Standar Kita Bukan Standar Orang Lain

“Aaah, sekolah di mana saja sama.”
“Uuuh, buat apa sekolah tinggi kalau cuma jadi ibu rumah tangga.”
“Iiih, mau-maunya ngajar ini itu enggak dibayar. Udah kebanyakan uang.”
“Ooh, kenapa pesan saya enggak dibalas-balas, sih?”

Ada banyak percakapan setiap hari yang terjadi. Ditujukan pada saya, atau dicurhatkan orang lain pada saya. Biasanya ingin curhat karena ingin berbagi resah, sedikit meminta kekuatan.
Setiap kali ada yang bicara negatif, saya memang tutup telinga. Fokus saja membuka mata lebar pada jalan yang sedang saya susuri. Tidak perlu semua orang tahu apa yang ingin saya tuju. Tapi saya selalu percaya, Yang Maha Tahu akan membuat saya pelan tapi pasti menuju satu titik itu.

“Mau kamu apa?” itu pertanyaan yang dulu sering saya dengar.

Ada banyak orang ada banyak pikiran. Pikiran orang yang satu dengan yang lain, jelas tidak sama. Sebab Allah bukan pabrik yang hanya mencetak sebuah produk tanpa hati tanpa akal.
Kita terlahir berbeda. Dari orangtua yang berbeda pengalaman, berbeda sudut pandang, berbeda pengajaran bahkan berbeda pemahaman dalam menerapkan suatu hal. Justru dari perbedaan itu, hadir kita untuk menyerap dan menerapkan segala perbedaan itu.
Apa yang saya mau, pasti berbeda dengan orang lain. Apa yang orang lain mau, pasti berbeda dengan saya. Bahkan untuk tujuan yang sebenarnya sama, tidak semua orang juga sama memiliki standar hidupnya.

Jangan Letakkan Standar Kita

Saya dulu pernah kesal ketika dipanggil oleh ketua RT, untuk disidang bersama remaja lainnya. Maklum lingkungan tempat tinggal saya waktu itu cukup ketat. Jadi ketika ada anak remajanya yang kelihatan bermain dengan anak dari lingkungan lain, dan merasa anak-anak di lingkungan itu tidak baik, maka Pak RT akan memanggil untuk disidang. Iya disidang bukan komunikasi apalagi komunikasi efektif. Sidang itu artinya kamu terdakwa, aku hakim. Tak tok keputusan dibuat. Keputusannya adalah saya tidak seperti dua kakak saya yang terkenal berprestasi dan terjaga perilakunya. “Kenapa kamu tidak meniru kakak-kakak kamu?” itu yang ke luar dari mulut si Bapak RT.
Kesalahan saya sebenarnya kecil.
Saya bergabung dengan kelompok voli dari lingkungan sebelah dan jadi tim inti untuk bertanding lawan tim-tim lainnya.
Apa yang saya pelajari setelah itu adalah. Orang lain tidak tahu apa yang ada di pikiran saya. Orang lain tidak tahu detail apa yang saya lakukan. Wong kenyataannya di rumah prestasi kedua kakak saya kalah sama saya. Tapi itulah, orang hanya melihat permukaan tanpa ingin memahami dasarnya.

Jangan letakkan standar kita untuk orang yang tidak ingin berada dalam satu jalur dengan kita. Misalnya untuk teman-teman yang belajar nulis dan ingin punya penghasilan menulis, maka saya ajarkan standar saya. Minta agar mereka mengikutinya.
Alasanya karena mereka ingin belajar pada saya agar bisa menulis seperti saya. Dan pada akhirnya saya harus menerapkan kondisi yang saya jalani pada mereka.

Standar Kita Sendiri

Saya punya standar. Standar sendiri bukan standar orang lain. Standar saya, saya tahu berbeda dengan orang lain. Tapi karena saya yakin, nyaman dan terus belajar, jadi saya tidak mau terlalu fokus pada orang lain.

Ketika saya yakin Sulung bisa menggambar, karena saya tahu prosesnya di rumah dan saya yakin bakat ayahnya menurun padanya, guru TK sulung bilang dia tidak bisa menggambar. Karena setiap gambar yang dibuat oleh Sulung selalu diwarnai hitam olehnya. Katanya ada perang, bom dan lain sebagainya. Jadi gambar bagusnya tertutup. Si Guru kebetulan tidak melihat gambar bagus itu, yang gurunya lihat saat Sulung memenuhi kertas gambar dengan warna hitam.
Guru tetap yakin Sulung tidak bisa menggambar apalagi berbakat. Saya bersemangat dan yakin bakat ayahnya menurun dan saya tahu potensi terpendam itu harus diasah. Saya beri kertas gambar yang banyak. Setiap habis saya sediakan lagi terus-menerus. Hingga akhirnya lebih dari sepuluh gambarnya dimuat terus-menerus di media Nasional.
Saya tahu standar saya berbeda dengan orang lain.

