Sekeranjang Telur Busuk

sekeranjang telur busuk

“Wah…, kamu membawa satu telur busuk lagi…”
Aline cepat menghentikan kalimat yang ke luar dari mulutnya. Bunda itu selalu begitu. Setiap kali Aline bicara pasti kalimat yang keluar dari mulut Bunda seperti itu.
“Coba hitung…, ada berapa telur busuk yang sudah kamu kumpulkan hari ini?”
Tas yang Aline bawa Aline letakkan di atas kursi ruang tamu. Padahal tadi Alien cuma bilang capek.Panas kalau sekolah jalan kaki. Aline maunya Bunda menjemput sama seperti teman lainnya.
“Bunda hitung dulu, ya..” Bunda mengambil kertas gambar yang ditempelkan di dinding kulkas.
Ada gambar bulatan seperti telur di kertas itu. Gambar telur itu kesepakatan Aline, Bunda dan Koko. Setiap keluhan akan mendapat hadiah gambar telur busuk. Kalau kata-kata yang baik akan mendapat bintang.
“Bunda,” Aline melotot. “Aku bilang capek betulan..,” Aline melangkah mendekati kulkas.
Bunda tersenyum saja. Sebentar lagi pasti…
“Kok tidak ada sirup sih, Bunda? Habis? Kenapa tidak beli kan kemarin aku bilang kalau musim panas begini harus ada sirup?”
Tuh kan, Aline mulai mengeluh lagi. Kebiasaan mengeluh Aline yang tidak pernah bisa hilang itu yang akhirnya membuat Bunda mengambil keputusan untuk menggambar telur busuk.
“Bunda tahu, tadi ada ulangan di sekolah. Semalam sih Bunda tidak mengajari aku? Bunda malah sibuk baca majalah.”
“Ko..,” Bunda justru memanggil Koko, kakak Aline.
Koko berlari mendekat Bunda.
“Besok-besok kalau sudah banyak telur busuk di rumah, kamu buang ke tempat sampah, ya?”
“Sip, Bunda.” ujar Koko sambil meleletkan lidahnya pada Aline.
**
Bagaimana mungkin soal telur busuk itu Linda bilang bagus? Linda bilang itu artinya Bunda sayang sama Aline.
Aline cemberut. Linda teman sekelasnya itu tidak tahu, kalau telur busuk yang Bunda bilang membuat Aline sebal. Apalagi hari ini sepulang sekolah, Koko menunjukkan satu buku cerita baru pada Aline.
Buku itu dipamerkan pada Aline dengan lidah yang keluar untuk meledek Aline. Bunda memang berjanji akan memberikan hadiah buku cerita kalau ada sepuluh bintang yang bisa dikumpulkan Koko dan Aline. Setiap Aline atau Koko berbuat baik atau berkata sopan dan tidak mengeluh, Bunda akan menggambar bintang untuk disimpan.
“Kalau mau masuk ke rumah, kamu bilang sama tempat sampah aku capek. Itu artinya keluahan kamu sudah dibuang ke tempat sampah. Bunda pernah bilang begitu smaa aku,” kata Koko mengajari.
Aline juga sudah pernah mencoba. Tapi Aline tidak suka.
“Bunda juga capek di rumah ngurus kita,” kata Koko sambil menunjukkan buku cerita barunya. Buku itu disodorkan pada Aline lalu ketika Aline akan mengambilnya, Koko langsung menariknya.
“Kalau kamu suah tidak mengeluh lagi, aku kasih pinjam..,” kali ini Koko langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
**
“Boleh mengeluh asal tidak setiap saat. Karena hidup kamu jauh lebih beruntung.” Aline masih ingat apa yang Bunda katakan itu.
Sekarang Aline ada di depan rumah Linda. Rumah kecil yang atapnya pendek seperti mau roboh. Di depan Aline ada emaknya Linda yang sedang membawa keranjang dan kedua matanya buta.
Aline kaget tentu saja. Linda selama ini tidak pernah bercerita. Linda juga tidak pernah mengeluh.
“Ayo masuk, aku mau bantu Emak buat kue untuk dijual,” ujar Linda sambil tersenyum.
Aline masuk ke dalam rumah berlantai tanah itu. Selama ia bermain, ia hanya melihat senyum Linda dan emaknya. Mereka tidak pernah bilang capek atau bosan seperti yang sering Alin katakan setiap saat.
**
“Wah…, kue buatan Bunda enak sekali.”
Kalimat Aline itu kali ini membuat Bunda dan Koko langsung menolehkan kepalanya pada Aline.
Aline jadi tersipu.
“Baju yang kakak pakai juga bagus,” ujar Aline. “Bajuku juga. Terima kasih, Bunda,” ujar Aline pada Bunda.
Bunda mengangguk sambil tersenyum. Selembar kertas sekarang Bunda ambil, lalu Bunda juga mengambil pensil. Bunda mencoret kertas itu dan….
“Aku dapat bintang, Bunda?” tanya Alline kegirangan.
Bunda mengangguk.
**

2 thoughts on “Sekeranjang Telur Busuk

Comments are closed.