Serunya Belajar Menulis di Kelas Inspirasi Jakarta 5

IMG-20160429-WA0000

Setahun belakangan ini, telinga saya kerap kali mendengar kalimat kelas inspirasi. Di televisi bahkan sosial media.
Penasaran? Iya, saya penasaran bingit. Penasaran sungguh-sungguh, ingin tahu rasanya kelas inspirasi itu.
Kalau program Indonesia mengajar, saya paham. Dan program itu tidak mungkin saya raih, karena saya bukan anak muda lagi. Jadi saya harus cari program lain.

Kelas Inspirasi?
Iiih, saya mau ikut. Saya terus penasaran. Ingin juga membagi ilmu untuk anak-anak lain di luar lingkaran saya. Artinya lingkaran yang lebih jauh lagi. Lingkaran yang awam sekali dengan profesi penulis. Mimpinya kelak semua berlomba bermanfaat dengan tulisannya.

Sampai akhirnya sesuatu yang pas itu terjadi pada saat yang tepat. Dan saat yang tepat itu bukan tergantung maunya kita. Tapi tergantung maunya Allah. Allah juga mau melihat kesungguhan kita.

Jadi ceritanya saya melihat seseorang membagikan poster dibuka kesempatan di kelas inspirasi untuk mengajar pada tanggal dua Mei, di hari pendidikan. Mereka membutuhkan penulis buku. Gayung bersambut. Pengumuman itu saya baca satu hari sebelum kesempatan ditutup.
Saya isi form yang dibutuhkan. Pengalaman saya, misi saya, bagaimana nanti saya mengajar di kelas dan beberapa hal lainnya.
Seminggu kemudian ada pengumuman saya diterima.
Senang.
Senang pastinya. Tapiiii.

Konsekwensinya Berat

Saya terpilih.
Senang, tapi juga bingung. Bingungnya apa?
Pemberitahuan terpilih diikuti dengan pemberitahuan briefing di hari Minggu. Waduh. Jarak briefing itu cukup jauh. Ih saya agak ribet kalau waktu untuk keluarga di weekend harus dipakai untuk ke luar. Kasihan anak-anak. Pas hari H, saya tidak ikut briefing karena sedikit tidak enak badan.

Lalu setelah briefing group dipecah. Saya ditempatkan di Marunda kelompok 54. Langsung dimasukkan ke dalam group WA. Dan langsung kaget. Anak-anak mudanya bergerak cepat, wusss, wuss seperti angin ribut. Dalam sehari chatingan bisa sampai 250. Dari hanya sekedar chit and chat sampai ngomong serius.
Ibu-ibu macam saya kaget. Minderlah. Karena merasa tidak berguna. Mulai mengukur usia juga dan ketidaknyamanan.
Maju atau mundur?
Itu yang ada di pikiran saya.
Apalagi setelah itu ada pertemuan lagi dan saya tidak bisa ikut, karena jadwalnya bersmaan dengan saya ada acara meeting juga.
Okelah, saya harus realistis.
Pas merasa putus asa itu, ketua kelompok japri. Lalu saya bilang keputusan akan mundur di group. Belum bisa juga kasih lesson planner untuk mengajar. Gak enak hati juga karena tidak ikut nimbrung di obrolan group. Pak ketua bilang, tidak masalah. Tapi jangan mundur.

Okelah, lesson planner akhirnya saya buat.
Saya tidak jadi mundur.
Hanya saya kerap berdoa. Agar semuanya dimudahkan. Suami dan anak-anak besar hati dengan pilihan saya. Berdoa juga suami pada hari H tidak ada meeting dadakan atau ke luar kota dadakan.
Saya juga menghimpun keyakinan penuh, kalau saya pasti bisa. Usia bukan masalah, karena saya punya energi lebih dan ilmu lebih untuk dibagi.

Lalu tiga hari sebelum hari H, saya fokus membuat materi mengajar. Saya ingin sesuatu yang membuat kehadiran saya melekat. Anak-anak bisa paham dunia menulis dan bisa bilang bahwa menulis itu mudah dan mereka bisa.
Tiga hari saya kotak-katik cara apa yang tepat.
Sampai akhirnya menemukan format buku. Membagi buku-buku itu sesuai dengan kelasnya. Anak kelas satu mendapat materi lebih mudah untuk dipraktikkan. Anak kelas enam beda lagi.

Akhirnya…, Yesss!!!

IMG-20160502-WA0008

IMG-20160502-WA0012

Akhirnya hari H pun tiba.
Semua bahan sudah siap. Keyakin sudah full sampai di puncak. Anak-anak dan suami mendukung. Satu hari sebelum hari H, suami demam. Saya panggilkan tukang pijat langganan. Saya memaksakan diri untuk tidur, agar besok badan sehat. Meskipun kenyataannya tidak bisa tidur lelap. Sebentar-sebentar melihat ke jam. Alarm saya setel jam setengah tiga. Tapi jam dua saya sudah terbangun.

