Mungkin Aku Patah Hati

1175652_10151683896853591_726067151_n

Mungkin aku patah hati. Sebab Bayu bilang orang yang patah hati akan merenung terus lalu air mata akan turun terus.
Bisa jadi aku patah hati seperti yang Bayu katakan, bahwa orang yang patah hati akan melihat segalanya serba muram.
Aku mulai tidak suka lagu-lagu riang. Aku mulai tidak suka warna-warna pink. Aku lebih suka warna hitam juga coklat.
Mungkin aku patah hati, sebab menurut Bayu aku tidak lagi enak diajak bicara. Aku membuatnya bete. Aku juga membuatnya tidak bisa lagi menyanyikan lagu dengan gitarnya.
“Kamu konyol kalau sedang patah hati…”
Aku bisa jadi konyol. Aku malas bercermin sebab jerawatku tumbuh semakin banyak. Aku malas melakukan apa pun juga. Itu yang membuat Mama menjadi sering marah padaku. Aku bahkan malas sekolah.
“Kamu benar patah hati, kan?” kejar Bayu sok ingin tahu.
Aku meringis.
“Kasih tahu dong. Cerita…”
Cuma pada Bayu aku sering cerita. Tepatnya cerita bukan berbagi rahasia. Rahasia apa yang aku punya bila setiap hari Bayu dan aku selalu bersama. Kami sejak kecil tumbuh bersama. Rumahnya ada di samping rumahku. Bahkan aku tahu meski Bayu tidak cerita, cewek seperti apa yang Bayu taksir.
“Kamu konyol…”
Aku diam saja.
Apa Bayu akan mengerti kalau aku cerita?
**
“Apa benar kamu patah hati?” tanya Mama menghidangkan pizza yang baru keluar dari oven. Pizza buatan Mama dengan isi sosis, jamur plus jagung manis dan keju. Kata Mama, aku butuh kekuatan penuh jika patah hati. Dan pizza buatan Mama akan membuat patah hatiku sedikit hilang.
“Mama cuma menebak sih…”
Aku nyengir.
Aku patah hati?
Bisa jadi kalau patah hati artinya kecewa, aku sedang kecewa. Tapi patah hati yang Mama maksud pasti bukan seperti yang aku maksud?
“Bayu naksir Tere dan kamu merasa patah hati karena selama ini sebenarnya kamu suka dengan Bayu, kan?”
Pizza itu merah di bagian tengah. Bukan karena saus botolan. Mama membuatnya dari saus untuk spaghetti yang Mama campur dengan bawang bombai dan tomat cincang.
“Mama dulu pernah lho patah hati. Waktu naksir Papa kamu terus Papa kamu malah naksir yang lain?”
“Terus?” sepotong pizza sudah masuk ke mulutku. Enak.
“Terus ternyata patah hati Mama salah. Papa kamu yang Mama kira tadinya jatuh cinta sama cewek lain ternyata cuma pura-pura bikin Mama patah hati. Bayu juga begitu…”
Aku mengambil pizza lagi.
Ini bukan masalah Bayu.
Ini masalah yang lebih penting dari Bayu. Lebih hebat dari Bayu. Kenapa tidak ada orang lain yang mengerti.
**
Mungkin aku patah hati.
Menurut buku yang Bayu pinjamkan padaku, patah hati itu terjadi ketika kita mulai merasakan jatuh cinta. Perasaan suka berlebih pada orang lain. Rasa suka itu bisa membuat kita senyum sendiri.
Menurut buku itu juga, rasa patah hati bisa terjadi bila orang yang kita cintai tidak memberiku balasan cinta yang kita harapkan.
Aku tersenyum sendiri.
Bisa jadi aku patah hati seperti yang Bayu bilang. Atau Mama katakan. Patah hati itu yang membuat Bayu jadi salting dan merasa bersalah lalu pura-pura menjauh dari Lulu yang ia cintai.
Patah hati itu juga yang mungkin membuat Mama rajin membuatkan makanan kesukaanku.
Jadi aku patah hati?
Mungkin.
Tapi sungguh bukan dengan Bayu seperti yang Mama pikirkan.
Tapi dengan sesuatu.
Sesuatu itu bernama baju biru yang kemarin aku lihat di toko baju dan sekarang sudah tidak ada lagi karena sudah dibeli oleh orang lain. Padahal berhari-hari aku menabung uang jajanku untuk membeli baju itu.
Jadi, menurut kalian, aku sebenarnya patah hati atau sekedar kecewa?
**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.