Ranting Kesepuluh

Taman fiksi


Please, release me let me go,
Cause I don’t love you anymore….

Lalu sekian menit lagi, Jun akan sampai. Pada sebuah ranting, di mana akan ia letakkan semua bahan yang diperlukan.
Pada ranting kesepuluh, akan ia letakkan beberapa biji keluak bersama dengan bumbu dapur yang lain.
Jun memandang berkeliling.
Hamparan tanah kosong dekat sebuah rumah. Tanpa tumbuhan besar lain. Tapi rumpun serai tumbuh sempurna di pinggiran lahan itu.
“Rawon. Aku mau masak rawon…”
Ibu akan meminta Jun membawakan apa saja. Bumbu rawon, bumbu pecel dan bahan masakan lainnya. Lalu seperti dulu, beliau akan mengajak Jun duduk di depan cobek besar, yang katanya berasal dari batu-batu gunung. Jun ingat cobek itu pernah ia jadikan tempat duduk dan sebuah sabetan berkali-kali mengenai paha kecilnya.
“Kue sus atau apa yang kamu mau makan, Le?”
Jun menarik napas panjang.
Pada ranting kesepuluh, Jun pernah hampir jatuh ketika mengambil sesuatu di sana. “Jangan ambil yang bukan hakmu,” begitu yang Ibu katakan. Maka ranting-ranting lain, tempat di mana sesuatu yang Ibu berikan untuk semua saudaranya, tidak pernah Jun sentuh, apa lagi berniat melongoknya. Atau mengambilnya.
Ranting kesepuluh, pada sebuah pohon mangga yang hampir mati. Pohon mangga di depan rumah yang daun-daunnya sudah luruh sempurna. Ranting kesepuluh itu ada di bagian tengah.
Ada bale-bale bambu di bawah pohon itu yang membuat Jun harus naik ke atasnya, dan meletakkan satu tas plastik pada ranting kesepuluh.
“Setiap ranting untuk satu cinta…”
Setiap ranting untuk satu anak, satu cinta. Biar utuh setiap cinta dibagi, begitu yang Ibu selalu katakan. Tapi cinta itu tidak terbalas sempurna.
Jun mendapati ranting kesepuluh. Ranting yang cukup tinggi ketika Jun meraihnya. Tapi Jun bersyukur, karena tempatnya tinggi itu, selalu ada ikatan yang membuat ia berusaha untuk mencapainya.
Sekarang, kaki Jun yang bersepatu kets, sudah membawanya ke depan rumah itu. Tidak ada aroma bumbu masakan yang sudah diolah.
“Bu….”
**
Margie mengusap matanya. Ia berkedip berkali-kali.
Lagu-lagu lawas berkumandang dari dalam ruang tamu. Bahkan lagu itu tidak boleh diganti. Lagu masa kejayaan dahulu, ketika beliau sering menyanyi di panggung.
Margie selalu berdesis pelan, ingin menggantikan suara kaset yang mengalun dengan lagu yang sama semenjak pagi tadi.
“Aku mau rawon….,” suara tua itu memecah keheningan.
Tidak ada biji keluak di sini. Tukang sayur sudah ia pesani, tapi menggeleng. Dan itu artinya ia harus menuju tempat yang lebih jauh lagi.
“Cuma mau itu…”
Sepiring nasi, dengan sayur bayam tidak tersentuh. Bahkan mata itu tidak menatapnya.
“Kamu siapa?” tanyanya pada Margie.
Sekarang mata Margie berkedip lagi.
Menunggu Jun mungkin tidak akan pernah usai.
**

