Sabtu yang Sendu Bersama Bapak

sabtu bersama bapak

Ada sebuah fasilitas yang dipergunakan dengan baik oleh seorang Bapak pada Sabtu Bersama Bapak. Si Bapak keren yang diperankan sempurna oleh Abimana membuat saya dapat mencerna kata demi kata, untuk kemudian membuat saya mencolek si Sulung yang duduk tidak jauh dari tempat saya.
“Dengarkan pesan Bapak, bisik saya.
Sulung mengangguk, cengengesan, ketahuan mengusap matanya karena ada episode yang membuat para penonton mengeluarkan air mata.

Abimana menjadi Bapak yang keren, itu versi saya. Karena sejak dulu saya suka dengan akting si Robertino yang sekarang sudah berganti nama menjadi Abimana.
Tidak banyak Bapak yang akan meninggal karena kanker menyiapkan pesan berupa rekaman kaset, panduan untuk dua anak bujangnya menghadapi hidup yang keras.
Ibu yang diperankan oleh Ira Wibowo, biasa dipanggil Neng oleh si Bapak, menjadi penjaga anak-anak sampai dua anak bernama Satya dan Cakra menemukan pendamping hidup sesuai janjinya dengan si suami alias Bapak.

Alkisah dua anak bujang kecil ditinggal pergi selamanya oleh si Bapak. Tapi si Bapak sebelum meninggal, selalu merekam pesannya. Pesan itu akan disetelkan oleh si Ibu, pada setiap hari Sabtu. Jadi anak-anak tetap bersekolah pada hari biasa, dan hari Sabtu, mereka bersama Bapak, menonton video pesan si Bapak, yang berisi pesan-pesan kehidupan.

Bapak yang Sempurna

Rencana, rencana, rencana.
Itu pesan si Bapak pada anak-anaknya, untuk membuat rencana masa depannya.
Jangan memilih seseorang untuk dinikahi karena untuk menjadi kuat. Tapi harus menjadi kuat karena keinginan diri sendiri bukan karena orang lain.
Prestasi tidak datang sebagai hadiah, tapi prestasi adalah hasil perjuangan dan kerja keras. Nasehat itu juga yang Bapak berikan pada anak-anaknya.

Bapaknya sempurna. Seperti Bapak yang saya punya di kehidupan nyata.
Dan saya tahu, akhirnya dengan Bapak yang sempurna seperti itu, konflik akan hadir dalam pernikahan ketika pasangan berada pada posisi yang berbeda, dan di push untuk terus mengikuti pesan si Bapak.
Maka ketika Satya si anak pertama menikah dengan Risa yang diperankan oleh Acha Septriasa, dan mereka tinggal di Paris, maka muncullah konflik itu.
Si istri capek dengan pesan-pesan dari Bapak yang membuat suaminya jadi harus seperti seorang tanpa cacat alias sempurna.

Ada Bapak yang sempurna, ada Ibu yang mengikutinya.
Si Ibu yang dulu suka masak diminta Bapak untuk buka restoran karena masakannya enak. Lalu di masa tuanya terkena kanker.
Pesan suami diingat terus. Jangan pernah menyusahkan anak-anak.
Padahal kanker di payudara kiri dan kanan diangkat dan si pembantu meminta Ibu untuk memberitahu anak-anaknya. Tapi Ibu menolak untuk memberitahu dan menjalani kemo juga operasi sendiri saja.
Satu anak di Paris, satu anak di Jakarta. Yang di Jakarta dilarang ke Bandung dengan alasan ibu sibuk reuni dan sibuk sana sini dengan teman-temannya.
Agak janggal di sini, karena feeling si anak kenapa tidak bisa merasakan hal itu?
Adegan itu membuat saya teringat Bapak saya. Sakit ditanggung agar anak-anaknya tidak ada yang tahu. Bahkan di masa hidupnya, setelah sebulan di rumah sakit bolak-balik koma, yang ditanya hanyalah. “Biaya Bapak di rumah sakit ini, siapa yang menanggung dan berapa jumlahnya?”

Ada yang saya syukuri dari menonton film Sabtu Bersama Bapak ini.
Saya belum membaca bukunya.
Karena beberapa kali saya membaca novel lalu menonton filmnya, saya kecewa karena membandingkan imajinasi di buku dan di layar film.
Okelah, untuk saya ini film dengan pesan yang bagus. Beruntung saya mengajak suami, adik juga mengajak suaminya.
Anak dan beberapa ponakan ikut. Padahal film ini untuk usia tigabelas tahun ke atas. Ada dua adegan ciuman bibir Acha dan suaminya. Dan adegan pelukan. Jadi sebaiknya jangan ajak anak-anak di bawah umur menontonnya.

Ke luar dari bioskop yang ada di pikiran cuma satu.
Saya semakin bangga dengan Bapak saya.
Karena meski beliau tidak membuat video tentang pesannya, tapi semua pesan dari beliau melekat di benak anak-anaknya. Dan sungguh saya jadi kangen Bapak tercinta.