Kenapa Penulis Harus Promosi Bukunya?

Aku Keren

Pahala mengalir. Itu memang sengaja yang saya kejar dari menulis. Karena itu sekarang bukan lagi saya hanya sekedar menulis dan menuangkan ide. Atau hanya sekedar naskah dimuat atau buku terbit. Lalu saya terima honor atau royaltinya.
Tidak, tidak seperti itu.

Ada banyak yang saya kejar, terutama pahala mengalir, yang akan membuat saya menjadi terbantu di hari setelah kematian nanti. Ada tiga pahala mengalir yang saya paham betul memang dijanjikan untuk setiap muslim. Yaitu; 1. doa anak yang saleh, 2. Ilmu yang bermanfaat 3. amal jariyah.
Menulis yang bermanfaat untuk saya akan mengalirkan pahala berupa ilmu yang bermanfaat. Ketika kita tidak ada kelak, maka ilmu bermanfaat dari tulisan-tulisan kita yang dibagi lagi oleh orang yang membaca dan dijalankan, akan bermanfaat untuk kita.

Ilmu yang bermanfaat harus disebar.
Kenapa harus disebar? Karena dengan begitu orang akan meniru dan ingin ikut menjalani.
Ilmu yang bermanfaat dalam bentuk buku, juga harus disebar. Jadi orang paham bahwa diantara ribuan buku yang terbit, ada buku yang bermanfaat untuk orang lain.

Penulis di Zaman Sekarang

Setiap orang yang ingin maju, harus berani ke luar dari zona nyaman.
Saya penulis dari era masa lalu alias zaman jadul. Saya biasa nyaman tanpa ribet harus tampil ke permukaan. Maklum bukan karena saya yang pemalu, seperti kebanyakan para penulis lainnya. Tapi karena memang pada zamannya dulu, kita penulis hidup nyaman. Media cetak banyak yang membeli. Yang dilihat karya bukan si pembuat karya.
Buat saya waktu itu, yang penting saya menulis dan biaya kuliah saya lancar.

Penulis di zaman sekarang, terhubung dengan media sosial.
Sempat ikut-ikutan juga saya upload foto-foto wajah. Maklum belum paham bagaimana bermain di media sosial. Apalagi ketika bermain di media sosial, yang saya temui banyak yang mengaku penulis dan sering upload foto. Tapi ternyata mereka tidak menulis. Kalaupun menulis hanya satu dua karya saja.
Akhirnya memang saya menemukan format yang asyik untuk saya di media sosial.
Sesekali pasang foto tidak masalah asal jangan terlalu sering. Wong saya juga tidak cantik seperti para model. Sudah berumur pula.
Tapi sering-seringlah saya akan upload karya saya di media sosial. Buat apa? Biar orang tahu, dong, kalau menulis itu sebuah pekerjaan. Jadi bukan sekali dua kali saja karya bisa hadir di media cetak. Tapi bisa ratusan bahkan ribuan kali. Dan untuk mencapai karya yang banyak tentu harus mau menulis bukan sekedar bilang saya penulis tapi tidak pernah menulis selain hanya menulis di status.

Okelah penulis di zaman sekarang itu artinya saya harus paham.
Bahwa banyak dari pembaca yang tidak ingin sosok penulisnya itu sekedar bayang-bayang. Itu artinya penulis harus muncul ke permukaan. Tampil sedikit tapi bukan bergaya ala model. Sebab nanti malah yang dijadikan rujukan bukan tulisannya tapi gayanya. Kalau saya takutnya, saya sebagai pribadi malah takut kalau nanti terpeleset pingin dipuja dan dipuji. Sehingga harus terus-terusan eksis dengan tampilan diri, tampilan baju, dan ujungnya mengeluarkan semua sudut rahasia diri kita.
Biarlah penulis lain seperti itu, sedang saya lebih suka cari jalan yang berbeda.
Jalan yang berbeda saya seperti apa? Jalan berbeda saya adalah saya akan terus-menerus menulis, terus menerus menampilkan status tentang tulisan yang sudah dibukukan dan hadir di media cetak.
Dengan begitu orang jadi paham bahwa saya terus menulis.

Promosi oh Promosi
Pernah lihat iklan?
Iklan di televisi atau dengar di radio?
Apa yang dilakukan iklan itu?
Yaitu memasarkan produknya. Setiap hari, terus-menerus, hingga melekat di benak yang melihat atau mendengar. Ujung-ujungnya mereka yang mendengar atau melihat akan membeli produk iklan tersebut.

Dalam tempo tertentu, seperti buku yang pernah saya baca semasa kuliah dulu (ops, sayangnya saya lupa judulnya). Bahwa produk yang sudah lama, biar tetap melekat di benak konsumennya harus diganti covernya dan diulang lagi promosi seperti pada awalnya.
Makanya sering kan kita lihat produk minyak, misalnya, berganti warna kemasan atau dirubah logonya atau bahkan berganti namanya?

