Satu Loyang Bolu Karamel

bolu karamel

Setiap kali gula itu meleleh menjadi karamel. Brus akan bertepuk tangan. Lalu bergegas membantu Aime untuk menuangkan air hangat, agar gula yang dibuat menjadi karamel itu tidak menggumpal.
Setelah itu kehidupan akan berlanjut. Ada telur yang harus dipecahkan. Satu sachet vanili yang harus dituang, juga mentega yang harus dicairkan.
Brus akan menikmati kopinya, memandangi angsa-angsa yang berlarian di luar rumah, lewat jendela dapur yang selalu terbuka lebar.

Lima ekor angsa yang akan mengeluarkan suara berisik ketika ada orang asing yang lewat. Mereka sama seperti seekor anjing penjaga, itu yang selalu Brus katakan dengan tangan kiri yang mengelus kepala Putti, kelinci kecil yang sering masuk ke dapur, menunggu diberi jatah makanan sisa. Putti suka makan apa saja, termasuk nasi dengan kecap plus telur dadar sisa Brus.
Suara mikser setelah itu akan terdengar. Aime akan menekan angka yang akan membuat miksernya berputar di puataran paling kencang.

“Angin berembus…”
Aime akan mendengarkan Brus bernyanyi atau bahkan membaca puisi. Brus akan bercerita juga soal lukisan-lukisanya. Lukisan yang tidak pernah lagi menyita perhatian Aime seperti dulu ketika ia mengenal Brus. Sebab Brus melukis setiap hari. Bukan hanya pada kanvas tapi pada kain polos penutup meja, tirai jendela atau bahkan penutup tipi.
“Mereka menyemarakkan pagi…”
Aime menuang terigu pelan-pelan setelah menyaringnya tadi. Setelah itu ia akan berdiri untuk mengambil karamel yang masih ada di atas kompor. Brus akan berdiri untuk menggantikan tugas Aime. Tanpa Aime meminta, Brus akan mengambil mentega cair setelah itu.
“Angsa-angsa itu….”
Aime melihat, tangan Brus sekarang bergerak. Tangannya menggerakan pensil dan membuat sketsa.
Lima ekor angsa. Persis seperti angsa yang terlihat dari jendela dapur.
Oven itu sudah diletakkan di atas kompor. Aime sudah menyalakan kompor dengan api kecil dan meletakkan oven itu.
Brus masih tidak bergerak. Biasanya ia akan membantu mengoleskan loyang dengan mentega dan sedikit taburan terigu, agar loyang itu tidak lengket.

Aime membuka pintu lemari, lalu mengambil sebuah loyang berbentuk hati.
Ini hari jadi mereka. Pada hari jadi beberapa tahun yang lalu, satu loyang karamel berbentuk hati Brus pesan pada Aime. Bolu karamel beserta taburan keju di atasnya. Brus bilang, ia ingin pahitnya karamel dipadukan dengan asinnya keju. Perpaduan yang menarik.

Tapi hari ini sejak dua tahun yang lalu, bolu karamel sudah menjadi kegiatan rutin Aime. Toko kue onlinenya mendapat respon positif setelah Aime mengunggahnya di akun social media miliknya.
“Hush….”
Aime sudah memasukkan semua adonan ke dalam loyang, lalu memasukkannnya ke dalam oven.
Suara itu nyaring. Menggiring lima ekor angsa. Perempuan berambut pirang sebatas pinggang yang senang mengenakan rok berenda.
Angsa dan gadis itu, membuat Aime merasa ia tinggal di belahan bumi yang lain. Hanya ada dua rumah saling berdampingan. Rumahnya dan rumah gadis itu. Setelah itu hanya hamparan sawah dan kebun tebu.

“Aku menemukan berlian,” itu yang Brus katakan dulu. Lima tahun yang lalu.
Sebuah berlian yang membuat Aime setuju ketika ia jual rumah mungil mereka di kota. Rumah pertama milik mereka.
Berlian itu adalah tanah di desa kecil, yang membuat Aime menangis karena ia seperti tercabut dari akarnya. Ia tidak bisa bertemu teman-temannya setiap minggu.
Brus mengenalkannya pada pompa air manual katanya akan membuat lengan Aime menjadi lebih kekar tanpa perlu fitness. Brus mengenalkan Aime pada kabut yang membuat Aime kedinginan dan sering bersin, tapi ketika jauh Aime justru merindukannya.

