Menulis itu Mudah tapi Jangan Dianggap Sepele

anak

Apa yang selalu saya katakan pada ibu-ibu dan murid-murid yang datang ke rumah. Iya, semua bisa menulis. Menulis itu mudah. Mudah sekali.
Tujuannya tentu saja, agar semua punya antusias yang sama dan akan menganggap bahwa tidak ada yang tidak bisa dilakukan di dunia ini, termausk menulis. Bakat hanya bagian kecil yang bisa dikalahkan dengan kerja keras.

Kerja keras. Iya kerja keras.
Maka kerja keras dalam melalui proses menulis itu akhirnya jadi bagian kerja yang super keras.
Anak-anak yang belajar menulis di rumah, ketika tidak didukung orangtuanya, maka mereka malas-malasan datang. Menganggap hanya belajar menulis terus. Padahal dari situ, saya melhat perkembangan proses menulisnya dan mulai memasukkan riset sedikit demi sedikit.

Anak-anak yang didukung orangtuanya, tapi si anak merasa serba mudah alias tidak ada tantangan dan kelihatan sulit diajak berproses karena mungkin dibenaknya tercantum mindset bahwa menulis itu seperti pelajaran di sekolah yang diajarkan gurunya, maka tulisannya akan berputar ke itu itu saja.

Bahkan anak yang didukung orangtua-nya pun, tapi si anak merasa sudah hebat, maka segalanya akan menjadi sulit untuk saya mengajarinya.

Proses itu Mahal

Proses dalam mengejar cita-cita itu mahal. Saya dulu bahkan merasa jadi makhluk asing. Hobi ke perpustakaan, bukan perpustakaan sekolah saja. Tapi semua perpustakaan dulu. Di zaman SMP, SMA di Jakarta, saya senang berpindah dari perpustakaan Soemantri Bojonegoro di daerah KUningan alias Rasuna Said, perpustakaan HB Jassin di TIM, perpustakaan Balai Pustaka, perpustakaan di LIA dan masih banyak perpustakaan lainnya.
Kalau ada teman yang bosan saya ajak ke perpustakaan, maka itu artinya saya pergi sendiri saja. Naik bus ke sana ke mari. Atau saya membaca dalam tempo cepat, sehingga saya puas teman saya juga terpuaskan, karena tidak menunggu saya terlalu lama.

Proses menulis itu yang saya rasakan lebih mahal dari kemampuan menulis saya.
Saya suka baca, senang menulis buku harian. Itu biasa. Biasa menurut anggapan orang lain. Karena banyak anak yang juga melakukan hal itu.
Dan hal yang biasa itu dianggap tidak akan menghasilkan apa-apa. Tidak mungkin bisa membuat saya jadi apa-apa.

Maka proses menulis sebenarnya adalah belajar menggenggam mimpi sekuat tenaga agar tidak terlepas. Mahalnya adalah karena ketika orang lain sibuk membeli baju baru, saya sibuk membeli buku baru. Ketika yang lain sibuk membaca buku pelajarna dan les sana sini. Saya sibuk dengan buku-buku yang saya suka dan tidak ikut les sana-sini.

Karena itu setelah proses sekian lama, lalu ada yang meremehkan menulis, saya jengkel.
Dulu, ibu-ibu di seputaran rumah menganggap saya menganggur. Dilimpahkan tugas ini itu, dikiran pengangguran, waktunya banyak di rumah. Tapi setelah saya bilang, bahwa saya penulis, tetap mereka menganggap itu bukan pekerjaan, cuma selingan. Alias saya cuma bengong-bengong mengkhayal, persis seperti mereka berkhayal.

Proses itu mahal.
Semahal saya menggeleng dan menutup kursus private di rumah. Karena ibu-ibu yang datang kebanyakan meneruskan untuk tidak menjemput anak mereka tepat waktu. Mereka menitipkan pada saya, sedang akibat dari itu pekerjaan menulis saya terbengkalai.
Murid-murid les datang ke rumah dari pagi sampai malam. Kalau ibunya ingin pergi, itu artinya anak-anak usia TK dititipkan ke saya dan baru dijemput setelah si ibu puas bermain. Mereka tidak paham bahwa pekerjaan saya bukan sekedar mengurus rumah tangga dan mendapat uang dari kursus private yang tidak saya patok bayaran. Karena saya pikir saya masih bisa menghasilkan rupiah dari tulisan saya di media cetak.

“Kenapa ditutup lesnya?” tanya beberapa ibu-ibu.
“Banyak pekerjaan menulis,” jawab saya penuh keyakinan.
Lambat laun akhirnya lingkungan sadar, bahwa saya punya pekerjaan sebagai penulis. Dam menulis itu sebuah pekerjaan serius. Bukan cuma pekerjaan laki-laki saja. Tapi bisa dikerjakan oleh perempuan dan berkantor di rumah.
Maklum mindset kebanyakan ibu rumah tangga, para perempuan tidak perlu berpikir lagi, karena sudah disibukkan dengan urusan dapur, sumur dan kasur.

Bangga Sebagai Penulis

lemari

“Oooh penulis.”
“Oooh bukunya banyak.”
“Oooh setiap hari kerja.”
Dan oh oh lainnya akhirnya jadi pembuka kunci ketidaktahuan para tetangga saya.
Mereka masuk rumah, lihat buku-buku yang saya koleksi, dan boleh pinjam jika ingin ada yang dibaca oleh mereka. Meski kebanyakan juga hanya lihat-lihat saja.

Tapi paling tidak dari sana mereka paham bahwa ada pekerjaan bernama penulis. Pekerjaan itu bukan sekedar mengkhayal, tapi harus banyak baca buku. Pekerjaan itu bisa dikerjakan laki-laki dan perempuan. Pekerjaan itu bisa dikerjakan oleh ibu rumah tangga dari rumah.

“Ih, kapan karyaku dimuat?”
tanya salah satu murid menulis saya, yang yakin bahwa tulisannya bagus. Padahal dia baru benar-benar belajar dan nilai yang saya berikan berdasarkan kenaikan tingkat untuk setiap prosesnya.
“Aku baca buku aja,” ujar yang lain.
Tulisannya memang sudah bagus di lingkungan sedikit. Bukan di lingkungan yang lebih luas lagi, yang untuk anak seumurannya ternyata banyak yang lebih bagus lagi.

Seorang anak di sudut yang berproses dari tidak bisa menulis sampai akhirnya bisa menulis bagus, tapi dia terus belajar, justru jadi sumber keyakinan saya.
Sedikit polesan lagi, dia akan punya ide bagus dan membuat yang lain tercengang karenanya.

Hasil itu tidak bisa berbohong.
Hasil yang kita dapat itu adalah dari proses yang kita lakukan.

4 thoughts on “Menulis itu Mudah tapi Jangan Dianggap Sepele

  1. Wah benar sekali mbak. Menulis itu mudah tapi sulit. Menulis itu butuh waktu singkat tapi harus penuh dengan kesabaran. Menulis itu tidak membutuhkan tenaga tapi sangat melelahkan.

Comments are closed.