Separuh Mimpi

percikan Gadis

Aku punya separuh mimpi untuk Jey. Separuh mimpi yang aku terbangkan di dalam balon. Bukan, bukan balon betulan. Hanya balon khayalan yang aku gambar lalu pada setiap gambarnya aku beri tulisan harapanku pada Jey.
Semua harapan ada pada balon. Balon yang aku warnai dengan beraneka macam warna. Setiap malam sebelum tidur, satu balon bertambah satu.
Balon itu bisa pecah lalu hilang dimakan penghapus bisa juga aku robek ketika aku kesal dengan Jey. Jey yang tidak pernah tahu kalau aku begitu berharap dengannya. Jey yang selalu marah bila aku memandangi papanya.
“Jadi, Jey?”
Aku mengangguk pada Alina. Jadi Jey. Bukan Key atau Ley yang play boy itu. Cuma Jey.
“Kenapa bukan yang lain?”
Aku menggeleng.
Ibu juga punya separuh mimpi pada Ayah. Ibu bilang separuh mimpi itu Ibu terbangkan bersama burung-burung dara peliharaan tetangga yang setiap pagi dan sore ribut di atas genteng rumah kami. Setiap burung membawa pesan hati Ibu untuk Ayah.
“Ibu masih cinta?”
Ibu tertawa setiap kali aku bertanya. “Cinta itu memangnya apa?” tanya Ibu menepuk pipiku.
Aku sendiri tidak tahu betul apa itu cinta. Aku pernah suka, naksir terus dadaku berbunyi kencang. Tapi cuma sampai di situ.
“Takut kehilangan, takut dia pergi, takut dia tidak pernah datang lagi.” Mata Ibu memandang ke layar televisi.
Aku menganggukkan kepala. Rasa sedih, rasa kehilangan, rasa ingin dekat.
“Anak Ibu sudah beranjak besar,” ujar Ibu memelukku.
**
Separuh mimpiku memang ada pada Jey. Jey yang kurus, tinggi dan suka meledek itu. Jey yang diam-diam suka bicara pada pohon dan angin karena katanya mereka lebih mengerti perasaannya ketimbang yang lain.
Jey pasti tidak mengerti kalau aku punya balon mimpi untuknya.
“Jey…, salam dari Mia!” itu teriakan Alina pada Jey ketika kami lewat di depan rumahnya.
Ada pohon mangga tinggi tempat Jey menempatkan satu rumah pohon di atasnya, lalu ia akan bermain layangan di sana.
Setiap kali melewati depan rumah Jey, aku pasti akan menunduk.
“Jey….!”
Alina tidak paham. Bukan seperti itu caranya separuh mimpiku diberikan pada Jey.
**
Kami memang harus duduk berdua. Di depan rumah. Memandangi bulan dan bintang di malam hari.
Ibu belum menua. Ibu belum memiliki keriput. Ibu masih cantik di usia 40. Malam ini, Ibu ulang tahun.
“Apa separuh mimpi Ibu?” tanyaku memasang lilin di atas kue bertabur keju yang baru aku beli. Kue kecil untuk Ibu.
Ibu tersenyum.
“Bertemu Ayah?”
Ibu menggeleng.
Ah, Ibu mungkin sudah tidak ingin bertemu Ayah. Ayah sudah hilang sejak aku umur 2 tahun. Ibu bilang, Ibu tidak tahu kemana.
“Sudah lama Ibu tidak menitipkan pesan lewat burung dara..,” Ibu memandang lilin yang baru aku pasang. “Separuh mimpi Ibu sudah Ibu ganti.”
“Aku juga,” ujarku pelan.
“Kenapa?”
Aku mendekat pada Ibu. Memandangi wajah cantik Ibu. “Separuh mimpi Mia ditambah separuh mimpi Ibu, jadi satu mimpi.”
“Mimpi tentang apa?”
Aku sudah memikirkannya. Maka ketika Ibu bersiap meniup empat lilin ulang tahun di atas kue, aku bicara padanya.
“Ibu menikah dengan Papa Jey.”
Aku tahu pipi Ibu memerah. Aku tahu, Ibu suka mendengarnya.
**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.