Selai Rasa Kopi

“Mau?”
Kinkin menggelengkan kepalanya. Aroma roti tawar sudah tercium. Mami membuat roti tawar lagi untuk kesekian kalinya dalam seminggu ini.
Kin sudah hapal apa yang akan Mami berikan pada roti tawar itu setelah dipotong-potong. Untuk Kin, terserah mau dioleskan apa. Untuk Papi juga terserah. Tapi untuk Mami?
Kin menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Ada biji kopi yang tersedia di toples. Kopi robusta. Mami nanti akan memblendernya. Setelah itu Mami mencampurkan dengan sedikit susu. Dan setelah itu…
Kin sudah merasakannya. Pahitnya terasa betul di lidah Kin.
“Mau coba?”
Kin menggeleng keras.
“Kadang kala dalam hidup ini, Kin, kamu harus belajar mengakrabi rasa pahit. Jadi kamu akan terbiasa dengan hal-hal yang tidak menyenangkan.”
“Kenapa Mami tidak makan ampas kopi saja?” tanya Kin tidak mengerti.
Mami tertawa. “Sebab Mami ingin membungkus rasa pahit itu sedemikian rupa agar tidak terlalu jelas. Jadi Mami menjadikannya selai untuk roti tawar.”
Kin dulu tidak mengerti. Tapi sekarang ia sudah mengerti, meski sungguh Kin juga tidak ingin melakukan hal yang seperti Mami lakukan.
Roti tawar untuk Kin masih kosong tanpa olesan.
Di luar ada yang mengetuk. Keras sekali. Mami memberi isyarat agar Kin melihatnya.
Kin berdiri dari duduknya. Jus mangga buatan Mami membuat perutnya agak mulas. Sudah Kin bilang berkali-kali kalau Kin ingin sarapan dulu, bukan minum jus dulu.
“Mami kamu mana?”
Seorang perempuan berdiri di depan pagar. Kin mencoba mengenali.
“Mami kamu mana? Bilang sama Mami kamu kalau air dari kamar mandi kamu netes sampai kamar mandi Tante. Minta cari tukang buat betulin rumah kamu!”
Kin menarik napas panjang. Mami pasti sudah mendengarnya. Mungkin tetangga lain juga. Tante Ros bicaranya selalu keras.
“Mi…”
Mami meneguk air putih lalu menggigit rotinya. Selai kopi pasti sudah dimasukkan ke dalam roti itu.
“Oke, nanti Mami pindah mandi hanya di kamar mandi bawah saja. Untuk sementara sampai Mami punya uang, kamar mandi di atas biarkan saja tidak dipakai. Gampang, kan?”
Kin garuk-garuk kepala.
Ada selai kacang, selai coklat juga selai strawberry.
Kin memilih selai kacang lalu memasukkan roti isi selai kacang ke dalam kotak bekalnya.
**
Ada roti dengan selai kacang yang sekarang Kin pegang. Ia duduk di bangku paling pojok di kantin.
“Kinkin?”
Telinga Kin langsung tegak mendengar namanya disebut. Tapi ia tidak berani menoleh.
“Kinkin yang kurus itu? Kamu tahu, aku pura-pura jadi teman dia. Soalnya kenapa? Soalnya Mami dia itu kan photographer yang fotonya oke.”
Kin hapal suara itu.
“Kalau di tempat lain di foto mahal. Kalau sama Maminya Kin bisa gratis. Nih…, hasil fotonya keren, kan? Udah aku print terus aku masukin ke agensi model. Siapa tahu aku bisa jadi model terkenal suatu saat nanti.”
Wajah Kin memerah.
“Yakin Kinkin enggak tahu modus kamu?”
“Enggaklah. Kinkin itu baik lagi dan polos.”
Kali ini Kinkin menarik napas panjang lalu mengembuskan kuat-kuat. Sebelum akhirnya ia menoleh ke belakang. Ada Rena di sana.
“Hai..,” sapa Kin sambil tersenyum.
Rena dan kawannya terlihat kaget. “Kin, kamu..”
Kinkin berdiri dari duduknya.
Masih ada roti yang baru setengahnya ia makan tadi, dan sekarang sudah kembali ia masukkan ke kotak bekal.
Besok, Kin akan minta Mami buat selai kopi yang banyak. Kin mau tahu kalau menelan rasa pahit seperti apa. Jadi Kin bisa tersenyum ketika ada teman yang menyakiti perasaannya, bukan menangis seperti sekarang ini.