Full Day School, Orangtua yang Berani Memutuskan

At di Bandung

Full day school. Ngeri ya kedengarannya.
Sehari penuh di sekolah, di rumah tinggal capeknya. Anak-anak di sekolah, ibu bapaknya di tempat kerja. Ketika sampai di rumah sudah capeklah semuanya.

Wacana full day school mencuat belakangan ini, meski akhirnya peraturannya segera diganti karena banyaknya yang protes.
Banyak yang merasa harus mem full day kan anak, karena tidak sanggup mendidik mereka. Kata tidak sanggup itu, akhirnya membuat mereka pasrah dan menekan juga pada anak-anak. Pasrah dengan apa maunya sekolah dan peraturan dan menekan anak untuk jadi terbaik di semua bidang. Hayo, mana bisa kan terbaik di semua bidang?

Ada masa anak untuk bermain, maka penuhilah hak anak untuk itu.
Saya justru senang mengambil sesuatu yang berseberangan dengan orang lain. Ketika yang lain mem full day kan anak-anak di usia SD, saya siap dengan memasukkan mereka ke SD negeri yang biasa-biasa saja. Biasa-biasa saja artinya satu kelas dibagi di tiga shift. Kelas satu masuk jam tujuh pulang jam sembilan. Seringnya masuknya jadi jam setengah delapan dan pulang setengah sembilan.
Hayo?
Dapat apa di sekolah?
Saya yakin mereka dapat pertemanan yang beragam. Sisa waktu mereka adalah tanggung jawab saya sebagai orangtua. Saya ajarkan banyak hal.

Ketika hujan deras dan orangtua lain melarang anak bermain, saya malah mengajak mereka mandi hujan pakai jas hujan.
Pura-puranya pakai jas hujan biar enggak dianggap aneh oleh yang lain. Terus kami ke tempat yang masih ada sungai dan banyak kodok berbunyi. Kodok yang berbunyi itu biasanya akan membuat lehernya jadi menggelembung. Itu yang saya tunjukkan pada anak-anak.
Jas hujan tidak menutupi kami dari hujan tidak apa-apa. Wong intinya kami belajar sambil bermain. Anak bukan sekedar mendapat ilmu tapi merasakan cinta kasih saya.

Saya merasa, saya harus memberikan semuanya, termasuk kebahagiaan bermain pada anak-anak hingga mereka masuk usia remaja, alias lulus SMP.
Ada banyak yang tidak sepaham dengan saya. Menyekolahkan anak di sd negeri kampung dengan pengajaran ala kadarnya, akan membuat anak tidak pintar. Ahai, tidak penting apakah mereka pintar untuk saya. Yang penting mereka punya empati besar. Dan empati itu yang akan membuat mereka jadi manusia bermanfaat. Pintar di sekolah itu masalah angka. Dan itu mudah didapatkan.

Akhirnya Full Day School

Full day school adalah sebuah keputusan untuk saya. Keputusan panjang.
Karena apa? Usia anak-anak sudah semakin besar. Mereka selama ini sudah banyak belajar dari saya dan pasangan. Mereka sudah melihat kami utuh berjuang menjadi teladan. Sekarang saatnya untuk mengambil teladan orang lain, yang sepaham dengan kami.

Full day school dipilih harus dipertimbangkan. Banyak SMPIT di kota Bekasi, tapi saya jatuh hati dengan satu tempat. Kalau SMPIT lain lelaki dan perempuan masih dicampur. Sekolah ini dipisah antara lelaki dan perempuan. Dan pola pendidikan antara anak lelaki dan perempuan berbeda. Maka kaget saya waktu ke sana dan mendapati anak-anak perempuannya bicara dengan lembut.
Tidak ada telepon genggam. Semua orangtua murid terhubung dengan guru.
Sabtu ada ekstra kurikuler. Jam belajar jam tujuh pagi teng sampai jam empat dengan asyar berjamaan dan tausiyah. Ada hapalan Al Quran, ada jam khusus bahasa Inggris dan Arab.
Ada juga program mentoring. Jadi anak-anak pergi dengan satu guru untuk menjelajah suatu tempat.
Dan yang lebih penting lagi, selepas mereka dari SMPIT itu, mereka tetap dipantau dengan program mentoring sampai lulus SMA. Kalau orangtua menolak, maka harus tanda tangan surat di atas materai.
Untuk orangtuanya, ada pengajian rutin setiap minggu. Dan ada seminar parenting setiap tiga bulan sekali.

Sekolahnya masih ada PR. Kadang bertumpuk. Tapi PR untuk saya bukan masalah besar. Ayo kerjakan bersama-sama. Jadi mereka merasa tidak sendirian. Ibu harus memeras otak lagi, agar anak-anak tahu Ibu berjuang untuk bisa, dan mereka juga harus melakukannya.

Full day school buat saya adalah sebuah keputusan. Apalagi mereka sudah abege dan condong mendengarkan orang lain ketimbang orangtuanya. Lalu apa salahnya memilihkan tempat yang visi dan misinya sama dengan saya? Sehingga mereka ada di jalur yang tepat.
Kenapa tidak di pesantren?
Tidak. Karena saya ingin anak melangkah pelan tapi pasti.
Dari SD negeri fokus dari saya pelajaran empati, masuk ke SMPIT dengan standar seperti pesantren. Hingga tumbuh kesadaran anak, bahwa ia harus masuk ke mana.
Alhamdulillah, Sulung sudah memutuskan ia akan melanjutkan SMA nya di sebuah pesantren.
Saya dan suami juga belajar banyak setelah anak-anak di SMPIT. Karena kadang ketika pulang, anak membawa pelajaran tentang akhlak juga adab. Dan itu dilakukan.
“Kenapa makannya tidak pakai sendok?”
“Ini sunnah,” jawab Sulung sambil menjilati jarinya.
Lalu lain waktu.
“Adab harus diperhatikan,” ujarnya pada adiknya yang pakai rok pendek. “Berpakaian juga ada adabnya.”

Well, semua berproses.
Full day school buat saya cocok, buat orangtua lain belum tentu.
Jadi nikmati saja apa yang cocok untuk diri kita, bukan untuk orang lain.