Ribet Dengan Isi Kepala Orang Lain

Ribet, saya sering mengatakan itu pada anak-anak.
Ketika mereka ingin melakukan sesuatu, mereka takut dengan anggapan orang lain.
Ketika mereka saya ajarkan berdiri di depan panggung, mereka takut kalau-kalau orang lain meremehkan mereka.

Ribet dengan pikiran orang lain bukan hanya menimpa anak-anak. Orang dewasa juga banyak yang pusing dengan isi kepala orang lain. Orang dewasa itu merasa kalau ia melakukan sesuatu, maka orang lain jadi punya anggapan yang aneh untuk diri mereka. Dan akhirnya gagal melangkahlah orang yang seperti ini.

Ada orang dewasa yang tidak berani mengambil keputusan, karena sejak kecil tidak dibiasakan untuk melakukan hal itu.
Ada juga orang dewasa yang ketika kecil malah terlalu dilindungi ditakut-takuti, sehingga ketika melangkah banyak ketakutan di benaknya. Takut salah, takut menyakiti orang lain, takut orang lain jadi marah dan sebagainya.

Ribet dengan isi kepala orang bukan hal yang menyenangkan.
Kita pusing dengan apa yang orang lain pikirkan. Di zaman media sosial seperti sekarang ini, kadar keribetan bisa bertambah.
Ketika membuat status yang kita rasa benar, kita takut orang lain merasa sakit hati.
Ketika melihat orang lain salah, kita jadi takut membenarkan karena kita takut dianggap sok tahu dan lain sebagainya.

Lalu apa yang harus kita lakukan, agar kita bisa terus melangkah, tanpa ribet dengan isi kepala orang lain?

1. Intropeksi
Hal pertama yang harus kita lakukan memang intropeksi. Jika kita selalu pusing dan takut melangkah karena takut dengan omongan orang lain, maka coba tarik ke belakang, ke masa lalu. Apa yang membuat kita menjadi seperti sekarang ini?

2. Minta dukungan
Untuk sesuatu yang sudah lama mengendap dan jadi karakter, akan sulit diubah, kecuali kita memang berjuang untuk itu. Atau ada peristiwa tertentu yang akhirnya membuat kita sadar dan kita berubah.
Kalau kita tidak memiliki dua hal tersebut, maka carilah yang lain. Yaitu, carilah orang yang bisa membantu kita untuk berubah. Mencari orang yang mendukung dan menyadarkan kita, sehingga lambat laun, tidak cepat tentu saja, kita bisa berubah.

3. Orang Berhak dengan pikirannya. Itu artinya sama seperti kita. Ketika melihat seseorang yang melakukan tindakan yang kita sendiri tidak biasa melakukannya, maka kita akan punya pikiran yang berbeda dengannya.
Maka jika kita ada di posisi yang sama, tentu saja hal seperti itu sah terjadi. Kita melakukan sesuatu, dan orang lain punya pikiran yang berbeda dengan kita.
Biarkan saja dan terus melangkah.
Jangan-jangan kita terlalu paranoid saja dengan isi kepala orang lain, seolah-olah orang itu sedang memerhatikan kita. Padahal tidak sama sekali.

4. Fokus pada tujuan
Akan membuat langkah kita seberat apapun akan menjadi mudah. Karena kita tahu akhir yang akan kita tuju, yang orang lain tidak paham.