Sri dan Raksasa

Photo-motivasi.jpg

Sri merangkul erat. Rangkulan erat yang disertai dengan air mata yang dipaksakan untuk tidak turun, tapi justru membuat kerongkongannya tercekat.
“Sebutkan siapa namanya?” tanyanya pada Kiki. Tubuh anak itu bergetar ketika ia masuk rumah tadi. Bajunya terlepas dari badan, dan Kiki menangis di sudut kamar dengan celana dalam yang sudah mencapai kaki.
Sri menangis perlahan.
Kiki memandang pada Sri. Mencari-cari apa yang Sri sembunyikan. “Nama teman-temanku, Ibu?” tanya gadis kecil yang rambutnya dikucir dua. “Ada Raisha, Kikan terus.., kenapa namaku sendiri yang tidak bagus Ibu?”
Sri menarik napas panjang, embusan setelah tarikan itu berat dan dipenuhi beban.
Baju dan celana Kiki sudah Sri betulkan. Gadisnya yang baru menginjak kelas empat SD itu terus mendekat padanya.
“Ibu akan bercerita soal raksasa jahat. Kamu pernah melihatnya?” tanya Sri hati-hati. Ia harus tahu siapa orangnya. Ia yakin ada seseorang yang baru melakukan perbuatan senonoh pada Kiki ketika rumah sepi dan Sri sedang mengantarkan kue pesanan.
Kiki menggeleng.
“Raksasa itu suka memakan anak gadis kecil yang ada di rumah sendirian seperti kamu…”
Kiki menggeleng lagi.
“Raksasa itu juga…”
Kali ini Kiki mendekatkan tubuhnya ke samping ibunya. Merapat. “Tapi temanku tidak ada yang raksasa, Ibu. Temanku kecil-kecil. Temanku baik-baik. Temanku…”
Sore itu angin bertiup cukup kencang.
Teras rumah mereka kecil. Tapi pohon jambu air yang berada di halaman cukup besar. Eembusan angin mampu meruntuhkan daun-daun yang menguning dan setengah menguning.
Beberapa daun kecoklatan bertumpuk mongering, menunggu luruh ranting yang sudah patah dari dahan.
“Ibu pernah punya teman jahat?”
Sri menggeleng. “Teman Ibu baik-baik. Bahkan kalau mereka main ke rumah, mereka juga sama baiknya dengan Ibu. Kemarin waktu Ibu tinggal di rumah, ada temanmu yang main ke rumah?”
Kiki memandangi Ibunya.
“Ada yang jahat terus..”
“Ibu..,” Kiki merapatkan tubuhnya. Lalu menangis.
Tak tega Sri meneruskan pertanyaan.
**
Ini pasti akan menjadi sebuah pengakuan yang menyakitkan. Lalu yang menyakitkan itu akan menjadi sesuatu yang memancing api. Api pertengkaran. Setelah pertengkaran itu akan ada luka lagi di hati Kiki. Lalu anak itu akan merasakan dunianya tidak nyaman.
Teh yang Sri buat mungkin tidak dari hati. Ia bahkan harus mengingat sudah berapa kali ia masukkan gula ke dalam cangkir teh itu.
Malam itu, Kiki sudah masuk kamar. Tertidur setelah Sri mendongeng tentang malaikat kebaikan yang akan terus menjaganya. Lampu kamar tidak ia matikan. Seusai keinginan Kiki. Anak kelas empat SD itu takut kalau-kalau ada raksasa hitam yang akan datang nanti.
“Wajahmu muram. Ada masalah?”
Sri mencoba menyunggingkan senyumnya. Sore ini mungkin wajahnya seperti mendung yang mulai datang.
“Kue-kue basahmu ada yang memesan…”
Kue kuenya banyak yang memesan belakangan ini. Dari risol hingga onde-onde. Dari satu warung ke warung yang lain. Satu gerobak ke gerobak lainnya. Setiap hari ia berkutat mulai jam dua malam. Matanya mengantuk di pagi hari, ketika mengantar Kun suaminya berangkat kerja.
“Ada pesanan seribu kue basah..”
