Mau Produktif Menulis, Gunakan Sosial Media Seperlunya

buku-buku-solo

“Hai, Mbak. Seneng, deh, bisa kenalan sama mbak di sini.”
“Aku suka tulisan Mbak dari remaja dulu, lho.”
“Boleh main ke rumah?”

Penulis dan sosial media, memang sudah jadi kesatuan utuh. Dari sosial media, penulis yang biasanya bersembunyi di belakang layar, dan membuat pembaca penasaran, akhirnya mulai timbul ke permukaan. Pembaca jadi bisa mengenal seorang penulis yang tulisannya disukai. Di atas contoh dialog yang biasa masuk ke inbox saya.
Tidak dipungkiri, itu salah satu efek kebaikan dari sosial media. Meskipun efek kebaikan itu pastilah akan diikuti dengan efek keburukan juga. Yaitu pembaca melihat penulis sebagai sosok yang sempurna, maka ketika timbul setitik noda di mata mereka, maka mereka akan berbondong-bondong mencaci.

Ada banyak wadah komunitas di sosial media. Saya sendiri memiliki beberapa komunitas menulis dengan anggota terbatas. Banyak komunitas yang gugur, padahal anggotanya ribuan. Menulis adalah kerja cinta. Sama seperti kerja bakti. Kerja bakti membersihkan got itu tidak menyenangkan untuk orang yang tidak cinta mengerjakannya, dan tidak fokus pada keuntungan kebersihan lingkungan. Menulis juga seperti itu. Banyak komunitas yang lebih suka ramai-ramai dan heboh dengan pertemuan di dunia nyata ketimbang kembali fokus menulis.
Satu, dua, tiga masih terus menulis. Empat, lima, enam, bahkan sampai seribu, harus dipecut dulu untuk kembali menulis.

Sosial media akhirnya jadi bumerang untuk penulis.
Lalu bagaimana cara yang efektif menggunakan sosial media?

Gunakan Sosial Media Seperlunya

Ada banyak sosial media.
Saya malah menemukan teman yang itu itu saja di berbagai sosial media.
Tapi saya juga menemukan sesuatu yang baru. Penerbit-penerbit, editor-editor yang mudah ditemui di sosial media. Cara marketing yang dicontohkan teman-teman penulis lain, juga bisa saya dapatkan di sosial media. Bahkan pembeli buku-buku saya, bisa dengan mudah saya dapatkan di sosial media.
Semua bisa kita dapatkan di sosial media. Tapi itu justru yang membuat seorang penulis akhirnya terjerumus. Menganggap sosial media adalah segalanya.
Iya segalanya. Keuntungan dan keberuntungan ada di sosial media. Demi keberuntungan dan keuntungan itu, sikut sana-sini pun mulai terjadi.

Penulis biasa punya banyak sosial media.
Tapi tetap kontrol harus ada di tangan penulis. Banyak waktu yang bisa dihabiskan dengan menulis, sejak hadirnya sosial media hilang terbang waktu itu tergantikan dengan mengamati status, membuat status bahkan mengomentari status. Ujungnya tulisan yang harusnya selesai tidak jadi selesai. Banyak status penulis yang ujung-ujungnya mengeluh karena target tulisannya tidak selesai.

Ini tips dari saya, agar sosial media bisa bermanfaat dan tidak mengganggu jadwal menulis kita.

1. Buat target tulisan yang harus dibuat
2. Buat list daftar tulisan yang harus selesai.
3. Selesaikan dulu tulisan tersebut, sebelum akhirnya membuka akun sosial media.
4. Batasi penggunaan sosial media dan jadikan itu reward karena kita berhasil menyelesaikan tulisan.
5. Setelah itu harus menulis lagi.
6. Ketika membuka sosial media, langsung fokus pada sesuatu yang berhubungan dengan dunia menulis saja. Misalnya akun penerbit atau akun teman-teman penulis yang bisa memompa semangat menulis kita.
7. Sepuluh tahun ke depan, jika kita sibuk terus dengan sosial media, maka kita tidak dapat apa-apa. Tapi jika kita terus menulis dan fokus pada tulisan yang akan kita selesaikan, maka tulisan kita menjelma menjadi bentuk lain, misalnya buku atau mungkin pembaca yang tercerahkan dengan tulisan kita.
8. Fokus pada menambah wawasan dengan membaca banyak buku, bukan dengan banyak-banyak membaca status apalagi status saling hujat.
9. Tutup akun sosial media jika itu mengganggu jadwal menulismu.
10. Dan kembalilah ke jalan yang sunyi dengan produktif menulis.

Percayalah, mengurangi sosial media dan menambah produktivitas kita, tidak akan membuat kita menjadi rugi. Materi yang kita hasilkan dari menulis, akan bisa kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan kita dan juga untuk menolong orang lain.