Lalu promosi buku seperti apa?
Tidak seheboh promosi yang di televisi tentu saja. Karena selama ini promosi buku banyak bertumpu pada penulisnya. Penerbit akan membantu, tapi jika penulis itu dianggap mampu untuk meraup pembeli yang banyak. Seperti contoh penulisnya seorang artis alias public figure.
Kalau yang bukan dari kalangan artis seperti apa?

Begini.
Media sosial membuat penulis memiliki kekuatan penuh untuk meraih pembaca.
Kalau saya selalu meyakinkan diri sendiri bahwa saya penulis dan bukan orang yang menghasilkan tulisan dari sekedar berkhayal. Saya menulis dengan riset dan pengalaman yang mendalam. Itu artinya, pembaca status saya akan paham hal itu.
Jadi suatu ketika saya menelurkan sebuah buku, mereka paham buku saya memang datang dari ide yang saya benar-benar melakukan riset untuk itu. Dan tentu saja hasilnya karya saya itu bisa dipertanggungjawabkan.
Media sosial membuat kita bisa terhubung banyak orang, banyak calon pembeli. Ketika mereka suka dengan gaya tulisan dan pemahaman kita, maka akan mudahlah sebenarnya meraup pembeli.
Jujur saya belajar marketing pada adik kandung saya.
Yang paling terasa adalah saya harus yakin dengan karya yang saya buat. Karena ketika saya yakin karya saya bermanfaat, maka orang lain akan tertular keyakinan itu. Lalu setelah tertular mereka akan mau membeli untuk membaca dan menikmati karya tersebut.

Membeli Buku dari Penerbit

Sejak beberapa tahun yang lalu, saya selalu membeli buku yang terbit dari penerbit. Buku karya saya. Saya punya target membeli 100 buku dari sana untuk dijual kembali.
Itu artinya, lebih baik terbit indie, dong? Begitu yang dulu terlintas di benak saya.
Iya, indie. Saya bisa cetak buku sesuka hati, lalu jual. Berharap dapat meraih keuntungan dari 100 buku yang terjual.
Hiks, tapi ternyata tidak semudah seperti itu.
Energinya berbeda.
Di penerbit, saya kirim naskah, ada editor, ada tim marketing yang akan mendistribusikan buku-buku ke mana saja. Karena apa? Karena mereka harus menghidupi karyawan mereka. Penulis cuma dapat 10 persen royalti atau lebih sedikit.

Jika menerbitkan sendiri, maka saya akan menanggung biaya cetak, dan biaya lay out buku juga editing. Soal layout tidak masalah karena suami ilustator.
Tapi entah kenapa kendala itu selalu datang pada saya. Sehingga akhirnya saya berpikir, penulis lain mungkin bisa menerbitkan indie, tapi saya belum saatnya. Saya tidak boleh hanya melulu memikirkan keuntungan belaka. Saya cukup menulis, bantu promosi dan beli buku dari sana untuk dijual.
Dan itu artinya win win solution.
Penerbit menerbitkan buku. Saya dapat buku yang editing terjaga, cover menjual. Lalu saya beli buku saya untuk dijual kembali dengan harga diskon dari penerbit. Saya ke luar uang, tapi saya puas dengan hasilnya. Di samping itu jika penerbit berkelas yang mengeluarkan buku saya, maka orang punya tambahan keyakinan bahwa naskah saya memang benar-benar oke.

Saya biasanya akan menggandeng adik saya untuk jadi marketing buku saya. Adik saya ini memang sejak kecil suka berdagang. Energinya energi penjual. Jadi setiap buku saya terbit minimal 100 buku yang saya beli bisa dijual olehnya. Dengan catatan, semua pembeli minta saya memberi pesan khusus untuk mereka di buku yang mereka beli.

Akhirnya,
balik lagi ke pahala mengalir.
Ada rezeki mutlak, ada rezeki ikhtiar. Rezeki mutlak itu akan datang kepada kita meski kita tidak mencarinya. Contohnya warisan. Sedang rezeki ikhtiar beda lagi. Rezeki ikhtiar adalah rezeki yang harus kita ikhtiarkan.
Agar karya kita dikenal orang lain, dibaca dan terasa manfaatnya oleh orang lain, maka kita wajib sebagai penulis memiliki ikhtiar untuk itu.
Kasih foto dengan tanda tanga? Sudah enggak zaman.
Kasih reward aja.
Saya sendiri mencoba memberi reward kelas menulis selama satu minggu untuk yang membeli buku saya. Karena apa? Karena saya paham, saya dikenal sebagai penulis yang bisa dan biasa mengajar kelas menulis online. Karena itu reward seperti itu menyenangkan untuk mereka.

Akhirnya,
mari promosi buku sendiri.
Sepanjang buku itu bermanfaat agar pesan bisa terbaca banyak orang.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.