Room to Read dan Belajar Menulis Lagi

R to R pengumuman

Seorang penulis harus berjuang untuk mau terus-menerus belajar. Itu sih keyakinan saya. Keyakinan seyakin-yakinnya bahwa ketika penulis tidak mau belajar dan langsung puas dengan hasil yang diperolehnya, maka justru itu adalah sumber kematian si penulis.

Saya suka belajar. Sarana apa pun yang bisa membuat saya tambah ilmu, saya akan mencarinya.
Kebetulan nih.
Kebetulan, suatu hari di kelas Kami Penulis Tangguh kita memiliki target untuk menembus lomba. Dan lomba itu audisi Room to Read. Di Merah Jambu Gabungan juga saya tawarkan, adakah yang mau mengikuti audisi tersebut.
Jadi kami sama-sama berdiskusi dengan melihat persyaratannya.
Lalu kami saling upload karya paling tidak untuk memberi tahu kepada yang lain bahwa mungkin kriteria yang diinginkan panitia seperti itu.
Empat naskah di Penulis Tangguh termasuk saya, ternyata Alhamdulillah masuk kriteria tersebut.

Eh tapi Room to Read itu apa, sih?
Room to Read itu sebuah organisasi yang ingin menghadirkan buku-buku yang baik untuk anak-anak. Biasanya buku itu akan disebarkan ke perpustakaan di daerah terpencil.
Itu gambaran umumnya.

Bayangan dan Realitas

Yang terbayang dari acara workshop itu sebenarnya tidak terlalu berlebihan. Kita belajar. Membuat tulisan untuk pictorial book. Itu yang saya pahami.
Tentang pengalaman teman sebelumnya, kalau di sana akan membuat tulisan, maka itu juga bisa saya pikirkan dengan santai. Karena masalahnya saya juga terus menulis setiap hari, jadi soal hambatan ide pasti bisa saya tanggulangi dengan baik.

Panitia meminta untuk membawa netbook alias laptop.
Nah itulah. Saya terbiasa menulis menggunakan komputer yang sudah menyatu dengan jiwa. Iya, tidak mudah untuk saya berpindah dari satu komputer ke komputer lain. Kalau saya sudah cocok dengan sesuatu itu artinya saya akan setia.
Jadi ceritanya laptop di rumah juga ukurannya agak besar. Itu laptop suami. Laptop dengan program ilustrasi dan design yang ribet untuk saya. Lagipula saya tidak mau ribet membawanya. Ada netbook kecil hadiah saya dari pak Mentri Pendidikan dulu ketika dapat Award. Tapi itu sudah saya berikan untuk anak bungsu saya, biar dia produktif menulis.
Tanya sana sini, baca pengalaman yang pernah ikutan workshop hasilnya saya putuskan saya akan menulis di kertas saja. Artinya saya bawa penggaris, pulpen, tip ex sampai rautan pensil. Komplit. Jadi kalau panitia minta hasilnya, tinggal saya foto dan kirim.
Untuk antisipasi, saya download program words di HP saya.

Teruuuus…
Saya cerita hari pertama dulu, ya.

Hari pertama, kami check ini.
Barengan saya dari stasiun Bandung, ada Luthfi, Widya dan Saptorini. Kami naik taksi sampai Green Resort Lembang.
Sampai di sana ternyata check ini baru bisa pukul dua siang.
Kami sampai jam sepuluh. Itu artinya….

14445622_637470359749224_1431247766_n

R to R la

Saya jalan-jalan bersama Fifa Dila asal Malang. Cekrek sana sini. Sampai cari musholla untuk shalat.
Dan ketika jam dua tiba, kami cepat-cepat masuk kamar.
Eit…, sebelum masuk kamar, datanglah Izzah Annisah dari Lampung. Berpelukan.

Oh iya ada masalah nih.
Saya berangkat pagi hari dari rumah. Jam empat saya berangkat karena kereta saya akan berangkat pukul setengah enam kurang. Jadi saya subuh di musholla stasiun. Maklumlah tinggal saya di ujung Bekasi yang tidak mudah dapat kendaraan di pagi hari. Lagipula, lebih baik datang lebih dahulu ketimbang ketinggalan kereta.
Saya bawa bekal air mineral dan beberapa butir kurma.
Udara cukup dingin. Teruuus. Kami hunting ke kamar-kamar penulis lain. Ngobrol sana sini. Dan…, rupanya saya dan Izzah punya masalah yang sama. Kita berdua kelaparan. Hi hi, sampai kita kedinginan. Hingga akhirnya kami cari alternatif main ke kamar Yuniar Khairani dan Saptorini untuk cari pengganjal perut.
Lumayan, lapar sedikit berkurang.
Saya dan Izzah cekikikan setelah itu.

