Mengejar untuk Terkenal

beruang

Punya akun sosial media.
Punya.
Beberapa dibuat karena ingin tahu dan penasaran. Tapi bersyukur karena bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang.
Saya bisa tahu kebutuhan penerbit akan sebuah buku. Saya juga tahu dengan cepat ketika ada kompetisi menulis di media cetak.
Beberapa akun media sosial, saya buat untuk memantau dua abege saya, yang juga punya akun media sosial. Sebagai Ibu saya harus kepo dengan apa yang mereka lakukan. Dan tentunya mereka juga lebih terjaga karena mereka merasa ada yang memantau mereka.

Followers alias pengikut?
Saya tidak pernah memusingkan hal itu.
Justru anak-anak yang suka menghitung, teman Ibu ada berapa? Tapi saya pernah bilang, bahwa semakin banyak teman, Ibu juga bingung. Karena semakin tua Ibu semakin mudah lupa. Semakin takut menyia-nyiakan waktu. Semakin banyak teman itu artinya, akan ada semakin banyak group, semakin banyak perbincangan basa-basi, dan semakin banyak waktu kita habis hanya untuk menyenangkan orang lain.

“Wiiiih, Ibu terkenal.” begitu kata anak-anak yang suka mengintip akun sosial media saya.
Saya hanya tersenyum saja.
Ibunya tetap ada di rumah. Memasak, menyetrika, mengajari pelajaran sekolah, suka cerewet untuk membangunkan shalat dan meminta mereka shalat tepat waktu.
Terkenal artinya ada orang yang lebih banyak kenal dengan saya ketimbang orang di lingkungan sekitar.
Terkenal artinya, pesan yang saya sampaikan akan diterima orang lain lebih mudah, dan berharap semoga pesan itu adalah pesan yang membuat orang lain berubah ke arah yang lebih baik lagi.

Menjadi terkenal.
Itu yang diharapkan banyak orang.
Banyak uang, banyak pengikut, lalu ketika menghasilkan sesuatu banyak yang berduyun-duyun membeli.
Banyak uang itu artinya bisa membeli semuanya.

Tapi itu nalarnya manusia.
Matematika Allah beda.
Terkenal di mata manusia membuat kita akhirnya melakukan apa saja untuk membuat dikenal di mata manusia. Maka menjelekkan orang lain, saling sikut pada akhirnya jadi sesuatu yang biasa.
Buku-buku yang saya promosikan kalau Allah ingin membuatnya tidak laku, maka tidak lakulah buku saya. Itu artinya rezeki bukan karena keterkenalan. Tapi karena Allah ridla atau tidak.

Belum lama saya disentil dengan kejadian.
Kejadian karena saya begitu stress-nya dengan revisi berulang untuk sebuah naskah yang pendek. Revisi berulang karena naskah harus standar Internasional. Padahal di naskah-naskah internasional yang saya baca, sepertinya tidak sesulit seperti itu.
Saya stress. Berenang. Di tengah berenang, saya kaget karena melihat seekor beruang sedang duduk di kursi. Iya beruang.
Saya kedipkan mata berkali-kali. Taraaa, akhirnya beruang itu berubah wujud. Ternyata beruang itu adalah sebuah jaket coklat yang ada di kursi. Dan jaket itu adalah jaket milik suami.

Apa yang saya bisa pelajari dari sana?
Sebuah revisi membuat saya stress, hingga terobsesi dengan beruang.
Lalu saya coba merenung. Ubah mindset saya.
Kenapa saya tidak mencoba membuat bacaan Al Quran, lalu target kebaikan menguasai saya seperti saya dikuasai oleh beruang itu sehingga dalam keadaan santai pun terbawa?
Alangkah indahnya jika saya sedang melakukan aktivitas lain, yang terbayang adalah anak-anak yatim, orang-orang yang harus saya tolong dan hal baik lainnya?

Kita seringnya mengejar sesuatu untuk mengejar like atau pujian dari orang lain.
Kasus beruang itu menyadarkan saya sesadar-sadarnya.

Terkenal di mata manusia, dan memaksa diri untuk terkenal, dikenal, menjadi bintang adalah sesuatu yang tidak penting.
Yang paling penting adalah menjadi manusia yang fokus terkenal di mata Sang Pencipta dulu. Kebaikan kita, keikhlasan kita, kedermawanan kita, haruslah membuat DIA menjadi mengenal kita.
Kalau sudah mengenal kita maka segalanya akan menjadi mudah.
Tidak perlu menjilat.
Tidak perlu memusuhi dan tidak perlu punya musuh tentu saja.
Hidup pun damai dan bahagia.

Punya medsos?
Masih.
Saya masih punya media sosial beberapa untuk sharing tulisan.
Tapi fokus terkenal?
Mungkin untuk berdiri di garda terdepan bukan tipikal saya. Saya lebih nyaman berada dalam kesunyian dan memilih berjuang terkenal di hadapanNYA dahulu.