“Bolunya sudah jadi?” tanya Aime.
Brus memang yang lebih pintar melihat. Brus akan berdiri lalu mengambil garpu, membuka pintu oven dan akhirnya menusukkan ujung garpu itu untuk melihat apakah kue di dalam oven itu sudah sempurna matangnya atau belum.
Aime melirik. Brus tidak mendengar. Lima ekor angsa itu sempurna ada di dalam kertas di pangkuannya. Di sudut gambar, ada rok berenda yang terlihat sedikit.
“Aw…” Aime berteriak. Tangannya menyentuh bagian oven yang masih panas. Brus biasanya akan bangkit lalu mengambil jemarinya dan mengecupnya. Tapi tidak kali ini.
Brus hanya menoleh sesaat, lalu sibuk kembali dengan pensil dan kertasnya.
Aime menarik napas panjang. Ia membalik kue itu. Kue berbentuk hati. Bolu yang kesepuluh di hari ini.
**

“Hidupmu berwarna?”
Mereka memaksanya berkumpul hari ini. Lima sahabat dekat di masa kuliah dulu.
“Aime penggemar kota besar.”
Aime tersipu. Ia memang penggemar kota besar dan dulu selalu bilang, tidak akan bisa hidup di sebuah desa kecil. Sebuah desa yang jauh dari akses kota besar, bahkan ia harus memaksakan diri masuk ke dalam rumah begitu matahari tenggelam. Ia mulai menyukai kabut. Tapi tetap tidak pernah tahan dengan dinginnya.

“Aime yang tidak suka masak…”
Aime terkikik. Menikmati pertemuan dengan sahabatnya. Secangkir besar jus buah naga dan siomay yang sudah lama tidak ia rasakan.
“Semoga baik-baik saja. Brus masih setia, kan?”
Semoga baik-baik saja. Dan ia memang harus baik-baik saja. “Semoga,” ujar Aime dengan berat hati, ketika ia harus berpisah dengan teman-temannya.

Usaha onlinenya sudah harus diseriusi. Dan Aime sadar diri, ia mulai kewalahan dengan pesanan yang setiap harinya semakin banyak. Brus yang akan mengantar semua pesanan itu. Lalu Brus pulang dengan bahan untuk kue keesokan harinya, dan setumpuk kertas gambar.
Kertas gambar itu yang akan membuat Brus bertahan lama di dapur, dengan mata yang memandang ke luar. Ada banyak gambar, dari mulai daun yang gugur, sebuah gerobak, bahkan gunung di kejauhan. Dan semua gambar itu menyisakan satu gambar lain di setiap sudutnya. Ujung rok berenda.
Awalnya Aime tidak memperhatikan. Sampai ketika ia sendiri di dapur dan membuka tumpukan kertas gambar Brus.
“Kamu tidak pernah ada,” itu kalimat yang sering Aime katakan.
Dan Brus akan memandangnya dengan pandangan tidak mengerti.

**
Mereka tidak akan pindah rumah tentu saja. Aime mulai jatuh cinta. Pada pemandangan gunung Arjuna yang bisa terlihat dari tempat duduknya di ruang tamu. Lalu kabut yang turun perlahan, yang membuatnya rindu berpura-pura saling mencari dengan Brus, hingga berujung pada sebuah pelukan hangat.
“Aku mulai kesepian…”
Mereka memang tinggal berdua. Rumah di samping mereka kosong. Tidak terdengar lagi suara angsa. Aime tidak pernah tahu kapan tetangga sebelah rumahnya pindah. Mungkin pada suatu malam berhujan ketika ia terlelap karena kelelahan mengurusi pesanan bolu karamel yang semakin hari semakin banyak jumlahnya.
Brus tidak banyak bicara setelah itu. Makin jarang menggambar. Hanya masih bisa Aime temukan gambar-gambar ujung rok itu di beberapa kertas gambar yang Brus tinggalkan sebelum selesai.