Karena resort maka tanahnya berkontur. Saya dapat kamar di lantai dua. Untuk makan kami harus turun ke bawah, melewati jembatan yang menurun yang di bawahnya ada kolam ikan.
Tempatnya bagus.

aku dan room to read

kamarku

Jam tujuh saatnya makaaaan.
Ada di restoran sistem prasmanan. Nasi beserta lauk pauk silakan ambil sendiri.
Setelah itu kami tidur dan bangun di pagi hari dengan segar dan sarapan lagi.

Saatnya Belajar di Hari Pertama

belajar di room to read

Belajarnya apa?
Belajarnya banyak. Tapi lebih utama pada pembuatan naskah buku anak. Pictorial book.
Susah?
Buat saya susahnya adalah, ketika diajarkan untuk memikirkan awal, tengah dan ending cerita. Padahal hiks, padahal, saya tipe penulis yang tidak punya konsep yang harus dicoret-coret dulu. Semua coretan ada di kepala saya.
Yang mengisi workshop adalah Alfredo Santos dari Filipina. Ada penerjemah. Tapi karena bahasanya mudah dimengerti jadi bisalah. Lagipula untuk menangkap kalimat dalam Bahasa Inggris juga membaca buku Bahasa Inggris saya tidak kesulitan. Yang sulit buat saya adalah ketika bicara Bahasa Inggris. Mulut dan otak rasanya susah connect. Haduh.

Jadi Alfredo menyampaikan materi. Kita dipisah menjadi beberapa kelompok. Saya dengan beberapa teman. Horee, saya kelompok dengan mbak Yuniar dan Saptorini. Kita udah akrab di PT, jadi senanglah.
Setiap kelompok ada pendamping. Kami dapat pendamping mbak Eva Nukman dari Litara (penerbit yang khusus menerbitkan buku bacaan anak dan disebar untuk program perpustakaan di daerah terpencil). Dan Pak Agus Raymon dari Bestari.

kita PT

Alfredo menerangkan sesuatu.
Tangan saya sih bergerak. Bukan buat nyatat. Tapi buat bikin coretan beberapa ide yang kebetulan nempel di kepala.
Oh ya, pada hari pertama kita diminta memikirkan satu ide yang akan kita presentasikan besok.
Alhamdulillah ide itu ada.
Dan editor siap diskusi tentang itu.

Workshop ada waktu istirahatnya. Istirahat untuk coffee break, makan siang, coffee break lagi. Pokoknya soal makanan memang sudah dijamin jadi jangan takut kelaparan.
Hari pertama kita dikasih kertas untuk kita kerjakan perkelompok. Macam-macam pertanyaannya. Termasuk apa yang kita inginkan dalam workshop tersebut.

Hari pertama selesai.
Bawa PR di kepala.
Dan tidur pun mulai resah.

Hari kedua

Hari kedua artinyaaa.
Eit karena membuat pict book adalah masalah baru buat saya, maka tidur saya mulai tidak tenang. Ide udah ada sih. Sudah langsung saya buat jadi adegan pict book. Sudah disetujui editor pendamping.
Seperti biasa saya sih biasa menulis idenya jadi cerita dulu. Baru saya pisah mana awal, tengah dan ending.
Tapi tengah malam saya terbangun. Ada ide lain yang menurut saya lebih menariik.
Langsung saya catat dan selesaikan dalam sebuah cerita.

Eng ing eng, ternyata. Di hari kedua ide saya yang saya dapat itu, kata editor kurang mengena karena tokohnya harus anak dan yang mengambil inisiatif anak bukan orang dewasa, lebih bagus yang pertama.
Maka saya kembali ke ide pertama.

Oh ya ada juga warming up dari Olivia dari Amerika kalau tidak salah. Dia memberi pemanasan dengan mengajak setiap kelompok untuk menciptakan tarian dengan modal, beginning, middle dan ending. Seperti sebuah cerita.
Kelompok kami bikin tarian tentang ikan yang tertangkap dan akhirnya dimasak.
Olivia ini membuat kelas menjadi lebih segar. Karena dia selalu meminta kelompok untuk tampil dan memikirkan jalan cerita yang seru untuk ditampilkan. Mikirnya harus serba cepat.

Oh ya untuk presentasi.
Setiap ide itu dipilihlah satu orang di kelompok yang akan presentasi.
Siapa yang merasa yakin silakan presentasi untuk kemudian diberi masukan oleh teman, Alfredo juga editor dari beberapa penerbit.

Saya diskusi matang pada editor tentang ide itu.
Jadi ketika masuk kamar, saya sudah menggambar dan menulis ide itu. Lalu cekrek, kirim ke panitia.
Maklum kan saya tidak bawa laptop.

