Blog Cinta Yasmin

animasi

Andai aku bisa
Terus menjagamu
Seperti angin setia menjaga daun-daun
Yang ia luruhkan ke bumi.

Satu puisi baru Yasmin masukkan. Sekarang mata Yasmin memandangi laptopnya. Tersenyum sendiri. Ia tadi sudah mendownload gambar hati berwarna merah. Lalu ia ubah dengan warna biru. Dan ia jadikan latar belakang blognya.
“Kamu nulis apa di sana?” Caca berusaha mengintip.
Yasmin cepat mengklik bagian atas laptopnya. Berganti dengan akun twitternya. “Semua tentang cinta,” ujarnya cepat.
Caca cemberut. Lalu mulai mengambil telepon genggamnya. Yasmin tahu apa yang akan Caca lakukan. Selfie berkali-kali, lalu akan diunggah ke akun istagramnya.
“Nulis itu capek,” ujar Caca.
Yasmin tersenyum. Blog cinta ia buka lagi mumpung Caca sedang sibuk berselfie ria. Caca membetulkan rambutnya. Caca juga mulai memonyongkan bibirnya. Cekrek cekrek. Sekarang Yasmin lihat, Caca sudah berjalan menuju topi di dinding. Yasmin ingat topi itu dia beli ketika ke Borobudur.
Topi itu sekarang mulai Caca pakai.
“Yasmin…, tolong foto aku dalam posisi nunduk, ya. Cuma kelihatan kepala aja, lho. Pakai aplikasi B612.” Caca meringis.
Yasmin mengikuti pentunjuk Caca. Cekrek sekali. Caca menggeleng, belum puas. Cekrek dua kali, Caca melihat hasilnya dan bilang belum bagus. Cekrek cekrek…, sampai enam kali akhirnya Caca puas. Satu foto Caca pilih. Masukkan kea kun istagramnya.
“Aku boleh pakai untuk menulis di blog?” tanya Yasmin.
Caca mengangguk.
Caca tersenyum. Yasmin tidak tahu, Caca sudah mencari alamat blog Yasmin di smart phonenya. Lalu Caca tekan tombol untuk menyimpan beberapa tulisan di blog Yasmin.
Rangga pasti suka, karena ada banyak tulisan curahan hati Yasmin. Ada juga beberapa puisi, yang Caca yakin pasti ditunjukkan untuk seseorang. Dan seseorang itu pastilah Rangga.
**
Banyak tempat untuk belajar. Ayah selalu bilang seperti itu. Maka Yasmin selalu suka duduk di mana pun itu. Lalu bicara dengan siapa saja.
Sebuah kamera ia keluarkan. Bukan, bukan kamera HP. Ayah minggu lalu memberikan Yasmin kamera DSLR bekas temannya yang wartawan. Ayah bilang, Yasmin boleh eksplorasi apa saja dengan kamera itu.
Yasmin mulai mengalungkan tali kameranya.
Cekrek.
Seorang gadis kecil melambai padanya. Namanya Tita. Senyumnya manis dengan lesung di pipi. Minggu lalu Tita hampir sama diculik. Untung Yasmin memiliki beberapa foto Tita yang sedang di taman. Seorang lelaki yang hampir menculik Tita itu biasa ada di taman juga.
