah sudah selesai…”
Naira mematikan telpon genggamnya.
Na kecewa sekali dengan Ayah kali ini.
**
Bagian Delapan

“Bertanya seekor anak angsa pada pada induk bebek, apa aku anakmu?” Bunda menutup buku ceritanya. Memandang pada Naira.
Sore itu Bunda ke luar kamar. Tubuhnya sudah cukup sehat katanya. Bunda bahkan sudah makan bubur yang dibelikan Bibik di warung bubur kesukaan Bunda.
Na ingat, kecil dulu Bunda sering sekali membacakan buku cerita itu. Buku cerita itu sampai sekarang masih Naira simpan dan pelihara dengan baik.
“Bunda sudah melupakan Om Sentot?” tanya Naira hati-hati.
Bunda memandangi Naira.
“Tante Sinta bilang masih di rumah sakit. Na sempat sms tadi dan minta maaf kalau-kalau Bunda selama ini sudah bikin hati Tante Sinta jadi sakit.”
Bundanya Naira menunduk.
“Bunda sudah punya Ayah. Kenapa masih menginginkan Om Sentot?”
Hening.
Bundanya Naira menarik napas panjang.
“Anaknya Om Sentot ada empat, Bunda. Istrinya Om Sentot susah payah mengurus anak dan ikut mencari uang. Bunda sudah punya Ayah yang sayang sekali sama Bunda.”
Hening lagi.
Angin bertiup cukup kencang.
Naira merapatkan sweater yang Bunda kenakan.
“Na tidak ingin Bunda mengambil kebahagiaan orang lain.”
Bunda menggelengkan kepalanya. Memeluk Naira.
Bunda menangis.
Naira biarkan Bunda menangis di bahunya cukup lama.
**
“Kamu tahu, Na?” tanya Arini waktu mereka bertemu di sekolah. “Kemarin aku menjenguk Tante Sinta di rumah sakit lho.”
Sebenarnya Naira sudah tidak ingin mendengar cerita soal Tante Sinta dan Om Sentot lagi.
“Om Sentot sudah sembuh. Sudah bisa diajak bicara. Kemarin itu katanya melamun waktu naik motor. Oh ya, katanya dia mau ngomong sesuatu sama kamu. Rahasia. Tante Sinta dan Mamaku mungkin gak tahu waktu Om Sentot bicara begitu sama aku.”
Mungkin Om Sentot mau minta maaf. Na sudah memaafkan sepanjang Om Sentot tidak mengganggu Bunda lagi.
“Kamu mau datang ke rumahnya atau…”
Naira menggeleng. Tegas.
**
Ayah belum juga datang. Mungkin Ayah benar-benar sibuk. Setelah waktu itu telpon dari Ayah Naira tutup beberapa hari kemudian Ayah mengirim sms pada Naira. Kata Ayah, Ayah sudah mempersiapkan kepindahan Naira dan Bunda di tempat yang sama dengan Ayah.
Ayah bahkan sudah menelpon Bunda untuk menjual rumah yang mereka tempati untuk dibelikan rumah baru di tempat Ayah tugas. Ayah janji dalam sepuluh tahun ke depan mungkin mereka tidak akan pindah-pindah rumah lagi.
Tapi Bunda mengajak Naira bicara di suatu sore.
“Ini cerita panjang, Naira. Panjang sekali…”
Wajah Bunda kelihatan serius. Bunda memberikan sesuatu pada Naira.
Naira membukanya.
Beberapa lembar foto Naira ketika bayi. Masih bagus. Dan satu foto bayi yang lain yang sudah menguning.
“Foto Bunda?”
Bunda menggeleng.
Foto bayi yang sudah lama itu mirip sekali dengan foto Naira ketika bayi. Hanya di bagian mata saja berbeda dan jenis kelaminnya.
“Foto Ayah?”
Bunda menarik napas panjang.
“Bunda…”
“Sebelum pindah dari sini Bunda ingin menuntaskan segalanya sehingga ketika di tempat yang baru tidak ada lagi beban yang Bunda tanggung.”
“Maksud Bunda…”
Bunda menarik napas panjang lagi. “Ayahmu laki-laki yang hebat, Na.”
Ayah memang hebat. Ayah tidak pernah punya wanita lain. Tidak juga dekat dengan wanita lain seperti Bunda dekat dengan Om Sentot.
“Tapi elang itu datang lebih dulu, Na..”
Naira tidak mengerti.
Bunda kali ini menghapus air matanya yang mulai turun. “Elang itu, Na…”
Mungkin Om Sentot maksud Bunda.
“Kami sudah saling cinta. Begitu cintanya Bunda sama dia. Sampai Bunda khilap dan melakukan apa yang seharusnya belum boleh Bunda lakukan.”
Na mengerutkan keningnya.
“Nenek yang tahu semuanya. Lalu Nenek meminta anak kenalannya untuk menikah dengan Bunda karena tahu anak kenalannya itu mencintai Bunda teramat sangat.”
Na masih belum mengerti.
“Bunda tahu Bunda hamil, Na. Bunda dan Nenek kamu yang tahu. Ayahmu mungkin juga mengerti tapi sampai detik ini Ayahmu tidak banyak bicara. Mungkin menyimpannya dalam hati saja.”
“Maksud Bunda…”
“Kalaupun Bunda dekat dengan Om Sentot…”
“Om Sentot itu…”
Bunda menunduk. “Om itu Ayahmu, Nak. Ini rahasia yang Bunda simpan berdua Nenekmu. Tante Jasmine pun tak pernah tahu.”
Dunia Naira seakan runtuh saat itu.
**
Epilog

“Kalau suatu saat kamu menemukan laki-laki bermata elang jika kamu akan menikah kelak, Na…”
Naira dan Bunda berdiri di depan rumah dinas Ayah. Baru seminggu yang lalu mereka pindah.
Langit cerah.
Naira merangkul Bunda. “Apa Om Sentot tahu?”
Bunda mengangguk. “Dia tahu. Bunda yang memberitahu kemarin itu. Mungkin karena pemberitahuan Bunda itu dia kecelakaan karena memikirkannya.”
“Trus?”
Bunda merangkul bahu Naira. “Maafkan Bunda ya, Na? Tapi kemarin itu memang Bunda tidak bisa memungkiri bahwa Bunda masih punya cinta yang besar pada Om Sentot. Sampai Bunda lupa kalau Om sudah punya anak dan istri. Untung kamu mengingatkan dan membuat Bunda akhirnya mengatakan yang sebenarnya tentang kamu pada Om Sentot.”
Naira mengangguk.
Suatu saat. Entah kapan. Na ingin sekali bicara berdua dengan Om Sentot. Na ingin bicara sebagai seorang anak kepada Ayah kandungnya.
Sekarang ini Na hanya mau bersyukur karena sudah memiliki Ayah yang baik meskipun bukan Ayah kandungnya.