Jangan Fokus Pada Kekurangan Orang Lain

Suatu hari di depan televisi Bapak mengomentari seorang penyanyi. Penyanyi itu suaranya bagus, tapi penampilannya tidak menarik. Bapak lalu bilang. “Sayang, ya, tidak cantik.”
Tapi setelah itu Bapak beristighfar berkali-kali. “Tidak boleh seperti itu. Mencela ciptaan Allah berdosa.”

Saya belajar banyak dari Bapak.
Mencoba menerapkan apa yang Bapak terapkan pada saya.

Dulu saya pernah membeli sepatu di toko sepatu. Sampai di sekolah terasa bahwa sepatu itu ternyata sempit sebelah. Rasanya tidak enak. Memang tidak ada yang melihat perbedaa itu. Tapi saya merasa. Apalagi habis jam olah raga di siang hari, pada saat kaki memang jadi mengembang lebih besar.
Satu sepatu di satu kaki terasa masih longgar dan nyaman. Sedang di kaki lainnya sesak. Saya membeli sepatu itu di malam hari. Beli sendiri ke toko sepatu.
Saya lalu melihat di bagian bawah sepatu. Membandingkan nomornya. Baru sadarlah saya kalau ternyata sepatu saya besar sebelah, berbeda nomornya.
Saya masih berusaha untuk menukarnya. Tapi ternyata karena bawah sepatunya sudah kotor, oleh toko sepatu tidak diperbolehkan.
Tapi sejak itu, saya merasa trauma setiap kali membeli sepatu. Berkali-kali saya akan melihat nomornya. Lalu sebelum dimasukkan ke dalam kardusnya pun masih akan saya cek ulang.

Pelajaran dari Sepatu Sulung

Bertahun-tahun pengalaman itu membuat saya takut membeli sepatu. Biasanya kalau ada sepatu yang saya suka, adik-adik saya akan saya beri uang, lalu mereka yang akan membelikan sepatu dengan nomor dan warna yang saya pilih.
Sampai punya anak pun saya masih agak ngeri beli sepatu. Biasanya anak-anak membeli sepatu bersama ayahnya, dan ayahnya yang memilih untuk mereka.
Tapi suatu hari, tibalah Sulung butuh sepatu hitam. Waktunya mendesak. Kami akhirnya lari ke hypermall, yang ada satu toko sepatu.
Sulung memilih sepatu warna hitam untuk upacara. Dia jadi petugas upacara bendera.
Seperti mengurai kejadian di masa lalu, saya mengecek. Lalu setelah itu saya biarkan sepatu itu dimasukkan ke dalam kotak.
Sulung keesokan harinya memakai.

Tapi esok harinya, terjadilah peristiwa dengan apa yang saya alami.
“Ibu, Ibu tahu ada yang aneh dengan sepatuku?” tanyanya.
Ibu tidak mengerti.
“Menurut Ibu aneh tidak?” ia menjejerkan dua sepatu yang dipakainya.
Saya perhatikan sepasang sepatu itu. Tidak kelihatan bedanya. Sama-sama hitam warnanya, sama-sama masih bagus.
Lalu Sulung membalikkan sepatu itu dan menunjukkan nomornya. “Nomor sepatuku berbeda, Bu.”

Rasanya lemas saya melihatnya. Tidak bisa ditukar sepatu yang sudah dibeli dan sudah dipakai. Seperti pengalaman saya.
Saya mendekati Sulung. “Kamu merasa sepatu itu besar sebelah?”
Sulung menggeleng. “Tapi ada temanku yang ngomong begitu, terus teman yang lain lihat,” dia cemberut lalu menyebut satu nama temannya.
Satu teman itu saya kenal betul ibunya dan paham karakternya.
“Terus teman yang lain ngelihatin terus, atau gimana?”
“Enggak, sih. Terus pada lupa, main lagi.”

Saya menarik napas panjang.
Membayangkan dulu, ketika saya memakai sepatu berbeda nomor, hanya saya sendiri yang paham. Teman lain sibuk ngobrol dan tidak memikirkan sepatu saya. Hanya ketika saya fokus ke sepatu, lalu ada yang bertanya. Itu pun hanya pertanyaan kenapa?
Artinya. Saya yang melihat kekurangan saya. Yang lain tidak.

Sekarang Sulung bahkan tidak mengetahui kekurangan sepatu yang dipakainya. Tapi temannya, satu teman yang selama ini suka memberi kritik, yang melihatnya. Itu artinya.
“Kamu tahu. Orang yang sering melihat kekurangan orang lain, biasanya hanya fokus pada kekurangan teman-temannya. Dia tidak akan melihat kekurangannya sendiri. Dia tidak juga melihat kelebihan temannya.”
Sulung belum mengerti.
“Teman kamu melihat seorang pakai baju merah di siang hari juga diberi komentar. Melihat orang pakai topi yang kelihatan aneh, juga langsung diberi komentar.”
Sulung mengangguk. Lalu menjawab.
“Betul, Ibu. Teman yang lain diam aja. Cuma lihat terus main lagi sama aku. Lagipula, sepatu ini masih bagus kok. Aku juga enggak kesempitan.”

Alhamdulillah.
“Kalau kamu butuh sepatu baru, Ibu ajak kamu ke toko sepatu lagi.”
Sulung menggeleng. “Sayang uangnya Ibu. Ini masih bagus, kok.”
Saya tersenyum.
Sepatu itu masih dipakai sampai dia masuk SMP. Ketika saya tanya, apa tidak ada temannya yang melihat nomor sepatunya yang berbeda? Dia bilang, tidak. Apalagi masuk ke kelas sepatu harus dibuka dan ditaruh di rak.
Dua tahun sepatu berbeda nomor itu dipakainya, sampai ayahnya akhirnya pulang dari Malaysia dan membawakan oleh-oleh sepatu baru untuknya, yang nomornya tidak berbeda.

Hanya sepatu berbeda nomor, tapi untuk saya mengajarkan banyak hal. Jangan fokus pada kekurangan orang lain. Karena setiap orang pasti memiliki kekurangan. Fokus pada kelebihan mereka, maka kita akan bisa melihat potensi orang tersebut dan kita bisa mengarahkan ke arah yang lebih baik lagi.