Lalu pada ranting kesepuluh Jun akan menyiapkan banyak hal selain bumbu masakan yang dipesan.
“Rawon itu pakai daging sandung lamur…”
Jun memandangi ranting kesepuluh. Matanya berkedip-kedip. Ibu akan naik ke atas bale bambu lalu mengambil tas itu. Kadang Ibu menggeleng, ketika bahan yang Jun bawa tidak komplit.
Pada ranting kesepuluh semua kenangan sempurna Jun dapatkan. Terlebih ketika ranting-ranting yang lain perlahan kering dan lepas dari tangkainya. Sembilan kakak pergi setelah menikah.
Tidak ada perpisahan. Tidak ada pertemuan kembali. Mereka hilang, meninggalkan Jun dan Ibu dalam kesunyian.
“Bu…”
Jun harus menarik napas berkali-kali. Membayangkan aroma sambal terasi yang biasa Ibu buat, untuk menemani rawon buatan Ibu, sungguh membuat perut Jun merasa lapar.
**
Margie tidak akan hadir sebagai siapa-siapa. Ia hanya hadir sebagai sebuah pelengkap. Tidak lebih dari itu.
Daun jeruk, serai dan lengkuas sudah Margie cuci.
Beberapa butir bawang merah dan bawang putih sudah bersih dari kulitnya. Teronggok di dalam wadah bercampur dengan kemiri juga daun salam.
Please release me let me go…
Kepala Margie menggeleng beberapa kali.
Beberapa butir biji keluak, akan membuat air kuah itu menjadi hitam. Kepala Margie menggeleng lagi beberapa kali.
Sebuah air kuah yang hitam. Seperti aliran selokan di depan rumahnya. Setiap hujan air itu meluap masuk ke dalam rumah. Menyisakan bermacam-macam omelan yang tidak berhenti.
Margie pernah masuk ke dalam selokan yang hitam itu, ketika meminta uang jajan, dan Ibu baru saja kena tempeleng Bapak yang baru kena pecat pabrik tempatnya kerja.
Perih itu selalu terasa.
Let it go…
Let it go….

Margie bergumam beberapa kali. Mengikuti kalimat yang sering ke luar dari mulut Mbak Yos, penjaga toko CD di pasar. Matanya memandang ke luar. Ada cobek besar di hadapannya. Ia sudah memasukkan cabai merah dan garam di sana.
“Aku mau yang lain….”
Ia selalu mau yang lain. Yang lain itu bukan masakan darinya.
Kelopak mata Margie mulai berair. Biji keluak akhirnya ia dapatkan tadi, setelah membongkar isi lemari di dapur. Ada tiga simpanan biji keluak di sana. Margie mengguncang-guncang biji keluak itu untuk mengetahui apakah isinya masih padat atau tidak. Lalu ia mengambil palu dan memukul agar kulit biji itu terbuka. Sebuah air mendidih sudah ia siapkan untuk merendam biji itu. Margie sudah bersiap menggunakan sarung tangan, agar warna hitam ketika biji itu dikupas, tidak menodai kulit tangannya.
**
Jun berhenti.
Seorang kedengaran memanggil namanya. Ia urungkan niatnya melangkah masuk ke dalam ruangan yang pintunya terbuka lebar.
Kepalanya menoleh.
Ranting kesepuluh itu masih tersisa. Sebuah tas plastik hitam ada di sana. Jun tersenyum sendiri.
“Bu..,” kali ini suaranya mulai ke luar. “Aku pulang….”
**
Jun memang selalu pulang. Margie mengedipkan kelopak matanya. Lalu nanti mereka berkumpul bersama.
Jun sebelumnya akan naik ke atas bale-bale lalu mengambil plastik hitam yang tergantung di sana. Margie yang sengaja menaruhnya di sana. Ia mengisi dengan apa saja. Dan Jun selalu membayangkan bahwa yang di dalam tas itu adalah semua bahan untuk diolah, yang bisa membuat senyum perempuan tua itu merekah sempurna.
Aroma kuah rawon membuat Margie harus berlari cepat ke belakang. Ia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa kuah rawon itu berwarna kuning bukan hitam. Ia harus memaksa dirinya sendiri, membuat ia seolah menjadi buta warna, agar ingatan akan hitamnya masa lalunya tidak membuat ia mual dan ingin muntah.
Lalu ia akan mendorong pintu. Masuk ke sebuah ruangan. Sendiri meratapi nasibnya.
Jun dan ibunya akan saling tersenyum. Bicara entah apa yang mereka bicarakan. Tidak. Mereka berkumpul tapi tidak pernah terlontar pertanyaan untuknya, apakah ia baik-baik saja selama ditinggal?
Please…, release me let me go…
Cause I don’t love you anymore
To waste a life will be sin

