Princess yang Sebenarnya

Princess yang sebenarnya

Gambar Princess itu ada di kamar Bilqis. Dari Princess Cinderella sampai Princess Jasmine. Ayah membelikan wall paper untuk ditempel di kamar Bilqis yang dindingnya berwarna merah muda.
“Aku mau beli baju seperti Princess Elsa…,” Bilqis melongok ke luar kamar. “Beliin ya, Bu?”
Ibu memotong sayuran sambil tersenyum. “Boleh asal…”
“Asal apa?” kali ini Bilqis mendekat.
“Asal mau jadi Princess yang sebenarnya.”
Bilqis tidak mengerti. Tapi matanya memandangi dinding kamarnya.
Princess sebenarnya? Bilqis masih juga tidak mengerti. Tapi Ibu tadi menyuruhnya mencuci sayuran yang sudah Ibu potong.
“Princess sebenarnya sama seperti ksatria sebenarnya,” Attar melompat dari atas tempat tidur. “Awas ada kecoak…,” Ia mengambil sapu dan menjauhkan kecoak yang akan naik ke kaki Bilqis dengan cepat. “Ibu bilang Ksatria sebenarnya, mau menjaga adiknya.”
Bilqis melihat dinding kamar kakaknya. Ada gambar Spiderman dan Naruto di sana.
“Kalau jadi Princess sebenarnya…”
Kali ini Attar garuk-garuk kepala. Lalu akhirnya ia menggeleng. “Aku cuma tanya sama Ibu waktu aku mau ngumpulin komik Naruto. Ibu bilang, boleh, asal aku jadi ksatria yang sebenarnya.”
Bilqis mendengarkan.
Malamnya sebelum tidur, Bilqis membuka semua buku koleksinya. Buku cerita tentang Princess.
Princess Cinderella waktu masih menjadi upik abu, dan sedang memegang sapu membersihkan sarang laba-laba di kamarnya. Putri Salju yang juga sedang menyapu rumah tujuh orang kerdil yang ia temui di hutan.
Semakin semangat Bilqis membuka buku ceritanya. Ada Rapunzel di menara yang juga rajin bersih-bersih.
Sapu, bersih-bersih dan…..
Sekarang Bilqis melihat kamarnya. Spreinya kotor. Kemarin Ibu bilang ganti sprei dan taruh sprei kotor di mesin cuci, tapi Bilqis malas melakukannya.
Lihat meja belajarnya. Aduh…., banyak debu. Sampai fotonya juga penuh debu.
Princess yang sebenarnya itu artinya…
“Cari apa?”
Bilqis tersenyum pada Ibu. Di tangannya ada sapu.
“Sudah malam. Mau bersih-bersih kamar?”
Wajah Bilqis memerah. “Tidak apa-apa, kan?”
Ibu mengangguk. “Habis itu tidur, ya.”
Bilqis mengangguk.
**
Gambar Princess di dalam kamar itu Bilqis pandangi. Sudah seminggu ini Bilqis rajin bersih-bersih rumahnya.
Kamarnya juga sudah bersih. Sprei sudah diganti dengan yang bersih dan meja juga sudah tidak ada debu.
Ada sepiring kue coklat dari Ibu dan kado di samping piring itu.
Bungkusan itu dibuka. Dan….mata Bilqis terbuka lebar. Baju seperti Princess Elsa yang ia inginkan. Baju warna biru.
Bilqis sekarang berlari ke arah dapur dan langsung memeluk Ibu yang sedang berjongkok mengiris sayuran. “Terima kasih, Bu.”
Ibu tersenyum. “Kamu suka?”
Bilqis mengangguk. “Aku sudah jadi seperti princess sekarang?”
Ibu mengangguk. “Princess sebenarnya. Rajin dan baik hati.”
Bilqis tersenyum lebar. Ia berjanji akan terus menjadi princess yang sebenarnya.
**