Ini editor saya yang kayaknya sih jadi editor favorit dan harapan semua peserta karena kejeliannya. Mbak Eva Nukman.

izzah, aku dan mbak eva

Hari kedua malam ini, karena workshopnya panjang. Dan banyak wajah-wajah yang mulai stress, maka bawaannya masuk kamar udah capek. Saya masuk kamar malah masih ditodong Bungsu dengan pesan soal-soal matematikanya yang minta dibantu cari jalan ke luarnya.
Sambil ngantuk saya ajarkan matematika dan kirim pesan ke WA Bungsu. Ternyata ujungnya pesan itu salah kirim. Untung salahnya ke Saptorini. Dan lucunya Saptorini merasa pesan itu adalah kode dari saya, untuk mengarahkan jalan cerita yang sedang dia buat.
Hari kedua kami dikasih pesan bahwa di hari ketiga, kami akan diminta untuk merevisi naskah yang kami kirim untuk audisi.

Hari Ketiga

PR room to read

Hari ketiga. Wajah-wajah tegang.
Kita dipisah kelompok lagi.
Lagi-lagi saya bersyukur dapat kelompok dengan mentor mbak Eva Nukman dan mas Agus Raymon lagi. Saya sekelompok dengan Fifa Dila juga Maharani Aulia dan Arleen pakarnya pict book karena buku pict booknya udah lebih dari seratus.

Kita diskusi ide yang kita kirim untuk audisi.
Nah, waktu semua sibuk diskusi, saya pindahkan cerita dalam bentuk tabel yang saya buat di kertas ke dalam HP. Ketak ketik di HP. Itu pertama kalinya lho saya menulis di HP.
Jadi saya ulang ketik tabel berisi cerita dan panduan untuk ilustrator. Kirim dalam bentuk words ke panitia.
Beres, saya tidak punya utang tulisan.

Lalu cerita yang kita kirim dibahas. Saya dengarkan masukannya. Lalu saya buat tabel yang baru.
Iya tabel.
Pict book itu penulis bukan sekedar membuat tulisan. Tapi harus memikirkan konsep ilustrasinya yang akan membuat ilustrator jadi mudah nanti menggambarkan ide yang kita tulis.
Porsi terbanyak adalah porsi ilustrator.

Ada presentasi lagi.
Dan pada saat presentasi itu, saya kotak-katik naskah kedua. Saya tulis di HP. Sudah disetujui editor, lalu kirim ke panitia.
Di hari ketiga ini ada materi tentang folktale dari mbak Dina Amalia dari Badan Bahasa. Membahas seberapa banyak kita boleh mengadaptasi dan mengembangkan ide dari cerita rakyat.
Kebetulan yang saya tanya adalah boleh tidak saya membuat cerita dari sudut pandang berbeda? Misalnya Maling Kundang saya buat versi semutnya yang bercerita.
MBak Dina bilang boleh.

Kami masing-masing diberi satu naskah cerita rakyat yang harus kami tulis ulang.
Saya dapat cerita dari Kalimantan Barat dan saya memikirkan sudut pandang berbeda. Cerita ditulis lalu, mbak Eva bilang, sudut pandang itu belum berbeda dan ceritanya masih sama.
Berpikir, berpikir, berpikir.
Teman yang lain juga berpikir, berpikir dan berpikir. Cuma untungnya saya hanya memikirkan satu naskah cerita rakyat, karena dua cerita sudah terkirim. Teman lain ada yang masih ada yang tiga ceritanya belum selesai. Pusing, kan?
Makanya jangan kaget lihat gelas kopi di meja-meja yang ada. Termasuk meja saya.

Room to Read ruang belajar

Hari Keempat

Malamnya saya tidur dengan tenang.
Karena saya merasa tidak akan ada presentasi. Di kelompok saya ada dua orang yang belum presentasi naskah. Saya pikir sebagai senior (cie cie..), saya wajib memberi kesempatan untuk yang mau belajar presentasi.
Tapi ternyata.
Ketika kelas dimulai pada jam setengah sembilan. Mbak Eva bilang. “Nur, kamu yang maju ya untuk presentasi.”
O alah, naskah belum jadi. Yang kemarin masih mentah.
Tapi semalam saya terbangun sih dan tulis judul baru yang nempel di kepala. Judul itu artinya untuk saya, sudah mencakup semuanya.

Presentasi itu artinya…, saya harus ngebut bikin naskah.
Saya tulis di buku. Berikan ke mentor editor saya. Dan dia bilang oke.
Kasih ke mentor lain, dia bilang idenya menarik. Tapi untuk lebih afdol sebaiknya saya tanya mbak Dina. Saya langsung ke mbak Dina dan bilang oke. Itu adaptasi dari cerita rakyat dengan sudut pandang berbeda. Dan tidak masalah kalau akhirnya jadi cerita baru.