Brus mengatakan ia punya rencana lain. Memindahkan toko online Aime ke kota besar. Rumah yang mereka tempati mungkin harus dijual juga.
Aime membayangkan sebuah toko kue sebenarnya, bukan lagi toko maya. Bukan sekedar bolu karamel tapi bolu-bolu lainnya. Kesepian membuat ia rajin memeloti resep kue dari smart phonenya, untuk kemudian ia coba.
Rumah itu akan dijual. Brus bilang pembelinya sudah siap dengan harga yang ia tawarkan. Aime bisa bertemu lima sahabatnya lagi. Ngobrol setiap hari. Harinya pasti akan jadi semakin berwarna.
Sebuah klakson mobil terdengar di luar pagar. Aime bergegas mematikan kompor. Kareml yang ia buat sudah ia campur dengan air hangat dan sudah ia aduk, hingga tidak ada gumpalan lagi.

“Hai…”
Aime menatapnya.
“Mbak…”
Gadis itu datang dengan celana panjang dan kaos kedomborongan. Rambutnya dikucir apa adanya. Ia bukan lagi gadis pengembala angsa seperti sebelumnya.
Aime mengajaknya masuk.
“Rumahku akan kujual…”
Brus sudah mengatakan hal itu padanya. Brus bilang, gadis itu punya pekerjaan lain di kota.
“Baik-baik saja, Mbak?” tanya itu dilanjutkan dengan tangan yang bergerak masuk ke dalam tas berwarna biru. Lalu sebuah buku dikeluarkan dari dalam tasnya. Diberikan pada Aime. Sebatang Janji. Itu tulisan yang tertera di judul.

“Aku membeli rumah ini, karena aku ingin menghayati kehidupan gadis desa pengembala angsa.”
Baru Aime lihat lebih jelas, senyumnya menghadirkan dua dekik sempurna.
“Dan itu menyenangkan… Buku ini karyaku, Mbak. Sebentar lagi, Mbak bisa lihat filmnya di bioskop. Mbak mau datang, kan, kalau aku kasih undangan pemutaran perdana film-nya?”
Aime membuka sampul buku itu. Sampai pada halaman pertama.
Sebuah pesan sembunyi untuk lelakiku, tetanggaku.
Tangan Aime bergegas membuka halaman yang lainnya lagi.
Ada aroma gula yang melelah jadi karamel. Angsa-angsa yang berteriak. Dan seorang lelaki tersenyum membawa secangkir kopi.
Aime membuka lembaran berikutnya.
Ia akan datang membawakan satu loyang bolu karamel. Lalu kami menyantapnya berdua. Saling tatap.
Sampai di situ, Aime menatap bukunya.
“Aku titip kunci rumah, ya, Mbak. Semua isinya sudah dibeli. Mungkin seminggu lagi pembelinya akan tinggal di sana.”
Aime tahu, ia kehilangan gairah ketika perempuan di depannya memeluknya.
“Salam untuk Brus…”
Salam itu mungkin hilang seperti asap yang ke luar dari knalpot mobilnya.
**

Apakah ia masih perlu bicara lagi pada Brus? Tentang semua isi dalam buku itu, yang membuat Aime menangis diam-diam.
“Aku akan selalu baik-baik saja,” ujarnya sambil mengaduk gula pasir di dalam penggorengan.
Brus di dekatnya. Menundukkan kepalanya.
“Kau sudah membacanya?”
Tidak ada reaksi dari Brus. Tapi setiap gerakan urat wajahnya, Aime hapal. Ada mata yang selalu berharap pemandangan yang sama lewat jendela dapur.
Sebuah pengakuan memang tidak pernah Brus ucapkan. Tapi penghapus yang mencoba menghapus gambar rok berenda itu, sudah jadi tanda untuk Aime. Brus menyesal.
Dan kehidupan mereka harus berjalan kembali seperti biasanya.
Brus kembali sibuk membantunya di dapur. Sebuah toko kue nyata, tidak pernah lagi jadi perbincangan mereka.
Sampai suatu hari.
Aime mendengar suara yam-ayam berkokok di pagi hari. Ia membuka jendela dapurnya. “Sapto namanya…,” Brus berteriak dari dalam kamar mandi. “Ia sudah meminta kunci rumahnya.”
Sapto namanya. Dengan ayam-ayam yang berkokok memekakkan pagi. Dan aroma dedak yang membuat Aime ingin tahu lebih dekat.
“Maaf, pagi Mbak terganggu. Ayam-ayamku selalu bertelur di pagi hari dan…”
Dan Aime tahu. Episode baru dalam hidupnya baru akan dimulai.
Aime tersenyum sendiri, kembali masuk ke dapurnya.
**