Mandi, tahajud, baca Al Quran. Sambil berdoa agar suami bisa membaik dan bisa mengantar saya ke satu titik, tempat perjanjian dengan teman-teman relawan.
Saya masak nasi sambil pesan pada suami, bekal untuk dibawa anak-anak ke sekolah dan untuk sarapan.
Jam setengah empat, saya diantar suami ke halte Living Plaza di Bekasi. Perjalanan lumayan jauh dari rumah saya di ujung Bekasi. Jalanan masih sepi. Anginnya langsung masuk ke tulang-tulang rasanya.

Tapi bertemu dengan sesama relawan, para ibu dengan profesinya masing-masing yang juga berjuang untuk berbagi, membuat semangat saya naik. Kami ke Marunda naik mobil teman dengan jalan yang masih gelap. Sampai di sana jam setengah lima. Subuh. Masih gelap. Pintu gerbang sekolah masih tutup. Saya harus shalat Subuh. Maka kami mencari masjid.

Setelah itu kami kembali sekolah. Sesuai perjanjian, satu persatu relawan datang di jam setengah enam. Kami mulai perkenalan. Tidak hapal semuanya. Tapi senang karena ada di group yang hangat.
Lalu kami masuk ruangan yang sudah disediakan sekolah untuk base camp kami. Sarapan roti dan air putih. Dari sekolah menyediakan teh hangat.
Lalu semua prosedur pengajaran didiskusikan lagi. Termasuk menempel jadwal-jadwal mengajar setiap inspirator. Karena sekolah hari ini , di hari pendidikan 2 Mai, khusus diisi inspirator.

Upacara diadakan sekolah. Seusai upacara penaikan bendera, kami para inspirator satu-persatu memperkenalkan diri dan profesi. Maklum, anak-anak banyak yang paham profesi hanya itu itu saja. Kami yang datang dari berbagai macam profesi ingin mengembangkan mimpi anak-anak lebih luas lagi. Mereka bisa jadi apa saja, sesuai bakat mereka.
Sekolah juga memberikan kami hadiah hiburan anak-anak mereka yang juara menari. Ada tiga tarian yaitu, Saman, Dinding ba dinding dan tari Pitung.
Lalu it’s time to goooo!
Saya dapat jam pelajaran ke dua, di jam delapan untuk mengajar kelas satu. Cari mushola biar tenang. Dhuha dulu biar Allah beri tenaga ekstra dan juga melancarkan semuanya.

Waktunya mengajar.
Oh ya, di kelas inspirasi ada beberapa orang yang menjadi dokumenter. Jadi selain membuat foto profile para pengajar, mereka juga membuat video profile. Dan mereka masuk ke setiap kelas untuk mengabadikan moment mengajar para relawan alias inspirator.
Beberapa fasilisator membawa kertas berwarna merah. Jadi mereka mengingatkan para inspirator tinggal berapa menit lagi waktunya di kelas. Kertas itu bertuliskan 10 minutes to go. Atau 5 minutes to go. Jadi relawan tahu tinggal berapa menit lagi waktu mengajarnya. Takutnya keasyikan mengajar jadi lupa ke luar kelas. Atau ketika seusai mengajar tapi waktu cukup panjang, relawan kan jadi bisa putar otak untuk melakukan hal lain sepanjang anak-anak tetap semangat.
Kebetulan banyak anak-anak yang tidak paham ada profesi bernama penulis cerita. Saya sempitkan menjadi penulis cerita saja biar mereka semangat. Saya tidak mungkin jelaskan kalau saya menulis di media cetak, juga blog. Cukup perkenalkan diri sebagai penulis buku cerita. Lalu tunjukkan buku karya saya. Setelah itu anak-anak heboh. Lalu mereka semangat belajar menulis cerita.
Mereka menulisnya gimana? Saya buatkan buku untuk mereka. Seperti di bawah ini.

IMG-20160430-WA0006

Buku ini membuat anak-anak bisa belajar membuat cerita dengan cara sederhana dan mudah.
Mereka juga jadi merasa bahwa seorang yang buku-bukunya ada di toko buku, ternyata sosoknya nyata. Bukan makhlus halus. Hiiii.

Dari kelas satu jam delapan lebih, saya berlanjut ke Kelas 6, berlanjut ke kelas 5. Lalu tarik napas panjang untuk istirahat makan siang dan shalat zuhur. Beberapa kelas ada di lantai tiga. Itu artinya energi ibu-ibu mulai tapi pasti merasakan faktor U yang tidak selincah dulu.
Setelah istirahat berlanjut ke kelas 4 dan kelas 3.
Ada banyak tingkah laku anak-anak yang membuat terharu.
Termasuk mereka tanya berapa harga buku saya kalau dijual di toko buku? Mereka mau minta orangtua memberikan buku pada mereka.
Dan semakin siang saya justru bersemangat dan bisa mencari celah mengajar. Di kelas terakhir bahkan anka-anak berkerumun. Tanya apakah boleh berkunjung ke rumah saya.

Ah…, saya bahagia.
Sungguh bahagia.
Meski perjalanan pulang dilanda capek. Turun di satu titik, naik ojek dan sambung angkutan umum lagi, lalu dijemput suami di satu titik.
Anak-anak menunggu cerita saya.

Ini bukan langkah terakhir.
Saya akan terus berjuang untuk berbagi ilmu.
Usia tua?
Lupakan.
Sepanjang Allah masih memberi semangat untuk berbagi, disitulah bilangan usia hanya tinggal angka saja.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.