Yang Lebih Kuat dari Sinyal HP

Zaman yang semakin canggih sebenarnya membuat kita tak lagi canggih mengolah rasa. Banyak persoalan datang justru karena kecanggihan yang menutupi rasa.
Kalau zaman sekolah dulu, saya hanya perlu memikirkan satu orang teman yang ingin saya temui. Saya pikirkan. Dan ternyata gayung bersambut. Teman itu kebetulan memikirkan saya. Dan kami dipertemukan di satu tempat, dalam keadaan sama-sama tidak punya rencana khusus ke tempat itu.
Perasaan yang kuat membuat kami saling terikat dan mengikat.
Proses seperti itu sekarang sudah berganti dengan kemudahan dari telepon genggam. Perasaan masih ada. Tapi mengikis karena kita tidak menggunakannya. Sama seperti pisau yang akan tumpul jika tidak dipakai. Sama seperti pikiran yang justru tidak bisa berpikir ketika tidak pernah digunakan.

Anak-anak di rumah punya telepon genggam. Saya dan suami juga punya telepon genggam. Tapi buat saya telepon genggam bukan selamanya alat untuk membuat segalanya menjadi beres. Ada satu hal yang paling penting, sinyal bernama feeling yang harus diasah lebih tajam lagi.
Suami istri yang saling mencinta, akan punya feeling kuat. Sehingga tanpa telepon genggam pun jika ada satu kejadian di tempat berbeda, mereka bisa saling merasakan. Karena keterikatan rasa itu.
Misalnya, ketika saya ingin makan martabak, tapi tukang martabak yang saya ingin beli jauh jadi tidak mungkin saya ke sana.
Pulang dari suatu tempat pada malam harinya, suami membawa tentengan. “Enggak tahu kenapa, kok tadi pingin lewat sana dan beli martabak,” begitu katanya.
Martabak yang saya ingin, saya dapat tanpa perlu buang pulsa.

Pernah Bungsu ingin sekali es krim. HP saya tidak ada pulsanya. Jadi saya cuma bilang padanya. “Kamu merem aja. Lalu bilang berkali-kali, Ayah, aku mau es krim.”
Bungsu melakukannya. Hasilnya si Ayah pulang dengan membawa es krim. Bukan sekedar es krim tapi es krim itu adalah es krim dengan rasa yang diinginkan Bungsu.

Ada yang lebih kuat dari sinyal HP.
Kita semua memiliki sinyal itu. Hanya kurang mengasahnya. Kesibukan yang terbawa sampai ke rumah, membuat yang dekat menjadi menjauh. Masing-masing berkumpul tapi dengan hati yang terpisah. Itu yang membuat sinyal yang merupakan anugerah dari Yang Kuasa melemah dan akhirnya mati.
Istri tidak percaya lagi pada suami. Anak tidak percaya lagi pada orangtua. Masing-masing percaya pada teori yang mereka temukan dalam genggaman tangan mereka dengan kekuatan sinyal berdasarkan banyaknya pulsa yang terisi.
Kalau di rumah, saya memberi batasan kapan HP harus dimatikan. Dan pada saat anak-anak akan tidur, biasanya saya akan berpindah dari satu kamar anak ke kamar yang lain. Untuk sekedar berbagi cerita plus memasukkan motivasi ke mereka.

Zaman memang semakin canggih. Telepon genggam ada di mana-mana mudah didapatkan. Buat saya, kehilangan sinyal HP tidak masalah, asal jangan sampai kehilangan sinyal rasa. Sinyal rasa itu yang membuat saya paham apa yang pasangan dan anak-anak inginkan. Begitu juga sebaliknya.
Teman di sosial media bisa jadi sahabat bukan karena sinyal HP kita kuat atau modem pulsa kita penuh. Tapi karena sinyal perasaan kita bisa membedakan mana yang benar-benar bisa dijadikan sahabat dan klik untuk kita.

Semua punya sinyal di hati. Bisa diasah dan bisa dikurangi. Bisa dinaikkan tingkatnya, bisa juga dihabisi sama sekali. Caranya seperti apa?

1. Sesekali jangan bawa telepon genggam ketika berkumpul bersama keluarga. Nikmati waktu seutuhnya, seolah esok tidak ada lagi waktu untuk kita.
2. Jangan sering-sering buka HP juga di tempat umum. Tempat umum kenalan baru merupakan sarana efektif untuk mengasah perasaan kita. Kita jadi mudah tergerak untuk membantu orang lain. Dan mudah membantu itu yang akan membuat sinyal di hati kita mudah terasah dengan baik.
3. Bicara, bicara dan bicara. Suami harus bicara dengan istrinya langsung. Bukan lewat pesan dalam telepon genggam atau lewat emoticon. Tapi langsung. Sehingga pasangan mengerti gerak bibir, gerak tubuh, juga mimik muka ketika pasangannya bicara.
Dengan tetangga juga seperti itu. Dengan orang baru yang kita kenal juga seperti itu.
4. Pakai hati ketika bicara bukan emosi. Ketika menggunakan hati maka telinga kita akan terbuka lebar untuk mendengarkan.
5. Cintai orang di sekeliling kita sepenuh hati sehingga mereka melakukan hal yang sama pada kita. Dan cinta ini yang akan membuat sinyal di hati kita menjadi menyala.

Jika sinyal perasaan kita sudah kuat, percayalah. Akan ada masanya kita terkejut mendapati hal-hal yang hanya kita pikirkan saja menjadi kenyataan.