Mengompol

PIC_14-04-25_10-55-25

Jadi ceritanya ada kesepakatan antara saya dan anak bungsu saya yang biasa saya panggil Adek, untuk kebiasaan mengompolnya yang membuat pusing kepala. Kalau dia tidak mengompol lagi, maka uang jajan tidak akan dipotong lagi. Dia juga akan saya ajak jalan-jalan ke Solo.
Si Adek ini usianya sudah delapan tahun. Sudah kelas empat SD. Seingat saya di usia saya yang seperti itu, saya berhenti mengompol. Suami bilang, di usia itu ia juga sudah tidak mengompol lagi.
Kalau bukan dari faktor gen, pastinya ada faktor lain yang membuat Adek ini selalu mengompol setiap malam dan membuat saya bertambah pekerjaan dengan mencuci sprei setiap hari.
Si bungsu ini memang agak aneh kebiasaannya bila dibandingkan dengan Kakak. Kakak berhenti mengompol pada usia lebih dini. Saya terbiasa tidak menggunakan popok sekali pakai untuk mereka sejak bayi. Saya biasa membangunkan setiap beberapa jam sekali untuk mereka saya antar ke kamar mandi.
Tapi yang menjadi masalah mungkin karena semakin lama umur semakin bertambah, maka seringnya ketika saya terbangun tengah malam untuk membangunkan, si Adek sudah basah dengan ompol. Kebetulan memang jadwal mengompolnya hanya pada tidur di malam hari bukan di siang hari.
Pakai perlak? Ho ho Adek ini punya karakter seperti saya. Tidak suka diberi perlak. Ibu saya sering bercerita betapa plastik tatakan ompol meski sudah ditutup berlembar-lembar kain pun akan tetap saya singkirkan. Maka Ibu relakan satu kasur untuk hancur lebur termakan ompol.
“Pakai pampers saja, Bu…,” begitu kata si Kakak memberi usul.
Popok sekali pakai itu tentu menjadi bahan pertimbangan saya juga. Terlebih ketika ke warung tetangga, saya dapati ternyata tetangga memiliki masalah yang sama. Anaknya masih memakai popok itu padahal sudah di kelas enam SD, bertubuh gemuk pula.
Saya tidak mau seperti itu. Inginnya si Adek merasakan sensasi basah dan lari ke kamar mandi.
Biasanya kan ketika kita akan mengompol, tubuh sebenarnya memberi alarm. Misal, kita akan diberi mimpi ingin buang air kecil hingga mencari-cari toilet. Kalau alarm berjalan oke, biasanya ketika toilet belum juga ditemukan, kita akan terbangun dari tidur. Tapi ketika alarm tidak berjalan oke, maka kita akan pipis di sembarang tempat. Dan itu artinya kita akan mengompol.
Sensasi basah itu yang harus si Adek dapatkan. Tentunya dengan menyadari kondisi Adek yang perempuan yang kantung kemihnya lebih cepat penuh ketimbang Kakak yang laki-laki.
Maka saya ciptakan situasi setelah ia masuk ke kamar tidur dengan sebelumnya buang air kecil terlebih dahulu, saya pinta untuk memasang alarm di otaknya. Klik, begitu bunyinya. Alarm itu akan membuat ia tidak akan mengompol. Semacam sugesti atau hypnoterapi.
Bermain imajinasi seperti itu awalnya membuat bingung. Tapi saya lihat beberapa kali ke kamar tidurnya, sebelum tidur Adek mulai menggerakan tangan di depan kepalanya dan bunyi klik.
Akhirnya seminggu sampai dua minggu saya menyaksikan kamarnya tidak lagi berbau ompol dan si Adek berteriak kesenangan karena ia tidak mengompol. Itu artinya ia akan dapat uang jajan utuh.
Dan kesepakatan kami harus dijalankan. Saya ajak ke Solo ketika liburan menggunakan kereta api bisnis malam. Adik duduk bersama Kakak sedang saya di tempat terpisah.
Kebetulan kursi kami di bagian belakang dan masih ada sisa ruang di bagian belakang kursi itu. Seorang lelaki menggelar koran dan menjadikannya tempat tidur, kursinya sendiri ada di tempat lain.
Mungkin karena terlalu letih begitu saya menggelar alas di bagian bawah, si Adek sudah langsung terlelap.
Tengah malam, saya dibangunkan oleh lelaki di belakang tempat duduk anak-anak. Ia bertanya sopan. “Bu, air Ibu ada yang tumpah?”
Feeling saya mengatakan itu bukan air. Betul ketika saya cek, air di botol masih tertutup sempurna tapi celana si Adek basah. Alas tidurnya juga basah. Dan air itu mengalir menuju koran tempat si Mas di belakang anak-anak berada.
Di antara rasa kesal pada Adek dan rasa ingin tertawa akhirnya jujur saya bilang, “Maaf, Mas. Anak saya mengompol.”
Adeeeeek.