Berkorban dan Bahagia

IMG-20160617-WA0062

Siapa yang suka berkorban? Berkorban perasaan? Berkorban harta benda? Sampai mengorbankan hal-hal yang sifatnya prinsip?
Pengorbanan yang paling sering dan nyata dilakukan oleh orangtua untuk anak-anak mereka. Seperti lagu Iwan Fals tentang Ibu. Ribuan kilo juga akan dihadapi seorang ibu untuk membahagiakan anak-anaknya.
Timbal balik bisa didapatkan dari pengorbanan. Tentu saja jika orang yang mendapatkan pengorbanan itu, sadar bahwa ada orang lain yang sudah berkorban untuknya.

Dua bersaudara penulis buku Ring of Fire, Lawrence Blair dan Lorne Blair melakukan pengorbanan harta dan nyawa. Mereka mengelilingi Indonesia untuk membuat film dokumentar yang akurat tentang Indonesia. Film dokumenter dan buku perjalanan yang bagus itu, akan membuat setiap orang yang membacanya mendapat pengalaman seperti Blair bersaudara mengalaminya.
Blair bersaudara ini menjelajahi tanah Jawa, Sumatera hingga ujung Papua. Blair bersaudara mengenal bagaimana caranya mendekati Komodo yang beberapa kali memangsa manusia . Bahkan Blair bersaudara mampu menjalin komunikasi dengan ketua suka di pedalaman Papua. Di sana mereka paham bahwa banyak dari suku-suku itu yang sebenarnya berat mengikuti aturan pemerintah yang melarang mereka menjadi kanibal. Mereka bahkan rinci menjelaskan, perbedaan daging manusia suku bangsa yang satu dan bangsa yang lain.

Blair bersadara untuk saya telah melakukan pengorbanan. Tidak semua orang mau bersusah payah seperti mereka untuk membuat film dan buku dengan riset yang super lengkap. Tidak semua orang bisa menjalani masa-masa seperti mereka terombang-ambing di lautan, dan menghadapi perompak di karang-karang tersembunyi.
Pengorbanan mereka membahagiakan pembaca dan penonton film. Dan saya yakin, mereka layak disebut sukses.

Salah Berkorban

Berkorban memang tidak dimiliki oleh setiap orang. Tapi ada satu titik tertentu, banyak dari kita harus intropeksi. Sudah benarkah bentuk pengorbanan kita? Sudah pada jalur yang tidak melanggar normakah pengorbanan kita?
Di suatu tempat, saya menyaksikan teman yang salah melakukan pengorbanan. Pengorbanan yang dilakukan memang menyenangkan keluarga besarnya, tapi justru menghancurkan hidupnya.
Mencari harta benda sebanyak-banyaknya dan berpindah dari satu lelaki ke lelaki lain. Bahagianya semu. Ia bahkan pergi dari desa kecil ke desa yang lain, untuk mencari gadis-gadis muda yang ingin kerja di kota. Ujungnya hanya diserahkan pada lelaki hidung belang.
Pengorbanan memanjakan keluarga besarnya itu, akhirnya berujung kehancuran tubuhnya sendiri. Cerita terakhir yang saya dengar, ia tutup usia dengan sakit yang tidak bisa diobati karena kekurangan biaya.

Di tempat lain, teman-teman saya berjuang keras. Mengorbankan waktunya dan hartanya untuk memintarkan banyak generasi bangsa. Mereka berjuang keras membuka perpustakaan, demi untuk membangun kecintaan membaca. Membuka perpustakaan di desa-desa kecil bukan hal yang mudah. Jika di kota saingan perpustakaan adalah gadget yang ada di genggaman anak-anak kecil yang bahkan belum kenal sekolah, di desa saingan itu adalah mimpi besar untuk menjadi artis.
Entah itu jadi penyanyi dangdut atau jadi artis sinetron. Tapi mimpi seperti itu yang tumbuh menjamur. Mereka butuh uang dalam tempo cepat. Dan perpustakaan tidak bisa mewujudkan bukti itu dalam tempo yang cepat.
Saya bersyukur teman-teman saling bahu-membahu berbagi semangat dan membagi buku bacaan. Pengorbanan mereka untuk saya adalah lilin kecil, yang mungkin saja bisa padam cepat. Tapi setiap orang yang pernah merasakan cahayanya, bisa jadi suatu saat bermimpi jadi lilin juga dan menerangi dengan cara yang sama.

Dari Hal Terkecil

Berkorban untuk orang terdekat itu biasa. Ada ikatan darah, ikatan batin yang membuat kita mampu berkorban bahkan hingga tetes darah terakhir. Tapi berkorban untuk orang lain di luar jangkauan kita, atau orang yang baru kita kenal adalah hal yang luar biasa.
Memulainya tentu tidak mudah. Tapi mulailah dari hal terkecil. Hal-hal yang diabaikan oleh orang lain, justru yang kita lakukan.
Menyebrangkan orang yang sudah tua di saat ia bingung menyeberang jalan yang ramai, termasuk hal kecil. Tapi tidak semua orang bisa melakukannya.
Menulis kata-kata baik di sosial media, di saat orang lain bicara saling menghujat, merupakan hal kecil tapi meneduhkan siapa yang membacanya.
Tersenyum pada orang yang membenci kita, bukan hal besar. Tapi tidak semua orang besar mampu untuk melakukannya.
Kita bisa memulainya di hari ini.
Perbuatan kecil kita, entah suatu saat kelak akan menjadi besar. Dan itu bentuk pengorbanan yang paling indah, yang bisa jadi kenangan manis hidup kita kelak.
Mari mencoba.