Buku Diobral, Penulis Harus Apa?

Di depan pusat perbelanjaan yang biasa kami datang beberapa bulan sekali, ada obralan buku.
Buku-buku bagus. Terbitan tahun 2014.
Diobral mulai harga 10 ribu dan paling mahal 30 ribu.
Sebagai pembeli saya bersyukur ada buku obralan itu.
Sebagai orang yang suka meminjamkan buku untuk yang lain, saya juga bersyukur. Saya bisa membeli banyak buku bagus, dan banyak yang akan bisa menikmatinya.
“Ibuuu, itu aib. Jangan diceritain.”
Itu kata Sulung saya kalau ada sesuatu yang ia rasa memalukan.
Iya, buku diobral itu pertama kali penulisnya merasa malu.
Dulu, saya suka melewati obralan buku. Karena takut buku saya ada di kotak obralan itu.
Jantung rasanya berdegub lebih kencang.
Tapi itu dulu.
Sekarang?
Sekarang tentu saja lain ceritanya.

Bukan berarti saya senang buku saya masuk ke obralan. Yang itu artinya penulis sudah tidak mendapat royalti sama sekali, dari hasil penjualan buku obralan itu.
Sekarang,
saya lebih paham dunia industri buku. Industri itu artinya sebuah buku adalah barang komoditas yang harus mendatangkan keuntungan.
Penulis tidak bisa lagi memikirkan, saya mau menulis saja. Saya mau bersembunyi saja dibalik tulisan saya. Atau saya mau menunggu keajaiban buku saya laris manis bak kacang goreng.
Penulis harus mau berjuang untuk buku-buku yang ditulisnya.
Penulis harus mau turun tangan menjualkan buku itu dan promosi buku itu.
Malu?
Penyakit malu itu saya singkirkan.
Buku yang dibuat dengan hati, risetnya keras bukan sekedar bengong menunggu ilham, lalu ketika menulis diawali dengan Basmallah sambil terus berdoa agar tulisan itu bermanfaat, tentunya saya tidak boleh malu untuk menunjukkan pada orang lain.
Di dalam sebuah buku yang ditulis, penulis menjual idealisme juga manfaat agar tersebar.
Lalu setelah perjuangan menjual, promo dan ujungnya buku itu masuk diobralan, gimana?
Itulah takdir selanjutnya dari buku yang kita tulis.
Ada taman-taman bacaan, rumah-rumah yang meminjamkan buku, yang pesan buku itu akhirnya menyentuh lebih banyak lagi, karena harganya terjangkau.
Itu takdir yang tidak boleh ditangisi.
Penulis sudah berjuang. Pesan dalam buku itu pada akhirnya terus berkelana hingga bahkan setelah usia penulis berakhir.

Yang selanjutnya dilakukan adalah terus menulis.
Cuma cinta yang membuat seorang penulis bertahan.
Kalau saya sudah kadung cinta. Melihat anak-anak seputaran rumah saling membicarakan satu buku yang mereka pinjam dari saya, itu suatu kebahagiaan.
Kemarin Totto Chan jadi perbincangan.
Lalu buku yang lain pula.
“Yang ini bagus, aku suka.”
Itu perbincangan anak-anak usia SD yang belajar di rumah.
“Ini warisan ilmu dari Ibu untuk kalian.”
Biasanya di buku non fiksi saya tulis pesan untuk dua abege saya.
Agar mereka paham, bahwa perjuangan Ibu dalam menulis, adalah perjuangan memberikan warisan ilmu pada mereka, yang sifatnya lebih kekal ketimbang harta.