Ibu dan Baju Cinderella

Ibu dan Baju Cinderella

Pink warnanya dengan bunga-bunga ungu juga merah. Bentuknya seperti gaun. Renata tertawa melihat Ibu berputar sambil tersenyum.
“Sepatu kacanya, Bu,” ujar Renata terkikik. Baju itu pernah Renata lihat. Sepertinya baju lama Ibu yang sudah tidak ingin Ibu pakai. Ibu bilang, malu Ibu memakainya karena Ibu sudah tua.
“Baju Cinderella…,” ujar Ayah sambil makan singkong rebus.
Ibu kembali berputar. Renata lihat Ayah menggelengkan kepalanya.
“Ibu mau jadi anak muda lagi,” begitu yang Ayah katakan.
Ibu terus berputar sambil bertanya. “Masih cocok, kan?” tanyanya pada Ayah.
Ayah mengangguk, bahkan menyalakan musik di radio. Dan Ibu berputar seperti saat Cinderella berdansa.
“Ibu punya rahasia?” tanya Renata mendekat pada Ayah.
“Mungkin…., Ibu sedang bermimpi jadi Cinderella,” ujar Ayah kali ini mulai meminum kopinya.
**
Baju Cinderella Ibu itu Renata pikirkan. Dan karena Renata tidak menemukan jawabannya, akhirnya ia ceritakan pada teman-temannya. Renata hanya ingin tahu, apakah ibu teman-temannya sama seperti Ibu?
“Hi hi, Ibu aku kalau di rumah suka ngomel,” ujar Diana sambil tersenyum. “Aku mau, dong, lihat Ibu kamu muter-muter berdansa seperti Cinderella.”
“Mami aku tidak suka baju panjang,” Lili menggeleng.
“Mami kamu jangan-jangan punya mimpi jadi artis,” kali ini Agustin yang bicara.
Renata mendengarkan semua kalimat teman-temannya. Ibu yang mengeluarkan koleksi baju di masa mudanya lalu bergaya seperti Cinderella, menurutnya adalah Ibu yang aneh.
Tapi baju berwarna pink dengan bunga ungu dan merah itu dipakai Ibu kembali, ketika Renata pulang sekolah. Ibu bahkan memakai bedak dan lipstik. Lalu Ibu berdiri di atas anak tangga paling atas. Persis seperti poster film Cinderella yang Renata lihat, ketika Cinderella kehilangan sepatu kacanya.
“Ibu mau apa?” tanya Renata pada Ibu ketika Ibu menyodorkan kamera telepon genggamnya pada Renata.
“Foto saja…,” ujar Ibu.
Renata mengikuti sambil geleng-geleng kepala. Ibu masih aneh juga.
**
Sudah dua minggu baju Cinderella sudah tidak Ibu pakai. Renata melihat baju itu sudah masuk di lemari. Renata senang, Ibu sudah tidak aneh lagi.
Tapi tadi ada seorang mengantar barang baru di rumah. Sebuah mesin jahit berwarna biru yang diletakkan di ruang keluarga.
“Punya siapa?” tanya Renata pada Ibu dan Ayah.
Ayah dan Ibu saling melempar senyum.
“Punya siapa?” Renata penasaran.
Ayah lalu membuka sebuah koran di hadapan Renata. Lalu menunjukkan pengumuman di koran itu.
Tertulis di sana, pemenang lomba foto untuk ibu-ibu yang berani bergaya seperti putri Cinderella. Ayah menunjuk satu foto Ibu yang menjadi juara pertama.
“Sudah lama Ibu ingin membelikan mesin jahit untuk Nenek. Tapi mesin jahit yang Nenek minta mahal harganya,” Ibu tersenyum. “Jadi satu-satunya cara adalah dengan menjadi Cinderella.”
Renata memeluk ibunya kuat-kuat. “Ah…, Ibu keren,” bisiknya dengan bangga.
**