Memecah Kepribadian

lagi lagi

Memiliki dua kepribadian seperti halnya Mr Jekyl dan Mr Hyde tentunya menjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Apalagi bila kepribadian itu terpecah hingga lebih dari dua hingga 16 seperti halnya kisah Sybil yang cukup fenomenal.
Cerita tentang pecah kepribadian itu tentunya menjadi sesuatu yang unik. Dan sesuatu yang unik itu tentu saja menarik untuk dicoba.
Lalu untuk apa percobaan memecah kepribadian seperti itu?
Suatu hari, ketika saya merasa anak-anak mulai monoton dengan pelajaran Bahasa Inggris yang saya ajarkan, tiba-tiba ingin melakukan hal yang aneh dengan mencoba menjadi pribadi lain itu muncul begitu saja.
“I am Norah…,” kata saya. Tanpa buku pelajaran. Tanpa mereka sadar saya sedang menyiapkan mereka belajar.
“Norah likes ice cream. My Ma and Pa from England.”
Awal mulanya anak-anak tertawa. Lalu berkata “Ibu aneh.”
Saya terus bicara dengan intonasi suara yang berbeda. Juga gerak tubuh yang berbeda akhirnya mereka saling pandang dan mulai bertanya. Dalam bahasa sehari-hari.
“Sorry. Norah from England. Norah only speak English.”
Anak-anak melotot. Mereka rupanya mulai sadar sedang dijebak dalam sebuah metode belajar yang baru.
“Speak English with Norah,” saya memperjelas.
Tentu saja ini adalah permainan kreatif. Menjadi pribadi yang lain itu artinya saya bertingkah laku berbeda. Saya melakukan sesuatu yang mungkin saja terlihat konyol. Saya menari, saya berjoged. Dan di tengah-tengah yang saya lakukan saya tetap berbicara dalam Bahasa Inggris.
Lalu pelototan anak-anak berubah menjadi senyum.
“Ibu not Norah,” kata Bilqis yang bungsu.
“You are a liar,” kata Attar. “You Ibu.”
“No. I am Norah. Norah from England. My Pa and my Ma from England too.”

Menjadi Norah yang berbahasa Inggris bukan berarti anak-anak lantas harus bicara dengan Bahasa Inggris yang benar. Justru niat saya adalah mereka berani mengungkapkan apa yang mereka tahu yang selama ini mereka simpan saja dalam otak menjadi sebuah percakapan aktif.
“What is itch?” tanya Bilqis. Ketika saya mengingatkan tentang kata itu,
“Itch means when the mosquito bite you, you want to scratch,” saya memeragakan ketika menggaruk tangan dengan semangat. Juga membuka mulut saya lebar-lebar untuk mengenalkan kata menggigit (bite) Ketika menyebut mosquito tangan saya bergerak seperti sayap.
“Garuk-garuk?”
“No. Itch means…”
Attar dan Bilqis saling berpandangan.
“Gatal…,” akhirnya mereka berdua menjawab berbarengan.
Saya bertepuk tangan.
Lalu kami mulai bermain tebakan dalam Bahasa Inggris. Dari mulai tebak kata hingga tebak arti kalimat yang saya ucapkan hingga waktu pun tidak terasa sudah dua jam.
“Norah, I am tired,” ujar Bilqis.
“Norah, I want to watch television.” Attar mulai bicara.
Saya tersenyum.
Ada banyak jalan yang harus ditempuh untuk membuat anak merasa nyaman belajar. Meskipun semenjak permainan memecah kepribadian itu, anak-anak suka bertanya. “Ini lagi jadi Ibu apa jadi Norah?”

**