Bismillah, Penjaga Bintang dan Domba

bismillah

Buku apa yang saya suka?
Saya tipikal orang yang tidak mudah merubah kesenangan.
Buku-buku yang saya punya, yang saya suka. Dan kesukaan itu tidak bergeser dari kesukaaan mendengar lagu dengan lirik puitis dari Ebiet G Ade, juga kesukaan memmbaca buku-buku Kahlil Gibran.
Maka buku-buku yang paling saya suka adalah buku yang nuansanya tidak bergeser dari arah sana.

Sesungguhnya saya menunggu ketika membaca buku anak.
Saya ingin buku anak yang saya pegang memenuhi keinginan saya. Bahasa-bahasa indah dan puitis. Sebab saya sendiri pun terkurung dengan hanya bisa menulis cerita anak standar anak, tidak boleh terlalu berat, jadi anak yang membacanya akan paham.
Meskipun akhirnya saya berjuang untuk mengangkat ide yang unik agar cerita anak itu berbeda, dan anak bisa belajar dengan memahami sudut pandang yang berbeda.

Ada tiga buku yang akhirnya saya lihat.
Buku dari penerbit Republika ditulis oleh Wikan Satriati dengan ilustrator dari Evelyn Ghozalli
1. Gadis Kecil Penjaga Bintang
2. Melangkah dengan Bismillah
3. Ahmad dan Domba Kecilnya.

Ketiga buku ini ilustrasinya tidak secerah warna buku anak lainnya. Tapi justru saya tertarik di situ. Ada sesuatu yang membuat saya merasa, buku ini beda.
Tanya pada teman yang sudah punya satu buku.
Browsing-browsing. Kebetulan ada teman FB yang berjualan tiga buku ini. Beli ketiga-tiganya. Langsung baca dan selesai ketika saya menunggu siaran di radio Dakta.

Aduh, saya langsung jatuh cinta.
Buku ini agak berat memang untuk anak-anak yang belum terbiasa membaca buku. Untuk orangtua yang biasa langsung membaca tanpa ingin mengetahui maknanya juga akan terasa berat.

Gadis Kecil Penjaga Bintang
Ini adalah buku kumpulan cerita pendek.
Cerita pendeknya istimewa. Karena isi cerita itu berdasarkan ayat Al Quran. Ayatnya ditulis di awal setelah judul. Lalu ceritanya pengembangan tentang ayat tersebut.
Salah satu judulnya adalah Doa untuk Ayah Bunda.
Di situ diceritakan tentang Ailin yang belum tidur.
Doa anak untuk orangtuanya itu diibaratkan seperti bintang yang akan menerangi malam. Semakin banyak anak yang berdoa, semakin teranglah bintang.
Kesadaran untuk berdoa itu datang ketika Ailin diajak jalan berkelana ke ruang angkasa dan menemukan tempat yang usang bernama “Tempat Ayah dan Bunda yang Sudah Usang.”
Lalu Ailin tidak ingin Ayah dan Bunda seperti mainannya yang sudah usang dan tidak terpakai.
Ailin pun berdoa. Agar ada tambahan cahaya bintang di langit.

Ada juga judul “Belajar dari Batu”
Ini tentang sebuah batu yang merasa tidak bermanfaat.
Teman-temannya sudah pergi menjadi pondasi atau bagian dari jalan raya. Tapi batu itu tetap sendiri dan menyesali nasibnya.
Lalu seorang anak yang merasa bodoh karena tidak pernah berhasil di sekolahnya meskipun ia sudah berdoa, suatu hari melewati tempat di mana batu itu berada.
Anak itu duduk di atas batu dan menyentuh permukaan batu yang lembut karena tetesan air telah melubangi permukaan batu yang keras tersebut.
“Tetes air yang sabar bisa melubangi batu yang keras. Bagaimana mungkin tetes ilmu pengetahuan tidak bisa memasuki otak di kepala yang lebih lunak?” halaman 17.
Sejak saat itu si anak terus belajar dan bersabar.

Melangkah dengan Bismillah
Dalam buku ini, kita akan disuguhkan kisah-kisah manis tentang Ayyub dan kesabarannya dalam sakitnya dan banyak ujian kehilangan untuknya. Juga tentang kisah Nabi Muhammad s.a.w dengan pengemis Yahudi yang senang mencaci makinya. Pengemis itu tidak sadar kalau orang yang dicaci maki adalah orang yang selalu menyuapkan makanan ke mulutnya setiap hari.
Di cerita terakhir ada cerita tentang Ladang Kata. Ketika benih disebarkan dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahiim. Maka benih itu akan tumbuh dengan baik dan menghasilkan sesuatu yang baik pula.

Ahmad dan Domba Kecilnya
Dalam buku ini ada satu cerita tentang Ahmad yang kehilangan dombanya. Tapi ketika disodorkan domba lain, Ahmad menolak karena ibunya mengajarkan kejujuran untuknya. Kejujuran yang akan mendatangkan rezeki lebih besar.
Tapi rezeki untuk si Ahmad yang ia rasakan bukan rezeki dalam bentuk materi, ketika ia bicara jujur pada Kakek bahwa dombanya adalah domba yang kecil. Bukan domba yang bagus dan cantik.
Rezeki itu berupa perasaan lega karena Ahmad tidak berdusta. Dan rasa itu hanya bisa didapat hanya oleh orang-orang yang jujur.
Ada juga kisah penjual kain yang selalu mengatakan bahwa kain yang dijualnya ada cacatnya meskipun kain itu bagus. Ia tidak mau berdusta karena jika ia berdusta maka bisa jadi pembelinya akan menjual kain itu juga dengan berdusta kepada pembeli berikutnya.
Sampai akhirnya keyakinan untuk tidak berdusta itu membuat ia memberanikan diri menjual kain kepada paman dan kemenakan yang perniagaannya selalu laris manis.
Kainnya dibeli dengan harga yang pantas. Dan kejujuran itu membuat si kain jadi alas duduk di atas onta untuk si anak (Nabi Muhammad) sepanjang perjalanannya melakukan perniagaan.

Semua isinya bagus.
Meskipun ada cerita yang terlalu panjang dan agak membosankan ketika dibaca seperti dalam kisah Assalamualaikum. Cerita dimulai di halaman 25 dan berakhir di halaman 43.
Secara keseluruhan saya suka.
Saya belajar banyak.
Dan saya bahagia bisa memiliki buku ini jadi koleksi perpustakaan saya.