Berteman dengan siapa saja. Itu juga yang Ayah bilang. Maka sekarang Yasmin menikmati es cendol yang disodorkan Bun padanya. Lelaki yang senang mengenakan jaket jeans itu menyentuh kamera Yasmin.
“Kamu mau coba juga?” tawar Yasmin.
Bun mengangguk.
Dua bulan belakangan ini, di taman dekat stasiun, tidak begitu jauh dari sekolahnya, Yasmin memang selalu menyempatkan diri untuk mampir. Kamera itu ia bawa setiap hari ke sekolah. Ada Bun yang dikenalnya. Penjual minuman botol. Bun suka memberi gratis pada Yasmin, asal diajari banyak hal, termasuk menggunakan kamera.
“Aku bisa juga…,” Bun kelihatan baru saja menekan tombol kamera itu, lalu menunjukkan hasilnya pada Yasmin.
“Bagus…,” ujar Yasmin. Lalu Yasmin mengambil kamera itu dari Bun dan mulai mengambil gambar Bun.
Ada banyak ide tulisan yang Yasmin dapat dari Bun. Yasmin akan menuliskannya di dalam blognya.
**
“Penggemar rahasia…,” Ayah tertawa ketika mereka duduk berdua di sore hari. Ada kue lumpur buatan Bunda. “Penggemar rahasia…, sssst…,” kali ini telunjuk Ayah menempel di depan bibirnya.
Yasmin tahu artinya. Ia harus duduk semakin mendekat dengan Ayah. Lalu….,” Es moccacino dengan cendol hitam, ya, Yah,” bisik Yasmin.
Ayah tertawa.
Ada di laptop yang Ayah buka. Yasmin melihat ke layar.
Ayah punya blog. Diisi lengkap dengan foto-foto Yasmin dari Yasmin kecil sampai Yasmin beberapa minggu yang lalu.
“Pengagum rahasia,” Ayah mengklik salah satu foto pengikutnya. “Duluuuu…”
“Dulu kenapa?” bisik Yasmin. Tapi berhenti ketika Bunda datang membawakan es dawet.
“Kenapa senyum-senyum begitu?” tanya Bunda.
Yasmin menggeleng.
“Pasti Ayah mau cerita tentang masa lalunya….”
Kali ini Ayah tertawa. Sedang Yasmin terkikik. Pandangannya terpaku pada sosok yang tadi Ayah klik fotonya. Cantik. Alisnya tebal. Senyumnya manis.
“Itu pacar Ayah? Duluuu?” tanya Yasmin.
Ayah menggeleng. “Dulu Ayah naksir dia. Terus ditolak,” kali ini Ayah meringis.
Yasmin rasanya mau tertawa. Tapi Ayah kedengaran berdehem. Lalu Ayah mengklik gambar yang lain. Gambar Ayah waktu muda. Ayah yang kurus kering sedang telanjang dada, dengan rambut panjang. Hii, Yasmin tidak suka juga lihatnya.
“Sekarang dia hobinya baca dan kasih komentar semua tulisan di blog Ayah?”
“Ayah jadi ge er?” selidik Yasmin.
Ayah menggeleng. “Ge er nya sudah hilang,” ujar Ayah cepat. “Ayah hanya senang karena tulisan Ayah di dalamnya, membuat dia jadi bisa menghargai pasangannya.”
Yasmin mengangguk. Yasmin tahu Ayah memberi judul blognya Suara Hati Lelaki. Di dalamnya Ayah tulis pengalaman menjadi ayah dan suami.
**

