Sebab Kau Matahari dan Aku Awan

buku novel 6

Ini sebuah cerita tentang Ayah dan Ibu, ketika sedang mesra-mesranya.
“Dari dulu, Ibu itu selalu kagum dengan ayahmu, Mir. Ayahmu itu benar-benar hebat. Dia selalu saja bisa meredam kemarahan Ibu. Makanya kita saling memberi julukan. Ayahmu memberi julukan pada Ibu, Matahari. Dan Ibu memberi julukan pada ayahmu, Angin.”
“Memang, Mir,” Ayah menyahut sambil mengelus rambut Ibu yang uban-ubannya tertutup sempurna semir rambut berwarna kecokelatan. “Biar ibumu galak, tapi Ayah sadar kalau Ayah memang harus diatur oleh orang segalak Ibu. Kamu tahu awan, Mir. Mudah tertiup angin. Sebentar bisa berubah dari putih menjadi hitam.”
Dan Miranda, anak semata wayang dari pernikahan Matahari dan Awan itu tersenyum bangga, karena memiliki orangtua yang saling menyayangi.
“Ayahmu itu, sungguh bijaksana. Sepanjang usia pernikahan Ibu dan Ayah, sama sekali Ibu tidak pernah terkena amarahnya.”
“Buat apa Ayah marah, Mir? Buang-buang energi. Lebih baik amarah Ayah disalurkan untuk hal-hal yang positif.”
Lagi-lagi Miranda merasa sangat bangga. Ia bahagia, sungguh bahagia.

**

Yang ini kisah ketika Ayah dan Ibu sedang diamuk amarah.
“Sulit, Mir. Sulit cari orang seperti ayahmu itu. Susah diberi tahu. Ibu sudah capek cerewet terus. Bisa-bisa mulut Ibu sobek hanya untuk memberi tahu ayahmu itu. Bertahun-tahun pakaian kotor digeletakkan begitu saja. Memangnya dikira ayahmu di rumah ini ada pembantu? Ibu yang cuci semua baju ayahmu dari dulu.”
“Perempuan itu jangan suka ngomel, Mir. Ikhlas, dong. Kalau sudah punya komitmen untuk melayani suami. Suami itu kan manusia juga. Kalau di rumah kena omelan terus, ya, lama-lama bisa bosan.”
“Biar saja ayahmu bosan di rumah. Memanngya yang bisa keluar rumah hanya ayahmu?”
Dan Miranda tercenung tidak hanya sesaat. Tapi ia menghabiskan malammnya dengan menangis, meratapi pertengkaran yang terjadi di depan matanya.
“Begitu itu yang namanya Matahari, Mir…,” Ayah menarik napas panjang. “Sinarnya terang terus. Kalau awannya lagi malas datang, ya, terus bersinar. Sampai pagi juga kuat, deh. Bersinar dengan omelannya.”
“Yang namanya Awan, ya, begitu itu. Plin plan. Tidak bisa dipegang. Mudah terbawa Angin. Heran, dulu kok aku bisa tertarik dengan laki-laki yang sifatnya seperti Awan begitu!”
Sungguh, Miranda tidak tahu apa yang seharusnya dilakukannya. Ia hanyalah anak semata wayang, yang tidak memiliki tempat mengadu.
**

Suatu hari, di belantara pertengkaran yang belum juga ada habisnya, datanglah Angin.
“ini sahabat Ibu, Mir. Zaman kuliah dulu. Ayahmu juga kenal. Dulu Tante Susan ini jagonya mematahkan hati para lelaki. Ayahmu dulu juga sempat kepincut dan patah hati. Kami menyebutnya Angin. Habis, yang ke luar dari mulutnya menyejukkan seperti Angin dan bisa menghancurkan para lelaki yang menaruh harapan.”
Miranda memandangi wajah yang dipanggil Tanet Susan itu. Wah, wah…, jelas beda dengan Ibu. Galaknya Ibu kelihatan jelas sekali dari garis wajahnya. Bahkan ketika Ibu mengerutkan kening sekalipun.

Tante Susan itu lain. Wajahnya selain masih kencang, juga menyejukkan ketika dipandang. Apalagi senyumnya. Matanya juga seperti ikut tersenyum ketika bibirnya mengukir senyum.
“Angin? Nanti ibumu diberi pelajaran memikat hati para cowok, lagi,” Ayah mencibir. “Sampai umur segitu dia belum nikah, Mir. Kena doanya cowok-cowok yang patah hati terkena rayuannya barangkali.”
“Alah…, Ayah kan juga pernah patah hati sama dia? Apa Ayah juga ikut andil untuk mendoakannya?”
“Buat ap[a?” Ayah melirik ke teras dari ruang tamu tempatnya duduk. “Tapi dia termasuk awet muda, lho. Bandingkan dengan ibumu.”
“Nah…., Ayah mulai main banding-bandingan, nih.” Miranda nyaris berteriak kalau tangannya tidak kena cubit lebih dulu oleh Ayah.
Dan sepanjang pengamatan Miranda siang ini, Miranda masih melihat masih ada sinar kekaguman di mata Ayah untuk Tante Susan.
**