Sudah oke. Jam makan siang. Semua menghadap laptop. Saya malah ketak ketik di smartphone bikin tabel.
Saya simpan dan screen shoot. Kenapa screen shot? Soalnya saya belum tahu caranya simpan ke google drive dan sudah dicoba ternyata gagal terus.
Setelah jadi saya kirim.
Satu persatu kelompok maju. Kok saya tidak dipanggil. Ada dari kelompok lain yang maju. Ada yang protes karena aturannya satu kelompok satu orang yang maju. Saya bilang ke mbak Rina dan mbak Rina langsung cari file saya.
Majulah saya.

Maju ke depan.

Saya maju, deh.
Kasih folktale yang saya buat.
Ada yang bertanya kok bisa dibuat seperti itu termasuk Alfredo bertanya pada mbak Dina. Alhamdulillah mbak Dina bilang tidak masalah dan mbak Eva juga membantu memberi penjelasan.

Terus masanya panik.
Karena ternyata panitia minta kita mengirim file yang kita buat dikirim dalam versi ZIP.
Saya kotak-katik HP dan ternyata baru nemu cara simpan ke google drive. Pak Raymon mentor saya juga tanya. “MBak Nur gimana? Mbak Nur kirim pakai apa?”
He he, saya tunjukkan file di HP saya.
Saya kirim dalam versi words.

Selesai.
Kami masing-masing dapat sertifikat dari Alfredo. Kasih kesan dan pesan. Lalu berfoto bersama.

Aku di Room to Read

terakhir di Room to Read

Ada 30 penulis yang masing-masing kirim 3 naskah.
Tapi dari tiga naskah itu, hanya akan dipilih satu naskah saja untuk revisi.
Dan dari 30 naskah itu, hanya akan dipilih 20 naskah saja.
Jadi pulang dari sana, kami masih harus revisi lagi dengan cepat bila ingin naskah itu terpilih.
Kalau saya sih, terpilih atau tidak terpilih pada akhirnya itu masalah rezeki. Yang penting ilmu sudah saya dapatkan.

Sebagai tambahan catatan :

Pict book yang diajarkan terdiri dari beberapa level.
Tapi kemarin sepertinya fokus ke level pemula pertama, kedua dan ketiga.
Pemula dalam artian seperti apa? Saya tanya ke mbak Eva Nukman. Karena berangkat dari pengalaman menurut saya, orang yang tidak terbiasa, bahkan orangtua pun bisa disebut pembaca pemula.
Mbak Eva membenarkan.
Pemula itu range usia 6 -9 tahun.
Kosakata masih sederhana. Jadi tulisan juga harus sederhana dan gambar menguatkan tulisan itu.
Orang yang tidak terbiasa membaca dan belum pernah membaca, meski usia 12 tahun bahkan orangtua sekalipun, bisa masuk katagori ini. Contohnya di daerah-daerah terpencil yang sulit mendapatkan buku.
Semakin meningkat levelnya artinya tulisannya bisa lebih banyak. Misalnya bisa beberapa kalimat. Dan kosakata yang lebih sulit bisa dimasukkan.

Oh ya di Room to Read ini semua transportasi kita diganti, ya.
Plus kita belajar setiap hari di sana, dibayar juga hitungan perhari kok.
Di malam sebelum kita check out semua biaya itu akan dirinci untuk diganti. Karena itu bukti tiket jangan sampai hilang. Print out atau difoto atau bahkan bawa kwitansi untuk ditandatangani supir angkot atau supir taksi yang kita naiki.

Ini catatan sederhana yang nanti kalau ada tambahan lagi, akan saya tambahkan yaaa.

22 thoughts on “Room to Read dan Belajar Menulis Lagi

  1. subhanallah
    membaca tulisan mbak membuat saya ikut bersemangat. Saya ingin lebih tahu lagi tentang RtR.. adakah linknya agar saya bisa mempelajarinya. Oh ya, saya berminat ikut kelas privat mbak. Mohon bimbingannya…
    Saya japri via fb ya mbak

  2. Berharga karena bisa ngumpul bareng Saptorini dan Yuniar mbak Liza. Di kamar ketawa ketiwi sampai lupa kalau kita sudah ibu-ibu.

  3. Pantesan aku dari kemarin mikir mbak Tuti. Soalnya kata mas Bambang, mbak kan terpilih tapi kok aku enggak dengar ada nama Tuti.

  4. Mbak Nur, saya penasaran sama materi folktale-nya. Sejauh mana folktale bisa ditulis kembali dengan sudut pandang baru dan hasilnya tetap bisa disebut folktale? Kalo boleh kapan-kapan dibuka diskusi di grup ya, mbak 🙂

  5. Mb nur, terima kasih infonya. Saya sebenarnya termasuk yg naskahnya lolos seleksi. Tp saat workshop saya tidak bisa hadir karena jadwal bertabrakan dg kegiatan lain. Saya akan tetap semangat untuk ikut RTR tahun depan…

Comments are closed.