Ketika memasukkan anak-anak ke sekolah negeri, tanpa diikutkan les dari gurunya pula, orang-orang berbisik. Bertanya dan juga menggosip. Mereka merasa saya sok tahu dan beranggapan bahwa tanpa les pada guru, si anak tidak akan dapat nilai bagus.
Saya yakin dan kedua anak tersebut malah bisa masuk sepuluh besar, enam besar bahkan tiga besar. Hanya belajar dari saya tanpa bimbingan belajar ini dan itu.
Ketika anak-anak saya tarik dari TPA karena saya ingin fokus mereka belajar pada saya, gurunya merasa aneh. Mungkin dikira saya tidak mungkin bisa mengajar.
Bahkan ketika Bungsu diterima di SD pada usia 5 tahun tiga bulan, banyak yang bertanya. Berapa besar saya menyogok agar Bungsu bisa diterima? Padahal tidak sepersen pun uang saya ke luar untuk itu. Bungsu mengikuti tes seperti anak yang lain. Kepala sekolah TK nya yang mendaftarkan. Karena dari TK A, Bungsu sudah menguasai pelajaran di TK B. Hingga lompatlah ia dari TK A ke SD.

Ketika suami resign dari kantor, dan jadi freelancer di rumah, standar orang yang punya suami pegawai merasa heran. Kok bisa ada orang punya penghasilan dari rumah.
Dan ujungnya baru saja terjadi. Ketika sehari setelah lebaran kami merenovasi rumah, beberapa orang bertanya pada saya. Kok uang saya masih ada sehabis lebaran? Bahkan pemulung yang saya panggil, juga bertanya hal yang sama.

Standar saya dan orang lain berbeda. Itu yang saya sadari dari awal. Saya cukup fokus dengan standar saya dan tersenyum saja pada orang yang tidak mengerti.
Toh bulan dan bintang sama-sama muncul di malam hari tapi punya sinarnya masing-masing. Tetap indah, tetap berdampingan tanpa perlu memaksa yang satu untuk jadi yang lain.

Pilih Apa yang Ingin Kita Dengar dan Kita Baca

“Jadi saya tadi diomongin,” begitu satu tetangga mengadu. “Kenapa meski pilih sekolah swasta buat anak? Paling-paling anaknya ya jadinya sama. Tergantung takdir. Mama Bilqis sih tadi enggak ada.”

Obrolan ibu-ibu rumah tangga yang berkutat dengan dapur, sumur, kasur seringnya memang mematahkan semangat ibu yang lain. Meski kemarin mereka nongkrong dan hati-hati bicara soal sekolah. Hi hi maklum mereka tahu saya tipikal Ibu yang seperti apa dan standar saya.
Okelah.
Banyak orang banyak pikiran. Seperti jalan yang banyak cabangnya. Kalau biasa naik kendaraan pasti tahu fokus saja pada jalan yang dituju. Kebayakan lihat spion bisa stress. Kebanyakan lihat kendaraan di kiri kanan kita bisa stress. Fokus pada kendaraan kita. Mau ke kanan tinggal kasih lampu ke kanan, ke kiri juga begitu. Dan itu lebih nyaman buat pikiran kita juga membuat kita lebih cepat sampai ke tujuan.

Okelah jalan yang kita pilih sebenarnya tidak mulus. Kita akan terus bertemu dengan orang yang tidak paham. Karena kalau hanya bertemu dengan orang yang paham, maka mudahlah sebuah cita-cita diraih, dan kita tidak bisa menikmati benturan.

Untuk yang biasa hidup di dunia maya, sortir apa yang ingin kita baca. Sebab mengamati setiap status selain cuma buang waktu, juga akan membuat kita lupa.
Fokus pada standar diri sendiri saja.
Orang lain tidak paham tidak masalah. Kalau untuk saya, sepanjang Allah paham, suami dan anak-anak mengerti, maka itu artinya the show must go on.

2 thoughts on “Standar Kita Bukan Standar Orang Lain

Comments are closed.