Kali ini kaset itu mengulang lagu dari awal.
Margie terbatuk.
Sebuah kenangan menari-nari di benaknya. Tentang ranting kesepuluh. Pada ranting di depan sebuah rumah ia menemukan cinta. Ketika itu layangan yang ia mainkan tersangkut di sana.
“Hai…”
Anak lelaki kecil itu tersenyum pada Margie. Lalu naik ke atas pohon, mengambil layang-layangnya.
“Aku, Jun…”
Margie mengerti. “Aku Margie.”
Namanya Jun. Tinggal berdua dengan ibunya.
“Kamu mau ikut makan?”
Margie melongok. Di rumah ia kekurangan makan. Bapak sering pergi dan tidak meninggalkan uang untuk Ibu. Ibu sering berteriak, mengamuk setiap kali ia bilang lapar, lalu akan mendorong tubuhnya ke dalam selokan hitam.
Ia harus menolong dirinya sendiri, sebab semua tidak ada yang bisa membantu.
“Ayo masuk…”
Margie masuk ke dalam.
“Makan di sini…”
Seorang perempuan separuh baya tersenyum padanya. Menyuguhkan banyak makanan.
“Ibuku pintar menyanyi dan suka terima pesanan makanan…”
Ibu Jun suka terima pesanan makanan. Dari kue basah hingga kue kering. Dari sayur yang bahannya mudah didapat hingga sayur yang bahannya sulit didapat.
Jun selalu makan apa yang tidak pernah Margie makan. Dan rawon adalah menu yang selalu ada hampir setiap hari di meja makan itu.
Margie bahagia setiap kali berada di sana. Ia tumbuh, berkembang lalu memiliki mimpi di sana. Meskipun mimpi itu kadang membuatnya teriris karena ia tak punya jari jemari yang bagus untuk membuat racikan yang pas di mulut tua itu.
Lalu ia dan Jun akrab dan jatuh cinta. Lalu Margie merasa ia mulai bisa melihat masa depan bersama Jun. Lalu Ibu dan Bapak memang dengan sukarela melepasnya pergi agar hilang tanggung jawab mereka sebagai orangtua.
“Menikahlah denganku…”
Apakah ada lelaki lain sebaik Jun? Lelaki yang tidak pernah menempeleng kepalanya seperti Bapak menempelengnya.
Margie mengangguk. Mereka menikah. Ia bisa melanjutkan sekolah. Ia punya dunia yang bahagia. Meski hanya sejenak ia rasakan.
**
Please release me let me go….
Margie menyaksikan Jun mendorong pintu rumah.
“Bu…”
“Yo, Le….”
Margie menarik napas panjang di sudut sana.
Dua orang yang sudah sempurna hidup tanpanya. Yang satu memasuki usia senja, pikun, dan tidak pernah paham kalau ia adalah seorang menantunya. Seorang lagi lelaki muda. Dokter bilang ingatannya memudar bersama bertambahnya waktu. Sebuah benturan membuat bagian otak Jun, mengalami trauma.
“Bu…
“Yo, Le…”
Rawon buatan Margie nanti, menjadi pengingat yang merekatkan mereka berdua. Margie sadar, sesungguhnya ia tidak pernah ada.
And please release me let me go

Margie tahu ia harus segera memutuskan. Bertahan atau memutuskan pergi dari pengorbanan ini.
**