“Seribu kue basah..,” Sri mendesah. Seribu kue basah itu artinya ia makin lama berkutat di dapur. Semakin tidak memperhatikan Kiki. Semakin…
“Sudah kuterima DP-nya. Bulan ini cicilan motor kita yang terakhir, kan? Nanti uangnya aku pakai untuk membayar cicilan motor,” Kun berdiri dari duduknya.
Sri memandangi punggung suaminya.
Dari satu ke basah ke kue basah yang lain. Mengantar sebelum subuh. Lalu tertidur di siang hari. Bahkan tak sempat disapanya Kiki. Juga tak sempat dijaganya.
Sri tak ingin bekerja ke luar rumah. Ia ingin menjaga Kiki. Dulu Ibu sibuk di luar rumah. Anak-anaknya terlantar. Ibu letih ketika pulang. Bertengkar ketika bertemu dengan Bapak. Dan anak-anak berada dalam rumah tangga seperti neraka.
Begitu menikah, ia kembangkan keahliannya memasak. Membuat kue. Sejak dulu kue buatannya selalu mendapat pujian. Pesanan semakin bertambah banyak.
“Kalau butuh orang lagi…” Dari arah dapur Kun bicara. “Nanti aku minta Emak mencarikan di kampung.”
Sri memilih tak menyahut.
Kun tak akan mengerti.
Ini bukan lagi masalah kue.
**
“Ibu…”
Pagi itu gerimis ketika Sri mengantar Kiki sampai di depan pintu gerbang sekolahnya.
“Ibu akan tunggu aku di sini?”
Sri memandangi. Mata gadis kecilnya berair. “Raksasa itu tidak ada di sini, kan?”
Kiki menggeleng.
“Semalam raksasa itu tidak datang dalam tidur kamu. Pasti dia tidak akan berani datang kalau ada Ibu.”
“Kemarin dulu Ibu tidur lalu…”
Gerimis semakin keras.
Sri menyesali peristiwa beberapa hari yang lalu. Kemarin dulu itu. Ketika matanya begitu mengantuknya. Lalu meninggalkan Kiki di teras. Sampai tak mendengar ada tamu yang datang. Sampai ia menyaksikan Kiki di sudut kamar menangis dengan baju yang berantakan.
Siapa yang telah tega menodai buah hatinya? Anak semata wayangnya.
Kemarin itu ia mencari tahu. Mulut Kiki terkunci. Tak berani ia bertanya pada tetangga. Cerita itu hanya akan membuat cerita Kiki akan menyebar dan teringat di kepala orang-orang yang mendengarnya dan menjadi luka dalam untuk Kiki hingga dewasa kelak.
“Ibu mengantuk?”
Sri menggeleng.
“Ibu mau menunggu aku? Di musholla itu…” Kiki menunjuk musholla di sudut sekolahnya.
Sri mengangguk.
**
Sejak semalam tidur Kiki resah. Sejak semalam badannya panas. Sejak semalam…. Sri menyusut air matanya yang mulai turun.
Kun pergi dua hari. Tugas ke luar kota. Urusan rumah tangga harus menjadi urusan Sri. Kun hanya bertugas mencari nafkah. Harusnya dengan begitu tak perlu Kun bersusah payah menyuruhnya memiliki target ke depan, untuk meningkatkan penghasilan dari kue-kue basahnya.
“Ibu tahu tidak?” Pagi tadi seorang penjual nasi uduk bercerita. Ketika Sri menaruh pesanannya. “Ada anak yang gantung diri.”
Sri melihat ke arah di mana rumah itu ditunjuk.
“Anak kecil. Masih SD. Kemarin itu waktu ibunya pergi ke warung diperkosa sama tukang air.”
Hening.
“Anak sekarang badannya besar-besar. Bajunya suka sembarangan…”
“Sudah lapor ke polisi?”
“Sudah. Katanya udah lima kali dia begitu. Nanti katanya polisi mau cari siapa saja anak yang sudah diperkosa sama dia.”
Pagi itu udara cerah. Tapi rasanya dingin sekali untuk Sri.
**
“Badannya begini panas, dia makan apa?”
