Pertanyaan Penulis Pemula yang Harus Dijawab Dengan Tanya

meja kerja saya

Penulis?
Punya akun di sosial media?
Banyak tulisan yang muncul di media? Atau buku muncul di penerbit? Maka bersiap-siaplah dengan pertanyaan yang akan menghujani kita dari berbagai individu, yang mau menulis juga untuk media dan penerbit.

Tidak semua pertanyaan bisa dijawab.
Saya membatasi diri. Menjawab satu pertanyaan di kolom komentar, hanya akan membuat yang lain ikut bertanya.
Kenapa mesti dibatasi? Karena sebenarnya jawaban pertanyaan itu bisa didapat, kalau yang bertanya mau untuk meluangkan waktu ke toko buku atau ke lapak majalah dan koran, pasti pertanyaan itu bisa terjawab.

Pertanyaan apa saja yang pada akhirnya saya jawab dengan pertanyaan?

1. “Mbak cara kirim tulisan ke majalah A gimana?”
Maka biasanya saya akan bertanya,” Sudah pernah baca dan beli majalah A tersebut?
Nah, biasanya yang bertanya seperti ini tidak akan bertanya lagi. Sebab kalau bertanya lagi biasanya saya akan meminta mereka untuk cari medianya dan membelinya, jadi bisa tahu isi media tersebut.

2. “Mbak berapa honor untuk satu tulisan di majalah B?”
Saya akan jawab, ” Sudah buat tulisan untuk majalah B?”
Banyak yang bertanya hanya tergiur pada kata honor. Tapi mereka hanya berangan-angan untuk menulis saja. Tidak pernah menuntaskan tulisannya.

3. “Mbak, tulisan untuk majalah C berapa halaman?”
Saya akan tanya,” Kamu sudah pernah baca tulisan yang ada di sana?”
Banyaknya halaman masalah mudah. Karena sebetulnya kalau yang bertanya mau berjuang, mereka bisa copas tulisan yang sering saya upload yang sudah dimuat di media. Setelah copas di words bisa terlihat berapa halaman lembar tulisan yang saya buat. Soal font itu masalah selera. Kalau idenya sudah disuka redaksi maka segalanya akan jadi mudah.

4. “Mbak, ide yang bisa dimuat di media N seperti apa?”
Saya akan balik bertanya,” kamu sudah pernah baca tulisan di media N?”
Lagi, lagi banyak yang bertanya soal ide, tapi sebenarnya mereka tidak mau membeli media yang ingin mereka kirimi tulisan. Mereka juga tidak mau membaca contoh tulisan yang banyak tersebar di blog-blog penulis yang karyanya sudah dimuat di media tersebut.
Alasannya karena tidak punya waktu dan sayang pulsa.
Kalau sudah begitu, jangan harap bisa jadi penulis.

5. “Mbak, kok naskah mbak dimuat terus, naskah aku enggak?”
Maka akan saya tanya,” berapa banyak kamu kirim tulisan?”
Saya menulis setiap hari mengirim tulisan ke media setiap hari. Yang bertanya menulis tujuh bulan yang lalu, mengirim tujuh bulan yang lalu. Dan berharap satu naskah mereka yang terkirim itu bisa dimuat dan menghasilkan uang untuk mereka.

6. “Mbak, kalau mau buat buku, ide seperti apa ya yang diterima?”
Maka saya akan bertanya juga,” Kamu suka baca buku? Suka main ke toko buku?”
Nah, ini juga yang sering jadi masalah. Yang bertanya lebih suka ke bioskop daripada ke toko buku, tapi mereka berharap bisa menulis buku.

7. “Mbk aq sk nls tp…”
Nah untuk yang bertanya seperti ini biasanya saya malas untuk menjawab. Sebab untuk menjadi penulis harus berjuang untuk tidak menyingkat tulisan.

Jangan pelit membagi ilmu memang.
Tapi untuk kondisi tertentu di mana minat baca semakin menurun, dan banyak media cetak yang gulung tikar, sedang banyak sekali individu yang ingin menjadi penulis tapi mereka tidak suka membaca dan merasa mahal untuk membeli media cetak juga buku, solusi itu yang akhirnya saya ambil.
Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan dengan tujuan baik.
Berharap setelah itu mereka mau berjuang bukan sekedar bermimpi menjadi penulis, tapi berjuang untuk terus mengisi kepala dengan ilmu dari buku atau media cetak yang mereka baca.