Ini percakapan yang Miranda dengar antara Ibu dan Tante Susan.
“Susah, San. Aku biar cerewet seperti ini tetap saja susah mengendalikan suamiku. Habis diamnya itu, lho. Masa untuk segala hal, aku yang harus melakukannya? Capek. Capek sekali. Kadang kalau aku pikir, dari dulu saja aku punya karir seperti kamu. Bisa dapat uang, bisa…”
“Aku justru ingin seperti kamu. Punya keluarga. Meski muka jadi penyot karena kebanyakan marah, aku rela.”
“Masa, sih?”
“Benar. Jadi perawan tua macam aku ini capek juga, lho. Yang mendekati kalau umurnya tidak jauh lebih muda, pasti lebih tua dengan catatan suami orang.”
“Tapi…”
“Ingat, tidak? Aku ini Angin, senang bergerak ke sana kemari dan menggoyahkan. Tidak seperti kamu, tetap tegak dan garang seperti halnya Matahari.”
“Tapi kamu cantik.”
“Cantik kalau kesepian?”
“Tapi lebih enak dibandingkan aku, setiap hari dari pagi sampai malam hanya mengomel.”
“Terus kamu maunya apa?”
“Entahlah….”

**
Yang ini curhatnya Ayah pada Miranda pada suatu malam ketika mereka duduk berdua, karena Ibu ikut Tante Susan ke luar kota. Kata Ibu untuk refreshing.
“Kamu tahu seperti apa Awan itu, Nak?”
Tumben-tumbennya Ayah menyebutnya dengan sebutan Nak. Pasti ada sesuatu yang penting yang ingin Ayah ceritakan.
“Gelap. Pertanda hujan,” jawab Miranda.
Ayah mengangguk, mengelus kepala Miranda. “Lalu apa yang membuat Awan itu berubah?”
Miranda berpikir.
“Bukan Matahari. Matahari datangnya setelah Angin membawa pergi Awan,” pandangan mata Ayah menerawang.
“Maksud Ayah, apa, sih?” Miranda tidak mengerti.
Ayah sendiri hanya menarik napas dalam-dalam.
Sejak percakapan itu, tidak pernah lagi ada percakapan. Entah Miranda yang takut mendengar curahan hati yang belum sanggup ditampungnya, atau karena Ayah tidak mempercayakan segalanya pada Miranda.
Yang jelas Ibu dan Ayah berbeda sekarang.
Ibu mulai sibuk dengan bisnis jahit yang dirintisnya dari modal pinjaman dari Tante Susan. Sedang Ayah lebih sering berada di dalam kamar. Entah apa yang dilakukannya, tapi MIranda pernah memergoki Ayah sedalam melamun sambil tangannya sibuk memetik gitar di pelukannya.
**

Yang ini cerita yang terjadi setelah berbulan-bulan akhirnya Miranda sadar ada yang yang telah berubah.
“Jadi Mahatari harusnya hidup seprti ini, Mir. Tegar. Garang. Terus bersinar. Hidup Ibu jadi berubah. Untung Tante Susan itu sahabat yang baik, ya, Mir.”
Miranda hanya tersenyum. Senang melihat perubahan Ibu. Wajah Ibu juga tidak lagi kusam seperti sebelumnya. Sekarang wajah Ibu seterang matahari. Entah obat dari dokter mana yang Ibu pakai di wajahnya.”
“Fungsinya Angin, ya, begitu, ya, Mir. Menyejukkan. Dari dulu sampai sekarang yang Ibu rasakan sejak berteman dengan Tante Susan, hanyalah kesejukan.”

Dan Ayah punya cerita lain.
“Rumah ini jadi lebih menyenangkan rasanya, Mir.”
Miranda memandangi ayahnya. Pandangan mata Ayah menerawang, bibirnya mengukir senyum.
“Ayah merasa seperti Awan yang bebas lepas, bisa bergerak sesuka hati.”
“Karena Ibu tidak lagi suka mengomel?” Miranda mencoba menebak.
“Kamu ini, Mir. Yang namanya Matahari tetap saja akan garang. Tetap saja membuat gerah dan tidak menyejukkan.”
“Maksud Ayah?” Miranda meulai tidak mengerti.
Ayah tersenyum menepuk bahu Miranda.
“Apa, sih?”
Ayah masih saja tersenyum dengan pandangan mata yang menerawang.
**

Ini cerita tentang pernikahan Matahari dan Awan, yang telah menghasilkan anak semata wayang bernama Miranda.

“Ibu sudah menebak seperti ini akhirnya, Mir,” Ibu menarik napas panjang. “MUngkin memang sudah takdirnya. Rumah tangga ini selalu membutuhkan penyejuk berupa Angin.”
Selamam Miranda mendengar Aydah dan Ibu bertengkar dengan menyebut-nyebut nama Tante Susan.
“Usaha Ibu memang ditolong oleh…..,” Ibu menangis. “Ibu harus bagaimana, Mir?”
Miranda menggelengkan kepalanya.
Sedang Ayah yang Miranda hampiri di kamar memandang dengan nanar.
“Rumah tangga kami memang membutuhkan Angin, Mir. Dan penyejuk itu sudah begitu menyejukkan hati Ayah. Salahkan bila akhirnya Ayah kembali pada kenangan lama Ayah?”
“Maksud Ayah?”
“Ayah mulai jatuh cinta lagi pada Angin. Tante Susan.”
Miranda hanya tercenung. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
**