Kun memarahinya. Sri tidak mengirimkan kabar. Takut mengganggu. Tapi tubuh Kiki bertambah panas ketika Kun datang. Lalu Kun mulai berceloteh panjang menganggapnya tidak bisa menjadi Ibu yang baik. Kenapa Kiki tak cepat dibawa ke dokter? Kenapa begini dan kenapa begitu?
Sri memutuskan untuk tak banyak bicara.
Sekarang ia ada di ruangan dokter. Dokter itu memandangnya tajam.
“Parahkah, Dok?”
Dokter itu menggeleng. “Ibu..,” mata tuanya memandangi Sri.
Beliau dokter tua yang senang Sri datangi karena akan menasehati lebih dulu sebelum memutuskan memberi obat. Obat dengan harga yang terjangkau untuk kantung orang biasa seperti Sri.
“Kiki ketakutan ketika diperiksa. Ketika diminta untuk membuka baju..”
Bayangan Kiki yang menangis di sudut kamar. Berteriak ketika Sri mendekat. Lalu baju yang sobek dan celana dalam yang sudah terlempar entah ke mana.
“Sesuatu terjadi pada Kiki, kah?”
Sri menangis. “Tolong anak saya, Dok,” desis Sri tak sanggup untuk membayangkan.
Di luar, Kun sudah menunggu. Matanya tajam menatap Sri.
“Tidak apa-apa,” ujar Sri menenangkan ketika ke luar dari ruangan dokter. “Hanya sakit panas biasa..,” lanjutnya dengan wajah yang menunduk dalam.
**
Ia menggambar. Menggambar seorang laki-laki seperti gambaran para Ibu tentang laki-laki yang ditangkap polisi.
Menunjukkan pada Kiki.
Anak itu menggeleng.
“Raksasa ada yang berbadan kecil,” ujar Sri. Memeluk Kiki. “Raksasa kecil ini bisa berbahaya. Tapi Ibu akan menangkapnya. Terus Ibu gantung ke pohon yang paling tinggi. Terbangkan bersama angin. Dan tidak akan pernah membuatnya kembali lagi.”
Kiki memandanginya. “Ibu bisa?”
“Pasti bisa. Kiki mau Ibu lakukan apa untuk raksasa kecil ini?”
Mata bulat Kiki berkedip.
Tubuhnya masih saja panas. Ada luka di alat kelaminnya, begitu kata dokter setelah ia menceritakan semuanya.
Tangisnya tumpah di bahu dokter. Lalu dokter itu membisikkan tentang banyak hal. Termasuk akan membantunya menjaga rahasia ini dari Kun, bila memang Sri menginginkannya.
“Ibu, raksasa itu bukan raksasa kecil. Raksasa itu rumahnya dekat rumah kita.”
Kening Sri berkerut.
“Waktu Ibu tidur, Om Tio mau pinjam gunting terus Kiki lagi ganti baju…”
Sri memeluk tubuh Kiki erat.
Raksasa itu ada di dekatnya.
Tangisnya tumpah tak tertahan.
**
Ini mungkin akan jadi cerita yang menyedihkan yang akan Kiki ingat sepanjang masa.
Mata Kun memandang Sri. Nyaris tak berkedip.
Pisau itu ada di tangan Sri.
“Mau ke mana?”
“Membersihkan daun-daun,” dusta Sri.
Kun tak pernah tahu cerita yang sesungguhnya. Bahwa dua bulan yang lalu lelaki itu pun datang ke rumah dan menidurinya ketika Sri sedang tertidur lelap, hingga Sri menangisi kebodohannya sebagai perempuan.
Kalau bukan karena Kiki yang mengalami kejadian selanjutnya itu, mungkin ia tak akan kalap membawa pisau. Laki-laki itu sedang asyik membersihkan got.
Dan kehebohan setelah itu terjadi. Pisau yang berlumuran darah.
“Ibu..,” Kiki ke luar kamar. Memeluknya kuat-kuat. Para tetangga mengelilinginya.
“Raksasanya sudah Ibu buang ke awan,” ujar Sri pada Kiki sambil tersenyum.