Satu Lomba Saja

Satu lomba saja

Ibu kalah lagi. Sebulan belakangan ini, Ibu sering bilang seperti itu. Ibu ikut lomba dan “Ibu kalah lagi…”
Aime melihat ke arah Ibu yang berdiri di depan pintu. Wajah Ibu kelihatan sedih.
“Kue buatan Ibu padahal sudah enak, loh. Tapi ternyata ada yang bikin kue lebih enak
lagi.”
Aime dan Ayah kali ini saling berpandangan.
Ibu kalah lagi. Dari mulai lomba merangkai bunga, sampai lomba memasak.
Ibu berjalan menuju Aime. “Sudah dicatat?”
Aime mengangguk. Ibu memang menugaskan Aime untuk mencatat, sudah berapa kali Ibu ikut lomba, dan sudah berapa kali Ibu menang lomba. Tapi dari yang Aime catat, belum sekali pun Ibu memenangkan lomba.
Ibu tersenyum pada Aime. “Ibu akan belajar lagi,” ujar Ibu.
Ibu akan belajar lagi. Wah, Aime sudah membayangkan Ibu akan sibuk mengerjakan banyak hal.
“Pilih satu lomba saja,” ujar Ayah sambil mengisi majalah teka teki silang.
“Kenapa harus satu lomba, Yah?” Aime kali ini bertanya.
Ayah tersenyum. “Biar lebih konsentrasi.”
Ibu seperti berpikir. Lalu mengangguk. “Ayo….,” kali ini tangan Ibu menarik tangan Aime. “Ibu mau bikin kue bolu karamel,” ujar Ibu sambil tersenyum.
**

Poster lomba itu ada di depan sekolah Aime. Warnanya oranye. Ada orang sedang memegang mik di sana.
“Bunda aku mau ikut,” ujar Lola pada Aime.
Aime tahu, bundanya Lola itu memang suaranya bagus.
“Ibu kamu suka ikut lomba juga, kan?”
Aime mengangguk. Ibu suka ikut lomba. Lomba apa saja. Lomba masak soto, lomba menjahit juga lomba menyanyi.
“Ibu kamu mau ikut?”
Aime belum tahu, tapi nanti sampai di rumah Aime akan memberitahukan lomba itu pada Ibu.
“Ada lomba nyanyi,” ujar Aime ketika sampai di rumah.
“Bintang kecil…” Ayah mulai bergaya menyanyi.
Aime tertawa melihat gaya Ayah. Ayah memegang sisir dan menjadikannya sebagai mik. Suaranya dibesarkan.
“Lombanya buat Ibu,” ucap Aime. “Ibu kan yang suka ikutan lomba.”
Tapi ketika Aime melihat pada Ibu, Ibu menggelengkan kepalanya.
“Ibu hanya mau ikut satu lomba saja,” ujar Ibu. “Ibu cuma mau ikut lomba masak.”
“Benar?” tanya Ayah.
Ibu mengangguk. “Satu lomba saja sampai berhasil,” ujar Ibu bersungguh-sungguh.
Aime dan Ayah saling berpandangan. Tapi Aime lihat, dua jempol Ayah diangkat tinggi-tinggi.
**
Ibu hanya memilih satu lomba saja. Lomba memasak. Ibu hampir setiap hari berlatih memasak. Masakan Ibu sekarang jauh lebih enak dan lebih bagus tampilannya.
“Pilih salah satu saja. Biar konsentrasi,” ujar Ibu pada Aime sambil memakai celemek sebelum maju untuk lomba.
Aime mengangguk. Ia dan Ayah harus duduk di kursi penonton dan menyaksikan Ibu mulai berlomba.
Ibu memasak dengan tenang. Rasanya tiga masakan yang diminta oleh juri, semuanya sudah biasa Ibu masak di rumah. Aime lihat, Ibu tidak bingung seperti peserta yang lain.
“Kamu bisa menebak siapa pemenangnya?”
Aime mengangguk.
Setelah lomba selesai dan juri menilai, Aime tahu siapa yang akan disebutkan juri sebagai pemenang.
“Ibu menang,” bisik Ayah pada Aime.
Ibu tersenyum lalu melangkah ke panggung.
Aime bisa melihat Ibu kelihatan bahagia ketika menerima hadiah lomba.
“Pilih satu lomba saja,” bisik Ayah kembali pada Aime.
Aime paham sekarang apa yang dimaksud Ayah.

**