Ayah selalu bilang kalau efek dari blog sering mengejutkan. Cerita kita yang ditulis di blog bisa saja diaku oleh orang lain. Atau…
Sekarang Yasmin berdiri di depan majalah dinding.
“Itu tulisan kamu. Buat siapa?”
Yasmin membaca. Itu puisi yang diambil dari blognya. Tapi di dalam blog, puisi itu tidak ditunjukkan untuk siapa-siapa. Kenapa sekarang puisi dari blognya itu di printed out dan ada foto Rangga di sebelahnya?
“Bukaaan. Bukan dia yang dimaksud,” Yasmin menggeleng pada Caca.
Tapi terlambat.
Beberapa anak berkumpul mengelilingi Yasmin dan Caca. Dan orang yang bernama Rangga, sekarang berdiri sambil tersenyum. Kelopak matanya berkedip menggoda berkali-kali pada Yasmin.
Wajah Yasmin memerah.
Tidaaak.
Bukan untuk Ranggu puisi yang ada di blognya. Lagipula Yasmin tidak pernah suka dengan cowok yang suka obral senyum, dan yakin semua cewek pasti bisa jatuh cinta dengannya.
“Duhai Cinta…, datanglah seperti kumbang datang pada bunga-bunga…,” teriakan itu terdengar mengiringi langkah kaki Yasmin.
Yasmin geregetan.
Siapa yang sudah iseng seperti itu kepadanya?
**
Ayah tertawa.
Ayah bahkan membuka tabletnya, lalu membuka blognya. Puisi cinta label itu Ayah klik. Lalu terbuka. Deretan puisi cinta ada di sana.
“Yang untuk Maryam ini, Ayah tulis untuk anak kecil yang Ayah lihat di kereta. Bagus, kan?”
Yasmin membacanya.
Mata bulat yang berkedip manja. Lelehan es krim di pipi. Dan aku tahu, aku sudah tergoda.
“Bunda kamu tahu siapa Maryam. Bunda malah lebih suka Ayah jadi puitis.”
Yasmin tersenyum. Ia mencoba membuka postingan yang lain. Judulnya Renata dan Segala Luka.
Bukan. Yasmin tahu itu bukan puisi cinta untuk siapa-siapa. Tapi itu puisi cinta untuk kucing angora mereka yang mati terlindas motor, ketika ke luar dari pagar rumah. Ayah sedih karena itu kucing hadiah ulang tahun Ayah dari Bunda.
“Buat puisi cinta yang banyak,” ujar Ayah.
Yasmin mengangguk.
“Semakin banyak yang membaca, kamu akan semakin bahagia.”
Yasmin tersenyum.
Kali ini Ayah melirik pada Yasmin. “Terus…., sebenarnya puisi itu…”
Oh tidaaak. Soal puisi itu sebenarnya….
Yasmin menggelengkan kepalanya. Telepon genggamnya berbunyi.
**
Blog cinta Yasmin sudah tersebar. Istagram jadi tidak laku, begitu laporan Caca sambil cemberut. Karena katanya foto-fotonya di istagram jadi tidak diminati lagi teman-temannya.
Caca juga mulai tertarik untuk ikutan membuat blog. Tapi isinya lebih banyak foto-fotonya dengan berbagai gaya.
Teman-teman yang lain juga minta untuk diajarkan membuat blog. Ada yang mulai menulis resep di blog. Ada yang rajin menulis kisah tentang kucingnya. Ada juga yang menulis tentang mantan-mantannya.
Benar kata Ayah, untuk bahagia itu sederhana. Menularkan kesenangan saja dan orang lain mengikuti, sudah membuat kita bisa bahagia.
Rangga? Rangga berkali-kali malah jadi kerajinan memajang puisi Yasmin di mading seperti ingin menjelaskan pada semua bahwa puisi-puisi yang ada di blog Yasmin adalah puisi untuknya.
Yasmin tersenyum. Kamera sudah ia masukkan ke dalam tas.
Ada Bunda melongok dari balik pintu. “Ada yang cari.”
Yasmin mengangguk.
Hari ini Yasmin memang sudah berjanji dengan Bun, untuk naik commuter line dan menjelajah kota tua. Bun tidak jualan hari ini. Lagipula Bun sudah mengaku, jualan Bun sebenarnya dalam rangka pendalaman karakter . Bun yang mahasiswa seni itu akan pentas teater.
“Siapa?” tanya Caca penasaran. Ia mulai bergaya lagi. Lalu berganti pose lagi. “Siapa tahu suatu saat ada perusahaan iklan yang melihat blogku, lalu mereka akan telepon aku. Horeee, aku bisa jadi bintang iklan.”
Yasmin terkikik. Caca memang punya obsesi sebagai model.
“Bunda sudah kasih es cendol,” ujar Bunda yang masih ada di dekat pintu.
Yasmin tersenyum. Melangkah ke luar kamar.
“Bun siapa?” kali ini Caca mengikuti.
Yasmin menarik napas panjang. “Bun itu cowok yang membuat puisi, diberikan padaku, lalu aku simpan di blogku.,” ujar Yasmin, pipinya memerah karena malu.

**