Amazing Trip, Ketika Riset Menjadi Sumber Ide

IMG-20160411-WA0000

Apa yang dipahami ketika anak-anak menulis cerita?
Saya sebagai ibu yang anak-anak saya arahkan untuk menulis, menangkap sesuatu yang jelas. Mereka berproses menangkap semua apa yang ada di sekeliling mereka, yang mereka alami, untuk jadi bagian dari ide tulisan mereka.

Amazing Trip dalam buku ini adalah kisah sekawanan sahabat yang berpergian ke Merapi naik jeep. Mereka keliling Merapi melihat banyak hal termasuk bunker.
Nah versi nyata dari kisah ini adalah ketika liburan saya ajak anak saya untuk melihat lokasi Merapi dengan naik jeep.
Pengalaman seru itu rupanya mengendap di benak Bungsu, hingga akhirnya ia tulis.

Cerita kedua tentang kacamta juga seperti itu.
Kisah nyatanya adalah tentang beberapa kacamata milik saya yang sering ia coba. Lalu karena dikelilingi oleh sepupu yang sebagian besar berkacamata, maka Bungsu semakin paham kenapa itu terjadi.
Ditulis jadi ide cerita.

Cerita ketiga Saudara Nakal Karin, ini sih sebenarnya based on true story.
Kenapa? Karena kesal dengan sepupu yang masih kecil, yang waktu itu dititipkan ke rumah. Saya tahu sebalnya karena dia tidak terbiasa dengan anak kecil. Maklum anak bungsu. Jadi tingkah sekecil apapun membuatnya heboh. Apalagi ketika sepupu, yang balita aktif itu, maunya tidur bersama dia.
Jadilah cerita yang membuat saya senyam-senyum sendiri.

Sedang cerita yang keempat, Sahabat Manusia sebenarnya juga hasil bincang-bincang dicampur imajinasi.
Karena pesanan tulisan yang dia terima adalah tentang dunia hantu, dan saya membiarkan dia memilih dengan alasan biarkan ia berproses, maka proses selanjutnya adalah membiarkan idenya berkembang.
Bungsu mencoba menulis apabila ada seorang anak manusia yang bersahabat dengan hantu.
Khas anak-anak ceritanya.

Well,
Insya Allah masih akan ada buku yang lainnya.
So far saya bersyukur bisa mendampingi proses Bungsu berkarya.
Tentunya saya juga harus terus berjuang agar proses itu benar-benar dinikmatinya.
Oh ya, dalam buku ini ada empat cerita.
Jadi Bungsu menulis satu hari satu cerita. Langsung jadi sepulang sekolah.
Jadi, ini buku yang naskahnya dalam empat hari langsung jadi. Amazing, kan?